Millennial asal Pemalang, Jawa Tengah menggunakan teknologi bioakustik untuk konservasi Owa Jawa yang masih jarang dipakai di Indonesia.

Hutan berperan bagi kehidupan manusia maupun flora fauna, termasuk lingkungan. Keberadaan mereka dalam menjaga keanekaragaman hayati berdampak positif terhadap jasa lingkungan yang bermanfaat untuk masyarakat di sekitar hutan.

Sayangnya, aksi deforestasi masih terjadi. Salah satunya di hutan hujan tropis Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah. Hutan milik Perum Perhutani tersebut berstatus diluar kawasan konservasi sehingga tingkat keterancaman flora dan faunanya cukup tinggi. Salah satunya adalah satwa endemik Owa Jawa.

Peneliti muda, Nur Aoliya menggunakan teknologi Bioakustik untuk konservasi Owa Jawa di hutan tersebut, sehingga keberadaannya tidak punah. Bioakustik yang ia pakai cukup efektif dan efisien ditengah cepatnya ancaman hutan dan keterbatasan sumber daya manusia untuk pelestarian alam.

Dengan suara, misalnya kita pakai alat, kita bisa menghitung, alat ini bisa merekam seberapa luas daerah nya, dari situ kita bisa melihat variasi individu (Owa Jawa) dan bisa memperkirakan ini berapa kelompok

Nur AOliYa, Peneliti Owa Jawa

Penggunaan bioakustik untuk konservasi sedang berkembang dengan cepat, memungkinkan para ilmuwan untuk mengumpulkan data di area yang lebih luas di lingkungan yang semakin menantang, dan mengamati satwa liar secara non-invasif, tanpa gangguan

Wendy M. Erb, Pakar Teknologi Observasi satwa Liar, Pusat Konservasi Bioakustik, Universitas Cornell, Amerika Serikat

*Liputan ini pertama kali terbit dalam bentuk podcast di IDN Times pada tanggal 17 Agustus 2021.

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.