Di Provinsi Riau, terbentang Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH), sebuah kawasan konservasi alam dengan luas mencapai lebih dari 6.000 hektar yang telah ditetapkan oleh Menteri Kehutanan semenjak tahun 1999. Idealnya, kawasan ini menjadi benteng pertahanan ekologis yang rimbun. Namun, kenyataan di lapangan berbicara lain. Saat ini, sebagian besar hamparan hijau di Tahura SSH telah terkoyak oleh deforestasi dan degradasi parah yang diakibatkan oleh aktivitas ilegal, mulai dari perambahan lahan hingga pembalakan liar.
Kondisi kritis di Riau ini mencerminkan krisis lingkungan yang tengah melanda dunia. Data dari United Nations Convention to Combat Desertification (UNCCD) menunjukkan bahwa hingga separuh dari seluruh ekosistem padang rumput dan lahan di dunia saat ini terdegradasi atau berada dalam risiko tinggi. Lebih mengkhawatirkan lagi, PBB memprediksi bahwa pada tahun 2050, krisis kekeringan dapat berdampak pada lebih dari tiga perempat total populasi umat manusia. Menghadapi ancaman nyata ini, peringatan global Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia 2026—yang puncak perayaannya tahun ini diselenggarakan di Kenya—menjadi pengingat kritis bagi seluruh negara.
Tahun ini, momentum yang jatuh pada 17 Juni tersebut mengangkat tema “Rangelands: Recognize. Respect. Restore” atau “Padang Rumput: Kenali. Hormati. Pulihkan”. Tema ini bertujuan untuk membangun dan meningkatkan kesadaran publik global agar berpartisipasi aktif dalam melestarikan lingkungan hidup. Hal ini juga selaras dengan deklarasi Sidang Majelis Umum PBB, yakni the UN Decade on Ecosystem Restoration, yang menargetkan pemulihan masif lahan terdegradasi secara global untuk periode 2021-2030. Tak tanggung-tanggung, dunia telah menetapkan target ambisius untuk memulihkan seluas 1,5 miliar hektar lahan kritis hingga tahun 2030 mendatang.
Langkah Nyata di Jantung Riau
Menyambut peringatan krusial tersebut pada tahun 2026 ini, Belantara Foundation bersama mitra sektor swasta dari Jepang mengambil inisiatif nyata di lapangan. Pada Kamis, 11 Juni 2026 lalu, mereka melangsungkan penanaman bibit pohon secara simbolis langsung di kawasan Tahura SSH.
Langkah pelestarian ini tidak dilakukan sendirian, melainkan menggandeng Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) Minas Tahura serta Kelompok Tani Hutan yang menjadi mitra lokal. Aksi penanaman ini dikemas sebagai salah satu wujud nyata dari kerja sama multipihak dalam memulihkan hutan yang terdegradasi. Menariknya, salah satu bibit yang ditanam adalah balangeran (Shorea balangeran). Spesies ini merupakan jenis pohon langka endemik yang saat ini sangat membutuhkan perhatian ekstra agar tidak punah.
Bagi Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, memulihkan ekosistem bukan lagi sekadar pilihan, melainkan isu global yang sangat penting dan sangat mendesak untuk diselesaikan.
“Sesuai dengan misi dari United Nation Sustainable Development Goals (UN SDGs) yaitu no one left behind dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, kami menggunakan pendekatan kolaborasi multipihak,” tegas Dolly yang juga tercatat sebagai anggota Commission on Ecosystem Management IUCN. Ia menambahkan bahwa menggandeng sektor swasta Jepang merupakan strategi untuk mendukung gerakan restorasi di Sumatra, khususnya Riau.
Dolly, yang turut mendedikasikan ilmunya sebagai pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, menjelaskan bahwa seremonial ini adalah bagian dari “Forest Restoration Project: SDGs Together!”. Program yang sudah bergulir sejak 2020 ini didesain untuk memulihkan fungsi hutan secara menyeluruh. Harapannya, program ini mampu mengembalikan fungsi iklim mikro, mengatur tata air ekosistem, serta meredam risiko lingkungan seperti erosi, tanah longsor, pencemaran air, kebakaran lahan, hingga polusi udara.
