Posted inWawancara / Sumber daya

Ir. Jaka Widada: Pendekatan food estate idealnya transdisiplin dan tidak linear

Di Indonesia, ketahanan pangan ingin dijawab dengan mega proyek food estate, yang terbukti mulai sengkarut dan berpeluang mengulang kegagalan. Ir. Jaka Widada, Dekan Faperta UGM, melihat ada yang salah dalam tata kelola proyek ini.

Kebutuhan akan pangan adalah esensial bagi manusia. Tanpa pangan manusia sulit untuk bertahan hidup. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memprediksi dunia akan kelaparan pada 2050, sebabnya jumlah penduduk Bumi mulai meningkat. Selain itu, eksploitasi hutan semakin masif, sementara kesadaran pemerintah berbagai negara akan pentingnya pangan berkelanjutan masih terbilang minim.

Presiden RI Joko Widodo juga menyadari bahwa Indonesia berada dalam ancaman ketahanan pangan. Sebagai jawaban atas ancaman itu, pemerintah Indonesia membangun embung skala besar dan proyek raksasa “food estate“. Sayangnya, meruap kabar daerah proyek food estate alami kegagalan panen. Hasilnya belum dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Pemerhati menilai ada salah tata kelola dalam pembuatan food estate di Indonesia. 

Untuk mengetahui bagaimana kondisi pangan di Indonesia dan mitigasi apa saja yang harus diperhatikan. The Society of Indonesiaan Environmental Journalist (SIEJ) melakukan wawancara dengan ahli pertanian dan pangan, sekaligus Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Gadjah Mada, Ir. Jaka Widada. Wawancara dilakukan melalui Zoom pada 17 Agustus 2022.

Bagaimana kondisi pangan di Indonesia saat ini?

Secara umum FAO telah memprediksi jumlah penduduk dunia 2050 hampir tembus 10 miliar. Kebutuhan pangan dunia supaya tidak terjadi bencana kelaparan harus naik 70 persen dari saat ini. Itu juga berlaku di Indonesia. Menuju 2050, produksi pangan harus naik. Pemerintah banyak membuat lumbung pangan. Itu kebijakan yang mungkin tidak pas.

Penggunaan lahan di Jawa, seperti pekarangan, dan [peningkatan] produktivitas sangat mungkin tanpa melakukan ekstensifikasi. Permasalahan ekstensifikasi ada di deforestasi dan mengurangi tutupan lahan tanaman keras. Indonesia punya masalah yang serupa dengan dunia bahwa pangan ini harus naik signifikan paling tidak 70 persen dari kondisi sekarang.

Jokowi menyampaikan ada ancaman ketahanan pangan. Bagaimana tanggapan Anda?

Itu akan terjadi. Seperti prediksi FAO. Untuk mencukupi kebutuhan penduduk meningkat 70 persen kenaikan pangan harus ada. Kalau itu peningkatan 10-20 persen maka akan kekurangan pangan luar biasa.

Saya kira embung yang dibuat oleh pemerintah dengan masif itu respons baik untuk menjaga ketersedian air. Harapannya, kegagalan panen akibat kekeringan tidak terjadi. Namun harus diperhatikan, embung itu harus di posisi yang sesuai sehingga air untuk dibagi cukup. Embung harus dipertimbangkan berdasarkan curah hujan, daerah resapan paling besar di lokasi mana.

Kami di Imogiri, Bantul, membuat laboratorium alam. Memanen air hujan di daerah kering. Harapan kami embung yang dibuat dapat melayani daerah situ sepanjang tahun, tidak kekeringan. Kami pakai air hujan bukan air sumur. PUPR pada 2023 akan setujui. Model pertanian yang ramah lingkungan dan konservasi air bisa dibuat di daerah Imogiri.

Perubahan iklim, anomali cuaca, sebabkan daerah tertentu alami kekeringan dan berpotensi kelaparan. Bagaimana perubahan iklim berdampak ke pangan?

Kalau lihat sejarah, pertanian nenek moyang masih ada ladang berpindah, ada konsep natural ekosistem. Semua layanan lingkungan termasuk iklim global belum terganggu. Produksi hutan dan biodiversitas bagus, tidak ada ledakan hama dan air bagus. Namun jumlah pangan belum diperhatikan karena penduduk masih sedikit.

