Kebakaran kembali melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo yang berlokasi di Kota Surakarta, Jawa Tengah. Api dilaporkan mulai menyala pada Kamis (3/9) sore dan terus memicu kepulan asap tebal yang mengancam pemukiman penduduk di sekitarnya.
Peristiwa kebakaran TPA Putri Cempoi merupakan kejadian yang berulang. Deputi Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Tengah, Nur Cholis, mengungkapkan kebakaran yang terjadi pada awal September ini bukanlah kejadian pertama di sepanjang tahun 2026.
Peristiwa serupa sudah dilaporkan melanda area penumpukan sampah TPA Putri Cempo pada 6 Juni dan 10 Juni 2026, serta pernah mengalami kebakaran besar pada tahun 2023 lalu.
Berulangnya kejadian tersebut menjadi petunjuk darurat TPA di Indonesia yang semakin mengkhawatirkan, sekaligus mencerminkan kegagalan tata kelola sampah nasional. Terlebih, selama ini kebakaran di TPA Putri Cempo kerap dikaitkan dengan kondisi cuaca, terutama suhu tinggi dan musim kemarau.
“Alih-alih menempatkan musim kemarau sebagai dugaan dan penjelasan tunggal atas berulangnya kebakaran, kami justru melihat persoalannya jauh lebih mendasar,” kata Cholis, dalam pernyataannya.
Kerusakan Tata Kelola Melahirkan Bahaya Laten Metana
Lebih jauh, WALHI Jawa Tengah menegaskan musim kemarau tidak bisa terus-menerus dijadikan sebagai penjelasan tunggal atau alasan pembenaran atas berulangnya kebakaran di TPA Putri Cempo.
Cholis menerangkan, persoalan utama dari insiden kebakaran TPA ini bersumber pada masalah yang lebih mendasar, yakni kombinasi antara faktor ekologis dan kerusakan tata kelola sampah.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta sebelumnya memaparkan, penerapan metode pembuangan terbuka (open dumping) di TPA Putri Cempo menghasilkan pelepasan emisi gas metana.
Padahal gas tersebut memiliki sifat mudah terbakar, terutama di tengah kondisi cuaca kering saat musim kemarau.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surakarta juga pernah menyatakan, insiden kebakaran TPA Putri Cempo menjadi persoalan laten yang terus mengintai setiap musim kemarau.
Melengkapi analisis lingkungan tersebut, Pengampanye Urban Berkeadilan WALHI Nasional, Wahyu Eka Styawan, menyampaikan estimasi potensi bahaya metana melalui metode simulasi emisi First Order Decay (FOD) yang diadaptasi dari IPCC.
Metode ini tercatat memiliki tingkat akurasi sebesar 75 persen dengan tingkat kepercayaan menengah lantaran keterbatasan akses data primer.
Berdasarkan hasil kalkulasi simulasi tersebut, TPA Putri Cempo mencatatkan penerimaan timbulan sampah sebesar 153.360,91 ton pada tahun 2024.
Volume sampah diperkirakan menghasilkan gas metana kotor (CH4) sebanyak 840,36 ton serta metana bersih sebesar 756,32 ton, atau setara dengan 20.420,65 ton CO2 ekuivalen.
Sementara itu, angka timbulan sampah diperkirakan meningkat pada tahun 2025 menjadi 153.840,85 ton, kemudian menghasilkan pelepasan metana kotor ikut naik menjadi 1.117,07 ton dan metana bersih sebesar 1.005,36 ton, setara dengan 27.144,83 ton CO2 ekuivalen.
Wahyu menegaskan, angka-angka hasil kalkulasi awal tersebut mengindikasikan akumulasi gas metana di TPA Putri Cempo sudah berada pada tingkatan yang mengkhawatirkan.
Apabila pengukuran langsung dilakukan berdasarkan tingkat kedalaman timbunan sampah, volume metana yang terperangkap berpotensi jauh lebih tinggi. Kondisi akumulasi gas ini diibaratkan seperti bom waktu yang sewaktu-waktu dapat menyulut kobaran api.
“Jika dilakukan pengukuran berdasarkan kedalaman timbunan sampah yang ada, sangat mungkin jumlah metana yang dihasilkan jauh lebih besar. Artinya, TPA Putri Cempo adalah bom waktu yang sewaktu-waktu dapat kembali memicu kebakaran. Risiko ini akan terus meningkat apabila upaya pengurangan sampah dari sumbernya tidak dijalankan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah,” tegas Wahyu.
