Apabila berbicara investasi, Jatiwangi mungkin salah satu daerah di Jawa Barat yang sampai sekarang masih menjadi primadona investasi. Sejak kebangkrutan VOC, Pemerintah Kolonial Belanda membuka keran investasi di negeri jajahannya seperti di Hindia-Belanda. Di wilayah Jatiwangi, para investor menanamkan modalnya dalam bentuk perkebunan tebu. Jatiwangi adalah sebuah kecamatan dari 26 kecamatan yang ada di Kabupaten Majalengka.
Kemudian, Jatiwangi pada fase berikutnya adalah terbentuknya ekonomi kerakyatan hasil dari kegiatan mengolah tanah liat menjadi genteng. Genteng Jatiwangi juga berperan dalam perubahan peradaban arsitektural bangunan yang ada di Indonesia. Pada masa pandemi Pes yang melanda pulau jawa pada periode 1911-1939, Pemerintah Kolonial Belanda membuat kebijakan perubahan material atap bangunan yang sebelumnya menggunakan rumbia (Diyakini oleh Belanda menjadi penyebab utama penyebaran virus Pes) menjadi menggunakan Genteng. Masa keemasan genteng Jatiwangi terjadi pada periode akhir 1970-an sampai awal tahun 2000-an.
Lalu perlahan industri manufaktur, tekstil, garmen, pangan, dan lainnnya menggantikan posisi pabrik genteng menjadi ujung tombak perekonomian Jatiwangi. Jatiwangi yang berada di wilayah Timur-Utara Kabupaten Majalengka dijadikan sebagai pusat industri oleh Pemerintahnya. Alih fungsi lahan jelas secara masif terjadi.
Begitupun limbah-limbah cair kimia, padat dan lainnya tidak terkontrol. Pembuangan limbah cair ke sungai yang terjadi di wilayah Jatiwangi dan Ligung menjadi contohnya. Limbah-limbah tersebut dibuang di beberapa aliran anak sungai seperti anak sungai Cimaganggang yang bermuara di Aliran Sungai Cikeruh.
Belum lagi saat ini Jatiwangi menjadi salah satu dari 13 kota Baru Industri yang akan dibangun oleh pemerintah jawa barat dan pusat dalam koridor Metropolitan Rebana. Dalam perencanaannya, Jatiwangi akan menjadi salah satu pusat industri manufaktur, tekstil, garmen dan lainnya hingga ke agrobisnis.
Merespon perubaha lansekap sosial, ekonomi, politik, budaya dan lainnya yang terjadi di Jatiwangi dan sekitarnya. Warga di Desa Jatisura sejak tahun 2020 berusaha membangun hutan seluas 8 hektar sebagai solusi dari degradasi lingkungan yang terjadi juga sebagai antisipasi dari Perubahan Iklim yang terjadi. Jatiwangi menjadi daerah nomer 4 di Indonesia denga suhu panas tertinggi. Hutan tersebut bernama Hutan Kolektif Perhutana.
Hutan Kolektif Perhutana memiliki luas 8 Hektar Persegi. Kemudian lahan hutan tersebut di bagi-bagi menjadi kavling dengan ukuran 4X4 meter persegi. Warga Desa Jatisura sedang membuat hutan dalam segala skala. kemudian dari setiap kavling tersebut terdapat tanaman tegakan, tutupan, payung, dan semak.
Saat ini sudah ada 300 Family Forest yang sudah menghibahkan uangnya sebesar Rp4 juta untuk memerdekakan lahan dan dijadikan hutan. Kemudian Pemerintah Kabupaten Majalengka, memasukan area Hutan Kolektif Perhutana kedalam aturan tata ruang yang tertuang di RPJP Daerah Kabupaten Majalengka 2025-2045.
“Lets Find a Way To Liberated Land For The Forest”
- Gemuruh Gugatan dari Pantura Lantaran PSN Berpotensi Merusak Tambak Rakyat
Masyarakat pesisir menilai proyek yang menargetkan wilayah kelola mereka tersebut, dirancang tanpa pelibatan warga sejak tahap awal perencanaan. - Gugatan Jalan 135 Km yang Membelah Hutan Adat Ditolak PTUN Jayapura
Gugatan ini terkait izin kelayakan lingkungan hidup pembangunan jalan sepanjang 135 kilometer dari Wanam hingga Muting, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. - Asap Hutan yang Dibakar juga Mengambil Nyawa dan Masa Depan Anak-Anak Indonesia
Di bawah langit Kalimantan yang masih memerah akibat kepulan kabut asap, suara batuk berdahak balita terdengar memecah keheningan di banyak rumah dan fasilitas kesehatan. Udara yang dihirupnya sudah bukan oksigen segar, tetapi partikel halus beracun atau PM2,5 dari 38.310 hektar hutan dan lahan yang dibakar di Pulau Borneo. Musim kemarau di Kalimantan dan Sumatera kerap… Baca Selengkapnya: Asap Hutan yang Dibakar juga Mengambil Nyawa dan Masa Depan Anak-Anak Indonesia - Dahaga dalam Dekapan Asap yang Diderita Masyarakat Adat di Kalimantan
Kondisi kekeringan dan kabut asap di wilayah Kalimantan Barat hingga September 2026 masih dalam perhatian serius. - Rekor Kasus ISPA Melonjak, Koalisi Sipil Pertanyakan Kepemimpinan Prabowo
Pemerintah dinilai gagal mencegah kebakaran, melindungi warga, dan memberikan sanksi tegas kepada korporasi pembakar hutan. - Efek Domino Karhutla bagi Keselamatan Satwa Liar dan Manusia
Efek domino ini dimulai ketika nyala api melahap area perkebunan, hutan sekunder, hingga hutan primer yang menjadi benteng terakhir bagi biodiversitas Indonesia.