Dengan adanya revolusi hijau, jumlah penduduk naik. Pemerintah hanya berpikir produksi pangan saja. Semua meningkat sehingga hutan ditebang, penggunaan air tidak ramah, termasuk pertanian monokultur yang intensif. Akibatnya menyebabkan kontribusi perubahan iklim, kekurangan air, hutan habis, pemanasan global, dan ledakan hama. Layanan lingkungan sudah mengkhawatirkan karena tidak diperhatikan.

Monokultur sebenarnya bukan pertanian yang berkelanjutan. Banyak layanan ekosistem tanaman yang hilang. Idealnya, produksi tetap tinggi tapi layanan lingkungan diperhatikan. Negara maju sudah buat model pertanian masa depan. Tidak hanya karena teknologi, tapi tujuan akhir adalah layanan lingkungan terjaga dan produksinya terjaga.

Kejadian anomali iklim bukan waktu yang singkat. Itu proses panjang akibat kehidupan panjang. Kehidupan yang salah mengelola lingkungan yang menyebabkan perubahan iklim, seperti penebangan hutan. Akibatnya CO2 naik, terjadilah perubahan iklim global.

Jadi bagaimana merespons pengaruh perubahan iklim tersebut?

Harus menggunakan varietas yang responsif terhadap perubahan iklim. Itu bisa dicapai kalau pakai teknik pemuliaan tanaman. Cara budidaya berkelanjutan menjadi penting. Seperti melakukan rekayasa tanaman. Bisa dengan rotasi tanaman, bisa memilih tanaman penutup tanah atau tanaman pelindung. Itu menjadi penting untuk pertahankan tingkat produktivitas. Perubahan iklim bisa ditanggapi dengan pendekatan holistik. Termasuk menggunakan varietas hemat air.

Padi di Indonesia dan padi sawah kebutuhan airnya untuk 1 kilogram masih besar sekali, mungkin 2.500 liter. Bagaimana memproduksi padi tapi 100 liter [air[ per 1 kilogram beras. Itu akan sangat hemat sekali dan itu luar biasa.

Ada beberapa daerah kekeringan. Itu seperti apa?

Di Jawa ada pakai air. Di Ngawi ke timur sekarang mengkhawatirkan karena pakai air tanah. Padahal enggak tahu isinya berapa lalu diambil. [Air] Yang diambil dan masuk tidak imbang. Bisa jadi kekurangan permanen di daerah jawa. Terutama yang pakai sumur pantai atau sumur dalam. Itu membuat prihatin di Indonesia. Sangat mengkhawatirkan di Indonesia.

Pemerintah membuat food estate untuk ketahanan pangan. Bagaimana tanggapan Anda?

Untuk solusi ketahanan pangan boleh jadi membuat food estate dan membuat embung itu sesuatu yang bagus. Yang menjadi perhatian, segala sesuatu hendaklah dilihat secara holistik. Kalau buat food estate pikirkan air dari mana, keberlanjutan airnya, bagaimana pola tanam, rotasi tanam, bagaimana memaksimalkan input. Harus secara holistik dilihat. Tidak bisa membuka lahan di Kalimantan Tengah, Sulawesi, digunakan untuk padi. Tidak bisa begitu. Itu tidak akan berkelanjutan. Ada sesuatu pembatasan, akan membuat kendala.

Menurut Anda apa sebab kegagalan food estate?

Jadi beberapa faktor kegagalan, misalnya di Kalimantan tengah, pertama soal budaya. Budaya bertani seperti di Jawa tidak ada. Kebiasaan petani di Kalimantan sebar benih, ditinggal selama 6 bulan, baru dipanen. Tidak ada sistem setiap hari ke sawah kecuali transmigran.

Di Papua juga sama. Yang mau bekerja di sawah [hanya] petani di Jawa. Budaya bertani memelihara sawah minim [di Papua]. Buat di Merauke gagal, itu juga masalah budaya dan tenaga kerja. Kalau diganti mekanisasi akan mengurangi jumlah pekerja.

Jadi, food estate direncanakan secara holistik dan transdisiplin, sosial budaya, ekonomi, sistem budidaya, varietas yang sesuai. Juga kesehatan tanaman agar tidak turun produktivitasnya. Bagaimana mengembalikan sisa tanaman ke tanah. Harus menjadi satu kesatuan untuk pengembangan food estate.

