Skip to content Skip to navigation Skip to footer

Efek Domino Karhutla bagi Keselamatan Satwa Liar dan Manusia

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara berulang membakar wilayah Kalimantan dan Sumatera setiap tahunnya. Dibakarnya hutan secara sengaja menyulut bara api dan menimbulkan kabut asap pekat yang turut membekap hidup satwa liar.

Setiap kali api melahap vegetasi, terjadi efek domino destruktif yang gejolaknya merembet dari dalam rimba hingga ke lingkungan hidup manusia.

Efek domino ini dimulai ketika nyala api melahap area perkebunan, hutan sekunder, hingga hutan primer yang menjadi benteng terakhir bagi biodiversitas Indonesia.

Hancurnya vegetasi secara instan menghapus sumber makanan, persediaan air, dan tempat berlindung bagi flora serta fauna.

Hutan yang dibakar ikut membunuh satwa yang bergerak lambat atau terjebak di tengah kepungan api. Sementara satwa yang berhasil lolos dilahap api tak kalah menderita, karena dipaksa menjadi pengungsi ekologis yang melintasi sisa fragmen hutan demi mempertahankan hidup.

Faktor Kesengajaan Manusia

Dr. Abdul Haris Mustari, Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, menegaskan berulangnya karhutla yang melanda Kalimantan dan Sumatera tidak terjadi secara alami, tetapi berakar dari tindakan manusia.

โ€œPola kebakaran tersebut berulang setiap tahun, sementara upaya pencegahan cenderung belum dilakukan secara optimal. Respons pemerintah dan masyarakat sering kali baru menguat ketika kebakaran telah meluas sehingga penanganannya menjadi lebih sulit dan dampaknya semakin besar,โ€ tuturnya.

Dr. Mustari secara lugas menyimpulkan, karhutla di dua pulau besar tersebut tidak terlepas dari aktivitas manusia, baik yang dilakukan oleh pihak korporasi maupun perorangan yang membakar lahan tersebut.

Demi kepentingannya sendiri, kebiadaban pelaku pembakar hutan telah menyengsarakan banyak manusia dan satwa.

โ€œOrang utan, bekantan, macan dahan, rangkong, kuau raja, kucing emas, gajah, harimau, dan tapir merupakan kelompok satwa yang dapat terdampak. Kerusakan habitat tersebut menjadi ancaman serius bagi keanekaragaman hayati karena fungsi ekologis ekosistem dapat hilang dalam waktu singkat,โ€ imbuhnya.

Akar Konflik yang Salah Arah

Seperti disinggung sebelumnya, satwa yang selamat dari api harus kembali bertaruh nyawa untuk mendapatkan tempat bernaung, pakan, dan pasokan air bersih.

Dalam kondisi terdesak, satwa-satwa ini terpaksa mencari perlindungan ke area terdekat, seperti hutan sekunder, kawasan perimeter perkebunan, atau bahkan pemukiman warga.

Perpindahan habitat secara terpaksa ini menjadi pemicu utama meningkatnya frekuensi konflik antara satwa dan manusia.

Saat satwa memasuki area pertanian atau pemukiman untuk mencari makan, manusia sering kali menganggapnya sebagai hama atau ancaman keselamatan.

โ€œPada akhirnya satwalah yang selalu menjadi korban dan disalahkan. Padahal, keluarnya satwa dari habitatnya terjadi karena habitatnya dirusak dan dibakar oleh manusia,โ€ jelas Dr. Mustari.

Hingga saat ini, penanganan karhutla di Indonesia masih didominasi oleh tindakan pemadaman reaktif saat krisis terjadi. Padahal, dampak jangka panjang dari kerusakan tersebut tidak mudah dipulihkan.

Dr. Mustari mengingatkan, tumbuhnya kembali pepohonan di area bekas terbakar tidak serta-merta menandakan pulihnya fungsi lingkungan.

Proses merajut kembali jaring-jaring dan rantai makanan yang terputus memerlukan waktu hingga ratusan tahun, dan belum tentu bisa kembali ke kondisi asli.

Sama seperti pihak yang peduli keberlanjutan ruang hidup lainnya, Dr. Mustari juga menekankan harus ada langkah strategis dari pemerintah maupun penegak hukum.

Jeratan hukum harus secara tegas dilimpahkan tanpa pandang bulu terhadap pelaku pembakaran. Selain itu, harus ada juga upaya penguatan aksi pencegahan, serta perlindungan dan perluasan kawasan konservasi seperti taman nasional, cagar alam, dan suaka margasatwa.

โ€œLebih baik mencegah daripada bereaksi dan panik saat terjadi kebakaran hutan dan lahan,โ€ tegasnya.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses