Minggu pagi di Hutan Kota Patriot Bina Bangsa, Kota Bekasi, tidak tampak seperti akhir pekan biasanya. Pada tanggal 6 September 2026, bertepatan dengan Hari Peduli Polusi Udara Sedunia, ruang terbuka hijau itu disulap menjadi episentrum perlawanan masyarakat terhadap krisis kualitas udara. Di bawah naungan pepohonan, aktivitas warga tidak sekadar diisi dengan rekreasi, melainkan sebuah aksi kolektif untuk memperjuangkan masa depan lingkungan yang lebih jernih.
Bekasi, sebagai salah satu denyut nadi penyangga kawasan metropolitan, selama ini harus berhadapan dengan bayang-bayang kelabu dari tingginya emisi kendaraan bermotor, deru aktivitas industri, dan berbagai sumber polutan lainnya. Ancaman ini sama sekali bukan sekadar mitos atau kepanikan semu. Data yang dihimpun oleh Dinas Kesehatan Kota Bekasi menunjukkan rekam jejak yang mengkhawatirkan: terdapat 253.337 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang terjadi sepanjang tahun 2024.
“Data Dinas Kesehatan Kota Bekasi mencatat 253.337 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang 2024, menunjukkan tingginya beban penyakit saluran pernapasan pada masyarakat akibat polusi udara,” ungkap Wisya Aulia Prayudi, Urban & Environmental Health Lead dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI).
Berangkat dari realitas yang menyesakkan dada tersebut, CISDI menginisiasi terbentuknya wadah gerakan bernama Koalisi Langit Biru Bekasi. Koalisi ini menjadi titik lebur bagi tujuh komunitas lokal yang bergerak di akar rumput, yakni Bekasi Pukul Polusi, Puan Daya Karya, Bekasi Berkebun, Bekasi Read Aloud, Rangkul Bekasi, Turun Tangan Bekasi, hingga Transport for Bekasi. Bersama-sama, mereka melangsungkan kampanye bertajuk “Langit Biru Bekasi: Kolaborasi Lintas Komunitas dalam Meningkatkan Kesadaran Masyarakat terhadap Dampak Polusi Udara melalui Edukasi, Aksi, dan Partisipasi Publik”.
Melawan Polusi Melalui Edukasi Partisipatif
Membangun kesadaran di wilayah urban yang sibuk tentu tidak bisa dilakukan hanya lewat orasi satu arah. Menurut Wisya, kegiatan ini dirancang khusus untuk meningkatkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab bersama, serta membekali warga dengan cara-cara praktis untuk menangkal polusi udara. Aksi kolektif masyarakat dipandang sebagai kunci utama untuk memperluas jangkauan dan dampak kampanye krisis udara, khususnya di Kota Bekasi.
Untuk membumikan pesan tersebut, ragam kegiatan di Hutan Kota dikemas secara gratis agar melebur dengan keseharian keluarga. Pengunjung disuguhkan dengan pojok baca yang membedah isu lingkungan lewat buku-buku dewasa hingga literatur anak. Di sudut lainnya, warga diajak meresapi pesan lingkungan lewat permainan edukatif bertema ramah lingkungan, hingga unjuk kreativitas melalui Instagram Reels Challenge. Tidak ketinggalan, sebuah booth berdiri khusus untuk memberikan edukasi mendalam seputar dampak polusi terhadap kesehatan paru-paru manusia.
Bagi Desi Wahyuningtias, perwakilan Koalisi Langit Biru Bekasi dari komunitas Bekasi Read Aloud, inisiatif hari itu adalah sebuah landasan pijak. Ia menegaskan bahwa setiap individu di Kota Bekasi berhak mengetahui dan memahami bahaya laten polusi terhadap kesehatan serta ruang hidup mereka. Desi berharap pergerakan ini mampu mendorong terbentuknya kolaborasi lintas komunitas yang lebih solid di masa depan.
“Kampanye ini menjadi langkah awal pembentukan gerakan kolaboratif Koalisi Langit Biru Bekasi yang akan melanjutkan edukasi mengenai polusi udara melalui kampanye digital, kegiatan komunitas, dan kolaborasi lintas sektor,” ujar Desi merajut asa.
Melalui pelibatan publik yang lebih luas, Desi meyakini bahwa perubahan perilaku nyata—mulai dari skala individu hingga tataran komunitas—dapat segera diwujudkan demi menjaga kualitas udara dan paru-paru warga Kota Bekasi.
Di tengah rindangnya Hutan Kota Patriot Bina Bangsa, upaya merebut kembali hak atas udara bersih tidak lagi sekadar wacana di ruang-ruang diskusi tertutup. Perjuangan itu kini membumi, digerakkan secara nyata, dan mulai dihela bersama-sama oleh mereka yang menolak menyerah pada kepungan polusi.
- Menjemput Napas Lega di Hari Peduli Polusi Udara Sedunia

- Efek Domino Karhutla bagi Keselamatan Satwa Liar dan Manusia

- Ongkos Mahal Kebakaran Hutan 2026 yang Dipupuk dan Terus Bertumbuh

- Retakan di Sawah Banten Kidul, Kekeringan Menyerang Pangan Masyarakat Adat

- IPB Kembangkan Sistem Pemantau Udara Karhutla Berbasis Satelit

- Savana Nusa Tenggara Jadi Episentrum Baru Kebakaran Lahan Indonesia





