Langit di atas lereng Gunung Halimun belum sepenuhnya bersih dari pekatnya asap ketika warga Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya mulai menyusuri sisa-sisa abu. Di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, musibah kebakaran hebat yang melanda pada Sabtu (25/7/2026) tak hanya meratakan tempat tinggal, tetapi juga menghantam jantung sistem ketahanan pangan adat yang telah dijaga lintas generasi.
Amuk si jago merah menghanguskan sedikitnya 51 rumah warga yang tersebar di dua rukun tetangga (RT). Bangunan-bangunan penting kawasan adat seperti Imah Gede—kediaman Sesepuh Adat Abah Hendrik sekaligus pusat kegiatan spiritual dan kemasyarakatan—balai sosial, ajeng, posyandu, hingga pos ronda turut berubah menjadi puing dan arang. Lebih dari 178 jiwa dari 66 Kepala Keluarga (KK) terpaksa kehilangan tempat bernaung.
Namun, luka paling dalam bagi masyarakat adat kasepuhan terletak pada berderetnya bangunan panggung beratap ijuk yang hangus di sekeliling permukiman: leuit.
Tabungan Kehidupan yang Menjadi Arang
Bagi masyarakat Kasepuhan Ciptamulya, leuit (lumbung padi) bukan sekadar struktur kayu dan bambu penampung hasil panen. Leuit adalah pilar berdikari pangan, falsafah hidup, serta “tabungan masa depan” yang menjamin warga tak pernah kelaparan, bahkan saat kemarau panjang atau paceklik melanda.
Dalam musibah ini, sebanyak 49 leuit milik warga ludes terbakar. Setiap leuit rata-rata menyimpan satu hingga lebih dari satu ton padi. Yang paling memilukan, Leuit Si Jimat—lumbung padi komunal utama milik sesepuh adat yang memuat lebih dari dua ton padi cadangan bersama—turut musnah dilalap api. Diperkirakan puluhan ton beras dan cadangan benih padi adat lenyap dalam sekejap.
“Kerugian kita bukan hanya bangunan yang runtuh, tapi cadangan pangan warga yang tersimpan bertahun-tahun di dalam leuit,” ujar Ketua Panitia Logistik Bencana Kasepuhan Ciptamulya, Edik Supriatna.
“Leuit adalah simbol kehormatan dan ketahanan pangan yang diwariskan turun-temurun. Ketika leuit terbakar, yang hilang bukan cuma padi, tapi juga simpanan kehidupan masyarakat adat.”
Menyelamatkan Pocong Padi
Di tengah duka yang mengendap, benteng terakhir masyarakat kasepuhan—solidaritas dan gotong royong—langsung bergerak. Pada Minggu pagi (26/7/2026), warga adat bersama relawan dan petugas gabungan Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Cisolok menyisuri reruntuhan Leuit Si Jimat dan lumbung-lumbung warga.
Menggunakan tangan telanjang, warga memilah ikatan-ikatan tangkai padi—yang dikenal secara lokal sebagai pocong padi. Satu per satu bulir padi yang tidak sepenuhnya terbakar dipisahkan dari lapisan arang yang menghitam.
“Masih ada pocong-pocong padi yang tidak sepenuhnya terbakar dan masih bisa diselamatkan. Jumlahnya mencapai ribuan kalau dikumpulkan,” tutur Petugas P2BK Cisolok, Andri Firmansyah.
Ribuan pocong padi yang berhasil diselamatkan itu dipindahkan secara berantai menuju leuit milik warga yang selamat dari kobaran api, serta diangkut ke bangunan PAUD setempat sebagai tempat penyimpanan sementara. Penyelamatan padi ini diprioritaskan demi memastikan benih dan beras yang tersisa dapat dipergunakan kembali saat pemulihan berlangsung.
Masa Tanggap Darurat
Untuk mempercepat penanganan bencana, Pemerintah Kabupaten Sukabumi resmi menetapkan status Tanggap Darurat Bencana selama tujuh hari, terhitung sejak 25 hingga 31 Juli 2026. Keputusan ini tertuang dalam Keputusan Bupati Sukabumi Nomor 300.2.1/Kep.633-BPBD/2026 yang ditandatangani Bupati H. Asep Japar.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi, Ade Suryaman, menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah menjamin keselamatan dan kebutuhan dasar seluruh pengungsi.
“Sekarang yang menjadi prioritas utama adalah kebutuhan dasar warga terdampak, mulai dari makanan, air bersih, tempat tinggal sementara, hingga layanan darurat kesehatan,” jelas Ade.
Di posko darurat Kampung Adat Ciptamulya, dapur umum telah dioperasikan. Meski demikian, logistik mendesak masih sangat dibutuhkan, meliputi:
- Logistik Pangan: Beras, mi instan, air mineral, serta susu bayi.
- Perlengkapan Tidur & Sanitasi: Selimut, kasur lantai, popok bayi, dan obat-obatan.
- Layanan Kesehatan: Obat-obatan untuk mengantisipasi potensi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat asap kebakaran.
Seluruh alokasi pembiayaan masa darurat ini dikoordinasikan oleh BPBD Kabupaten Sukabumi dengan mengoptimalkan Dana Siap Pakai (DSP) APBN serta Belanja Tidak Terduga (BTT) APBD.
Pemulihan Permukiman Adat
Meskipun pemulihan fisik rumah-rumah adat belum dilakukan pada masa tanggap darurat, secercah kepastian datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memastikan Pemprov Jabar akan menanggung penuh pembangunan kembali 51 rumah adat yang hancur.
Dalam komunikasi langsung dengan Sesepuh Adat Kasepuhan Sinar Resmi, Abah Asep Nugraha—kerabat Abah Hendrik—Gubernur menegaskan bahwa Kasepuhan Ciptamulya adalah pilar kebudayaan penting yang tidak boleh dibiarkan runtuh.
“Masyarakat kasepuhan adalah masyarakat adat yang selama ini mandiri, hidup rukun, dan mampu berswasembada pangan. Ini adalah kekayaan budaya kita yang wajib dijaga. Pemprov Jabar akan segera turun untuk membangun kembali rumah-rumah warga yang terbakar,” pukas Dedi Mulyadi.
Komitmen ini disambut lega oleh Pemkab Sukabumi mengingat keterbatasan anggaran daerah. Kendati rumah-rumah kayu panggung kelak dapat didirikan kembali, tantangan terbesar warga Kasepuhan Ciptamulya adalah mengembalikan ribuan ton padi adat dan memulihkan fungsi ekologis serta ritual keberlanjutan pangan yang tertanam di leuit-leuit mereka.
Di antara sisa jelaga Cisolok, ikatan pocong padi yang tersisa menjadi saksi: api mungkin sanggup meratakan lumbung, namun gotong royong dan kemandirian masyarakat adat Ciptamulya tidak pernah padam.
- Kebakaran di Kasepuhan Ciptamulya Hanguskan Leuit dan Puluhan Rumah

- Perhutanan Sosial Menyatu dengan Denyut Ekonomi Pesisir

- Ketika Ekonomi Restoratif Menantang Cengkeraman Ekstraktif

- Kejanggalan Api Karhutla yang Terus Merekah di Palangka Raya

- Mengenal Ikan Gobi Udang, Spesies Baru Penjaga Laut Dangkal Banyuwangi

- Jejak Darah Serangan Harimau Sumatera Akibat Aktivitas Perusahaan di HTI Riau