Oleh karena itu, WALHI menekankan fenomena cuaca panas hanyalah pemicu di permukaan.
Faktor dominan pembentuk risiko kebakaran sejatinya adalah tumpukan sampah skala besar, akumulasi suhu panas di dalam gunungan sampah, serta proses pembusukan alami yang memproduksi metana tanpa didukung tata kelola sampah memadai.
Dampak Paparan Asap Terhadap Masyarakat
Kepulan asap tebal akibat kebakaran TPA Putri Cempo berdampak langsung pada kehidupan warga yang bermukim di sekitar area pembuangan sampah.
Sejumlah warga dari kelompok rentan, seperti bayi, anak-anak, hingga lanjut usia (lansia), terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Lokasi penampungan pengungsi di antaranya ditempatkan di Kelurahan Mojosongo serta Gedung Olah Raga (GOR) UTP.
Warga yang terdampak mengeluhkan penurunan kesehatan yang dialami akibat paparan asap dan debu. Sebagian besar keluhan meliputi gangguan saluran pernapasan, seperti sesak napas, batuk, tenggorokan kering, hingga iritasi mata perih.
Sementara warga yang mengungsi membutuhkan kebutuhan pokok di lokasi pengungsian termasuk perlengkapan sanitasi dan kenyamanan dasar, seperti popok bayi (pampers), pembalut wanita, tisu, selimut, serta alas tidur berupa kasur.
Selain persoalan kesehatan tempat tinggal, insiden kebakaran ini melumpuhkan sektor ekonomi warga lokal.
Cholis menuturkan, para pemulung yang menggantungkan mata pencaharian harian dari memilah sampah di TPA Putri Cempo kehilangan akses kerja selama masa pemadaman.
Di sisi lain, WALHI turut menyoroti kejanggalan munculnya titik api awal yang pertama kali diketahui warga sekitar waktu Maghrib, bukan pada saat terik matahari siang. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan mengenai kejelasan pemicu api.
Di samping itu, efektivitas langkah pencegahan juga dipertanyakan. Walaupun warga melaporkan patroli keamanan di sekitar TPA sudah terbilang sering dilakukan, peristiwa kebakaran nyatanya tetap berulang dan berlanjut hingga beberapa hari.
“Pengelolaan sampah yang buruk bukan hanya persoalan teknis di dalam TPA, melainkan juga persoalan keadilan lingkungan. Sayangnya, risiko dan dampak dari buruknya pengelolaan sampah justru lebih besar dirasakan oleh warga yang hidup paling dekat dengan kawasan pengelolaan sampah,” tegas Cholis.
Upaya Penanganan Lapangan
Sebagai upaya mengendalikan kobaran api di TPA Putri Cempo, petugas gabungan melancarkan penanganan di area darat serta dukungan pemadaman udara (water bombing) dengan helikopter. Titik fokus pemadaman diarahkan ke area tumpukan sampah yang memicu asap pekat.
Dari aspek medis, tim penanganan kesehatan disiagakan untuk memantau kondisi masyarakat. Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) bersama jajaran medis mendirikan posko pelayanan kesehatan di pengungsian serta mengoperasikan tim kesehatan keliling, guna memberikan pengobatan langsung di lokasi permukiman.
Pengobatan difokuskan pada pemberian obat respiratorik dan pertolongan tabung oksigen bagi warga yang mengalami gejala sesak napas berat.
Agar tingkat kecelakaan pernapasan selama proses pemadaman berlangsung dapat diminimalisir, petugas mengimbau masyarakat untuk selalu mengenakan masker medis.
Warga yang memilih bertahan di dalam rumah diimbau menutup rapat akses pintu dan jendela atau memanfaatkan alat penyaring udara (air purifier), demi mencegah masuknya debu dan asap sisa pembakaran.
- TPA Putri Cempo Terbakar Lagi, Kerusakan Tata Kelola Sampah Ditanggung Warga

- Jerit Bantuan Internasional dari Jantung Bencana Asap Indonesia

- Menjemput Napas Lega di Hari Peduli Polusi Udara Sedunia

- Efek Domino Karhutla bagi Keselamatan Satwa Liar dan Manusia

- Ongkos Mahal Kebakaran Hutan 2026 yang Dipupuk dan Terus Bertumbuh

- Retakan di Sawah Banten Kidul, Kekeringan Menyerang Pangan Masyarakat Adat





