Setiap pagi, jutaan warga komuter bersiap menembus jalanan Tangerang Selatan (Tangsel). Di balik rutinitas yang tampak biasa, ada ancaman tak kasat mata yang terhirup bersama setiap tarikan napas. Kota penyangga ini perlahan menjelma menjadi ruang di mana warganya harus membayar mahal—dengan kesehatan fisik dan mental mereka—hanya untuk bermobilitas.
Tangerang Selatan secara konsisten masuk dalam radar kawasan dengan kualitas udara yang mengkhawatirkan. Dalam diskusi publik bertajuk “Napas di Kota Satelit: Hidup di Tengah Polusi Tangsel” yang digelar Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) pada pertengahan Juni ini di Orbit Brasserie, realitas pahit tersebut dibedah secara mendalam. Wisya Aulia Prayudi, Urban & Environmental Health Lead CISDI, menegaskan bahwa polusi tak sekadar isu lingkungan, melainkan telah menjadi silent stressor atau pemicu stres senyap di tengah padatnya kehidupan perkotaan.
Angka yang Menyesakkan Dada
Narasi ini bukan isapan jempol, melainkan berpijak pada data yang terus menanjak. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Banten, jumlah kendaraan bermotor di Tangsel telah menembus angka 1,63 juta unit pada tahun 2025. Lonjakan volume kendaraan ini berbanding lurus dengan tingginya emisi yang meracuni langit kota.
Kondisi ini diperparah oleh tingkat konsentrasi partikulat halus (PM2.5) di Tangsel yang kerap melampaui batas 50 µg/m³. Angka tersebut jauh berada di atas ambang batas aman yang direkomendasikan dalam target interim I Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni sebesar 35 µg/m³. PM2.5 adalah polutan mikroskopis yang sangat mematikan karena mampu menembus jauh ke dalam paru-paru hingga masuk ke sistem peredaran darah manusia. Bahkan, pemantauan kualitas udara terkini kerap menempatkan Tangsel di level “tidak sehat”, terutama bagi kelompok sensitif.
Secara fisik, imbasnya sangat nyata. Paparan polutan menahun ini secara drastis meningkatkan risiko penyakit tidak menular. Data lintas fasilitas kesehatan menunjukkan tren yang mengkhawatirkan terkait peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, bronkitis, hingga gangguan kardiovaskular di kawasan aglomerasi ibu kota. Partikel beracun memicu peradangan pada pembuluh darah yang dalam jangka panjang bisa berakibat fatal.
Polusi dan Rapuhnya Kesehatan Mental Urban
Namun, ada satu krisis yang jarang terekam oleh stasiun pemantau udara: hancurnya kesehatan mental.
Psikolog klinis dari Noutrisi Jiwa, Winona Lalita, memaparkan realitas psikologis dari krisis ekologi ini. Tekanan akibat lalu lintas yang panjang, ditambah paparan polusi secara terus-menerus di jalanan, memperburuk kelelahan dan tingkat stres secara drastis. “Kalau dari sisi psikologisnya, kita bisa mulai dengan menyadari nafas kita,” ujar Winona. “Kecemasan yang timbul akibat berada di lingkungan berpolusi juga dapat dikurangi dengan cara mengawali kegiatan dengan melihat tanaman setelah bangun tidur.”
Berbagai literatur ilmiah global, termasuk publikasi di jurnal kesehatan seperti Neurotoxicology, kini mulai mengonfirmasi apa yang dirasakan warga: ada kaitan langsung antara tingginya emisi dengan peningkatan kasus kecemasan dan depresi di kawasan padat lalu lintas. Polusi benar-benar merusak tubuh dan jiwa warga, utamanya para mahasiswa dan pekerja muda yang mobilitasnya sangat tinggi.
Terjebak dalam Sistem yang Mengotori
Upaya warga untuk hidup lebih sehat kerap kali membentur tembok birokrasi dan minimnya fasilitas publik. Kreator konten ramah lingkungan, Nada Arini, menyoroti betapa kebijakan saat ini tidak berpihak pada gaya hidup berkelanjutan.
Salah satu akar masalah laten di Tangsel dan wilayah sekitarnya adalah carut-marutnya sistem pengolahan sampah. Ketika sampah rumah tangga tidak terangkut, warga mengambil jalan pintas yang fatal: membakar sampah secara mandiri. “Praktik membakar sampah bisa membahayakan kesehatan karena sampah yang dibakar isinya bercampur antara sampah organik dengan plastik,” jelas Nada. Praktik ini melepaskan koktail gas beracun yang langsung berkontribusi pada tebalnya polusi udara di area permukiman.
Jalan Keluar Konstruktif
Menghadapi krisis struktural ini, jurnalisme tidak boleh hanya berhenti pada ratapan. Ada solusi terukur yang harus segera diadvokasi.
Dimas Gilang, Program Director Bike2Work Indonesia, mendorong perbaikan radikal pada sistem transportasi. Pemerintah daerah harus memprioritaskan integrasi moda transportasi publik yang sehat dan ramah lingkungan. Fasilitas pejalan kaki dan pesepeda—seperti area parkir sepeda yang aman di titik transit—harus diperbanyak agar warga tidak lagi bergantung pada kendaraan bermotor pribadi.
Untuk benar-benar mengubah lanskap udara Tangsel, perubahan tata ruang ini juga perlu dibarengi dengan komitmen transisi energi. Mempercepat ekosistem kendaraan listrik (EV) dan menyediakan infrastruktur pengisian daya (SPKLU) yang memadai di seluruh kota satelit merupakan pilar penting untuk menekan emisi gas buang dari jutaan kendaraan yang setiap hari melintas.
Seperti yang ditegaskan CISDI, polusi udara harus dilihat dengan lensa yang lebih luas. Ini bukan lagi sekadar isu lingkungan sektoral, melainkan darurat kesehatan publik. Mulai dari memilih untuk berjalan kaki pada jarak dekat, menata ulang sistem sampah, hingga menuntut transisi penuh ke mobilitas nol-emisi—langkah-langkah ini adalah syarat mutlak agar napas di kota satelit tidak lagi menjadi ancaman bagi masa depan.
- Jerat Polusi Udara pada Jiwa dan Raga Warga Tangsel

- Ekspedisi Kolaboratif Pulihkan Terumbu Karang di Pulau Buru

- Menimbang Nuklir di Pusaran Arus Transisi Energi Indonesia

- Menjaga Jejak Tsunami Purba di Selatan Jawa

- Menghidupkan Kembali Terumbu Karang di Teluk Ekas

- Peringatan Utang Lingkungan yang Diwariskan di Hari Lingkungan 2026