Seharusnya bagaimana?

Idealnya pendekatannya harus transdisiplin, menyeluruh, dan berpikir tidak linear. Semua faktor yang ada di situ harus diperhatikan. Keterkaitan faktor menjadi pertimbangan. Betul-betul usaha pertanian sudah memperhatikan semua aspek. Paling gampang soal air. Bagaimana ketersediaan air dan keberlanjutan air? 25 Tahun ke depan akan berlanjut atau tidak?

Membuat banyak embung sesuatu yang bagus untuk memanen air hujan. Tapi banyak juga embung dibuat bukan pada posisi yang pas. Buat embung di paling bawah harus butuh pompa dan energi, itu harus dievaluasi. Mestinya buat embung tidak harus besar, kecil tapi berjenjang dan mencari titik tertentu. Itu akan hemat energi dan berkelanjutan.

Indonesia daerah strategis, daerah tropis. Hujan cukup, air cukup. Tinggal bagaimana mengelolanya. Kalau musim hujan banjir, nggak ada musim hujan kering. Itu masalah, padahal hujannya cukup. Kalau cukup harusnya bagaimana memanen air hujan lalu distribusikan air [agar] bisa digunakan selama musim kemarau sehingga akan bergulir. Selama satu tahun tidak akan kesulitan air.

Tata kelola dari pemerintah karena ada mimpi ketahanan pangan perlu dievaluasi?

Memilih tempat terkait budaya dan kesiapan pelaku. Pikirkan juga sarana produksi yang tidak mahal. Isu keberlanjutan itu harus dipegang. Keberlanjutan tidak hanya secara ekologis. Tapi secara ekonomis, sosial-budaya. Karakter ekologi tidak menimbulkan bencana ekologi. Tata air menjadi sangat penting.

Mitigasi untuk cegah gagal panen karena kekeringan, hama, dan kerusakan pangan seperti apa?

Kaitan sama air, harus pandai mengelola air. Sumber dari mana. Kalau sumber terbatas, bagaimana curah hujan itu. Lalu memungkinkan melakukan pemanenan air hujan. Ketika bisa antisipasi soal air, maka kekeringan tidak harus terjadi.

Sumber air adalah air hujan maka membuat embung dan menampung untuk dikelola sampai musim penghujan lagi. Itu dalam rangka menghindari kekeringan. Kalau sumber dari sungai atau mata air di pegunungan perlu dikelola. Bisa menggunakan varietas hemat air. Lalu pemberian air bisa dipikirkan dari model irigasi tetes atau yang spesifik yang tidak mengenai semua. Itu bisa jadi pertimbangan antisipasi kekeringan.

Kaitan sama hama dan penyakit harus dikelola. Harus cari tanaman yang tahan penyakit. Tidak menggunakan sistem monokultur. Mengundang musuh alami dengan pertanian yang multikultur akan mengurangi risiko yang terjadi ledakan hama dan penyakit.

Bagaimana antisipasi ancaman ketahanan pangan?

Pendekatan interdisipliner harus dilakukan. Harus membangun pusat pangan. Pekarangan di Jawa kalau dimanfaatkan untuk pangan luar biasa. Tanah yang tidak dimanfaatkan luar biasa dan luas. Awal penanaman tebu dikombinasikan dengan jagung, kedelai, kacang. Itu dapat menambah produksi tanaman. Itu sangat besar produksinya.

Manajemen holistik pendekatan interdisipliner harus diupayakan pemerintah untuk hindari risiko kegagalan yang terjadi. Peluang sangat besar, cuma pendekatan diubah tidak sektoral tapi holistik. Berpikir pada sistem. Harus perhatikan geospasial yang menjadi satu kesatuan budaya, sosial. Harus diupayakan supaya tidak terjadi kegagalan.

About the writer
Abdus Somad

Abdus Somad

Abdus Somad, born in Karangasem, Bali, 27 years ago. He plunged into journalism by joining Axis Student Press at Ahmad Dahlan University, Yogyakarta. After graduating from college in 2018, he worked as...

There are no comments yet. Leave a comment!

Your email address will not be published.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.