Lebih jauh, restorasi ini tak hanya berfokus pada pepohonan, namun juga ditujukan untuk memperbaiki kualitas lingkungan secara total—meliputi air, tanah, kualitas udara, hingga populasi satwa liar dan habitatnya. Tentu saja, program ini juga didesain untuk bisa mengerek naik taraf sosial-ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan secara berkelanjutan. Restorasi ekosistem terbukti menjadi langkah strategis untuk memitigasi perubahan iklim, memastikan ketahanan pangan, menjaga ketersediaan air, dan memproteksi biodiversitas.
Sinergi Lintas Negara
Momen Hari Penanggulangan Degradasi Lahan ini memang ditargetkan menjadi kesempatan bagi seluruh elemen, tak terkecuali sektor swasta, untuk ikut turun tangan memulihkan bumi. Pelibatan swasta diharapkan mampu mengakselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), melestarikan pohon lokal yang terancam punah, sekaligus menekan efek perubahan iklim.
Komitmen ini diamini oleh Representative Director APP Japan Ltd., Tan Ui Sian. Ia berjanji akan semakin gencar merangkul para pemangku kepentingan (multi-stakeholders) di Jepang untuk menyokong program Forest Restoration Project: SDGs Together. “Bagi kami kerja sama dengan KPHP Minas Tahura ini telah memberikan nilai tambah lebih besar untuk mengembangkan program dengan melibatkan semua pemangku kepentingan di Jepang,” ungkap Tan. Ia juga menyimpan harapan besar untuk bisa memperluas kemitraan ini ke kancah mancanegara.
Keterlibatan Jepang ini langsung menyasar beberapa target krusial dalam SDGs. Di antaranya adalah SDG 12 terkait pola konsumsi dan produksi berkelanjutan, SDG 13 mengenai tindakan penanganan perubahan iklim, SDG 15 untuk pemulihan ekosistem darat, dan SDG 17 yang berfokus pada penguatan kemitraan global.
Bagi pemangku wilayah setempat, uluran tangan lintas negara ini adalah angin segar. Kepala KPHP Minas Tahura, Sri Wilda Hasibuan, S.Sos., M.Si., menuturkan bahwa instansinya terus berupaya mengawasi dan memulihkan fungsi konservasi Tahura SSH. Namun, ia sadar bahwa hal itu tidak bisa dipikul sendirian. “Upaya ini tidak bisa kami lakukan sendiri, namun perlu adanya sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak,” tuturnya.
Sejak pertengahan tahun 2022 lalu, KPHP Minas Tahura bersama Belantara Foundation dan stakeholders Jepang mulai menggagas program bersama ini. Sri berharap pemulihan lahan kritis di kawasannya bisa berkontribusi signifikan pada mitigasi iklim serta mendukung pemenuhan target Nationally Determined Contribution (NDC) Pemerintah Indonesia dalam mereduksi emisi karbon dari Provinsi Riau.
Di garda depan inisiatif ini berdiri Belantara Foundation, organisasi nirlaba independen Indonesia yang lahir pada tahun 2014. Bergerak secara intensif di wilayah Sumatra dan Kalimantan, yayasan ini terus mengawal konservasi lingkungan, perlindungan satwa, restorasi, hingga pengembangan masyarakat. Misi utamanya adalah menciptakan titik keseimbangan antara pembangunan ekonomi jangka panjang, kesejahteraan warga lokal, dan alam yang terlindungi. Dedikasi ini juga yang membawa Belantara resmi diterima menjadi Anggota International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada November 2024 lalu.
Dari Tahura SSH, aksi penanaman sebatang pohon balangeran menjadi pesan bagi dunia: bahwa degradasi lahan adalah sebuah krisis yang hanya bisa disembuhkan melalui kolaborasi sejati, dari komunitas lokal hingga kemitraan internasional melintasi lautan.
- Aksi Lintas Negara Menyelamatkan Tahura SSH Riau dari Degradasi

- Jerat Polusi Udara pada Jiwa dan Raga Warga Tangsel

- Ekspedisi Kolaboratif Pulihkan Terumbu Karang di Pulau Buru

- Menimbang Nuklir di Pusaran Arus Transisi Energi Indonesia

- Menjaga Jejak Tsunami Purba di Selatan Jawa

- Menghidupkan Kembali Terumbu Karang di Teluk Ekas





