Laporan terbaru IPCC mendeteksi ‘bom waktu’ pemanasan global yang dapat meledak dalam waktu dekat.

Panel Antar-Pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) telah merilis laporan sintesis keenam, Senin (20/3/2023) di Interlaken, Swiss. Laporan tersebut mendeteksi ‘bom waktu’ pemanasan global yang dapat meledak dalam waktu dekat jika pihak-pihak terkait gagal memitigasi perubahan iklim.

Laporan delapan tahunan dari badan ilmiah paling berwenang di dunia itu melibatkan 234 ilmuwan fisika perubahan iklim, 270 ilmuwan dampak, adaptasi dan kerentanan terhadap perubahan iklim, dan 278 ilmuwan mitigasi perubahan iklim.

Mereka mencatat, dalam rentang 2011-2020, suhu permukaan global telah mencapai 1,1°C di atas tingkat pra-industri. Peningkatan itu disebut yang tertinggi dalam kurun 2000 tahun.

Para peneliti juga mendapati, pada tahun 2019 konsentrasi CO2 di atmosfer lebih tinggi daripada waktu manapun dalam 2 juta tahun. Kemudian, konsentrasi metana dan oksida nitrat mencapai angka tertinggi dalam 800.000 tahun.

Temuan-temuan itu menunjukkan bahwa upaya global sejauh ini dinilai tidak cukup untuk menangani perubahan iklim. Jika kenaikan suhu ingin dibatasi pada 1,5°C, maka emisi saat ini seharusnya sudah menurun dan perlu dipangkas hampir setengahnya pada tahun 2030.

“Laporan Sintesis ini menegaskan urgensi untuk mengambil tindakan yang lebih ambisius dan menunjukkan bahwa jika kita bertindak sekarang, kita masih dapat menjamin masa depan yang layak dan berkelanjutan bagi semua orang,” kata Ketua IPCC, Lee Hoesung.

Konsekuensi dari peningkatan suhu, menurutnya, berdampak risiko seperti cuaca ekstrem yang lebih sering, gelombang panas yang lebih intens, curah hujan yang lebih berat, dan cuaca ekstrem lainnya yang semakin meningkatkan risiko bagi kesehatan manusia dan ekosistem.

Peningkatan suhu juga menyebabkan kematian karena panas yang ekstrem, ketidakamanan pangan dan air. Lee Hoesung memerkirakan, risiko-risiko tadi akan semakin sulit dikelola jika ditambah dengan peristiwa buruk lainnya seperti pandemi atau konflik.

Aditi Mukherji, salah satu dari 93 penulis laporan sintesis itu menambahkan, dalam dekade terakhir kematian akibat banjir, kekeringan, dan badai, potensinya 15 kali lebih tinggi di wilayah yang sangat rentan. Ironisnya, wilayah tersebut ditinggali hampir setengah populasi dunia.

Panduan menjinakkan ‘bom’

Meski peningkatan suhu Bumi berada pada kondisi yang mengkhawatirkan, para ilmuwan menyatakan terdapat beberapa opsi yang layak dan efektif untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, serta beradaptasi dengan perubahan iklim.

Salah satu upaya menekan pemanasan global adalah dengan membuat tahap pengurangan emisi. IPCC menargetkan pada 2030, CO2 berkurang sebanyak 48 persen, pada tahun 2035 kembali turun di angka 65 persen, dan di tahun 2040 pengurangannya mencapai 80 persen. Kemudian, pada 2050, semua negara harus mengurangi emisi CO2 hingga 99 persen.

Mereka yakin, target itu dapat dicapai dengan menerapkan pembangunan tahan iklim yang mengintegrasikan adaptasi dan tindakan untuk mengurangi gas rumah kaca. Contohnya, akses terhadap energi bersih, elektrifikasi rendah karbon, berjalan kaki, bersepeda, dan pemanfaatan transportasi umum.

Peningkatan keuangan untuk investasi iklim dipandang penting untuk mencapai tujuan iklim global. Dalam hal ini, kolaborasi antara pemerintah, melalui pendanaan publik dan sinyal yang jelas kepada investor, bank sentral dan regulator keuangan memainkan peranan penting.

“Bom waktu iklim sedang berdetak. Tapi laporan IPCC hari ini adalah panduan untuk menjinakkannya dan menjadi panduan bertahan hidup bagi umat manusia,” kata Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres. “Seperti yang ditunjukkan, batas 1,5°C dapat dicapai. Tapi itu akan membutuhkan lompatan kuantum dalam aksi iklim.”

Untuk itu pihaknya telah mengusulkan Pakta Solidaritas Iklim kepada negara-negara anggota G20. Pakta itu diharapkan mendorong semua penghasil emisi besar melakukan upaya ekstra, dan negara-negara kaya memobilisasi sumber daya keuangan untuk mendukung negara berkembang dalam upaya mengurangi emisi.

Guterres berharap, pada akhir COP28 yang diselenggarakan dalam kurun 9 bulan dari sekarang, semua pemimpin G20 berkomitmen pada kontribusi ekonomi nasional baru yang ambisius dan menunjukkan target pengurangan emisi absolut mereka untuk tahun 2035 dan 2040.

Rencana iklim baru tersebut harus mencerminkan percepatan yang dibutuhkan selama dekade ini dan selanjutnya. “Kita tidak pernah lebih siap untuk mengatasi tantangan iklim, tetapi sekarang kita harus bergerak ke tindakan iklim dengan kecepatan tinggi. Kita tak bisa membuang-buang waktupunya waktu untuk di,” lanjutnya.

Agenda percepatan itu membutuhkan tindakan seperti penghentian industri batu bara secara bertahap pada tahun 2030 di negara-negara Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), dan tahun 2040 di semua negara lainnya.

Antonio Guterres juga menegaskan pentingnya menghentikan semua perizinan atau pendanan minyak dan gas sesuai dengan temuan Badan Energi Internasional, serta menetapkan penurunan global produksi minyak dan gas yang ada, sesuai dengan target net-zero global 2050.

Sebagai gantinya, negara-negara di dunia dituntut mengalihkan subsidi dari bahan bakar fosil ke transisi energi yang adil. Sekaligus, memastikan beroperasinya pembangkit listrik net-zero emission tahun 2035 untuk semua negara maju, dan 2040 untuk seluruh dunia.

About the writer
Themmy Doaly

Themmy Doaly

Themmy Doaly has been working as Mongabay-Indonesia contributor for North Sulawesi region since 2013. While in the last nine years he has also been writing for a number of news sites in Indonesia, including...

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.