Skip to content Skip to navigation Skip to footer

Kabut Asap Kebakaran Hutan di Papua dan Maluku Merampas Tangkapan Nelayan Sulawesi Tenggara

Bagi masyarakat pesisir di Desa Wawatu, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, lautan adalah halaman bermain sekaligus ruang hidup yang sangat mereka kenal. Cakrawala biasanya membentang dengan garis demarkasi yang tegas antara birunya ombak dan langit Sulawesi Tenggara. Namun, selama dua pekan terakhir di bulan Oktober 2026 ini, cakrawala itu pudar. Garis pemisah tersebut lenyap ditelan tabir kelabu yang menyesakkan dada dan membutakan pandangan.

Di atas perahu kayu kecilnya, Akbar (41) menyipitkan mata. Ujung pandangannya buntu, terhalang oleh partikel kabut asap pekat yang mengambang di atas permukaan laut. Asap ini tidak berasal dari pesisir Konawe Selatan, melainkan menempuh perjalanan ratusan bahkan ribuan kilometer—terbawa angin dari hutan dan lahan yang tengah terbakar hebat di Papua dan Maluku.

Dampak dari kebakaran daratan yang jauh itu kini merambat ke lautan, merenggut tidak hanya udara bersih, tetapi juga sumber penghidupan nelayan kecil seperti Akbar.

Hilangnya “Kompas Alam” di Lautan

Melaut, bagi nelayan tradisional pesisir Sulawesi, bukanlah sekadar melempar kail secara acak lalu menunggu keajaiban. Ini adalah ilmu pasti yang diwariskan lintas generasi, sebuah metode kuno yang sangat bergantung pada kejernihan mata membaca alam. Mereka tidak menggunakan perangkat navigasi modern atau Global Positioning System (GPS). Navigasi mereka adalah siluet daratan, pucuk pepohonan di bukit, dan lekuk garis pantai.

“Kita kan biasa itu untuk menandakan satu tempat, kita bilang itu biasanya galang, kita buat persegitiga,” tutur Akbar saat menceritakan keresahannya di sela-sela kegiatan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan yang digelar di Kantor Kelurahan Nambo, Kota Kendari, Sabtu (17/10/2026).

Metode galang atau triangulasi tradisional ini mengharuskan nelayan menarik garis imajiner dari dua atau tiga titik tanda (landmark) di daratan untuk menentukan satu titik koordinat persis di mana terumbu karang atau rumah ikan berada.

“Jadi pada saat buat persegitiga itu, titik koordinat tempat kita memancing itu tidak bisa kita tahu karena pengaruh kabut asap. Tanda-tanda alam yang bisa kita ambil tidak kelihatan jelas,” jelas Akbar dengan nada getir.

Ketika kabut asap turun menyelimuti lautan, kompas alam itu buta. Jarak pandang menurun drastis. Gunung dan bukit pesisir raib di balik tirai putih keabuan. Nelayan kehilangan arah, perahu-perahu mereka hanya berputar-putar di atas air tanpa kepastian, dan kail diturunkan di lokasi yang salah.

Imbasnya memukul telak periuk nasi mereka. Titik-titik kumpul ikan tak bisa ditemukan. “Hasil tangkapan ikan sejak kabut asap ini sangat, sangat berkurang,” ungkap Akbar.

Perahu Nelayan berlabuh di Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra)

Kiriman Petaka dari Timur dan Barat

Apa yang dialami Akbar dan kawan-kawan nelayan di Konawe Selatan adalah ujung dari rantai panjang bencana ekologis kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah lain.

Di Stasiun Maritim Kendari, instrumen Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merekam fenomena yang memprihatinkan ini. Kabut asap membuat jarak pandang (visibility) di lautan merosot tajam, tercatat kurang dari 5 kilometer. Bagi kapal besar, ini adalah lampu kuning keselamatan pelayaran. Bagi perahu nelayan kecil, ini berarti berhentinya denyut ekonomi.

Faisal Habibie, Koordinator Operasional BMKG Stasiun Maritim Kendari, memetakan asal-usul petaka udara ini. Sebaran asap tidak datang dari satu arah. Sulawesi Tenggara kini berada di posisi “terkepung” asap lintas pulau.

“Sebaran asap di wilayah timur Sulawesi Tenggara, seperti Kendari, Buton, dan Wakatobi, masih didominasi kiriman dari Papua Selatan dan Maluku Tenggara,” ungkap Faisal. Sementara itu, untuk wilayah bagian barat Sulawesi Tenggara seperti Kolaka Utara, angin membawa partikulat asap sisa pembakaran lahan dari wilayah Kalimantan.

BMKG mencatat bahwa kabut asap ini tidak statis, melainkan bergerak fluktuatif mengikuti arah dan kecepatan angin. Ada kalanya pesisir bernapas lega, seperti yang terjadi pada pertengahan Oktober.

“Memang pada tanggal 15, 16 (Oktober 2026) cukup cerah dan cukup bersih kualitas udaranya. Tapi di tanggal 17, 18, dan 19, partikulat asap kembali masuk ke wilayah Sulawesi Tenggara,” terang Faisal. Prediksi cuaca ke depan menunjukkan bayang-bayang kelabu ini masih akan menyelimuti sebagian besar wilayah perairan Sultra, menandakan bahwa penderitaan nelayan belum akan segera berakhir.

Terjebak dalam Ketidakpastian

Kisah nelayan Desa Wawatu menjadi cerminan ironis tentang bagaimana krisis lingkungan beroperasi: mereka yang tidak pernah menebang atau membakar hutan di pulau seberang, justru harus menanggung kerugian ekonomi yang nyata di wilayah perairan mereka sendiri. Ekosistem pesisir dan hutan nyatanya terhubung oleh angin yang kini mengantar petaka.

Selama karhutla di Papua, Maluku, dan Kalimantan belum sepenuhnya padam, dan arah angin tidak berubah, selama itu pula Akbar dan nelayan Konawe Selatan lainnya harus menavigasi laut yang buta. Perahu mereka mungkin akan tetap tertambat, atau memaksakan diri membelah lautan kelabu dengan harapan kosong—menunggu hari di mana langit laut Wawatu kembali membiru, dan titik-titik kail peninggalan leluhur kembali terlihat di ufuk mata.


Jurnalisme lingkungan Indonesia butuh dukungan Anda. Bantu Ekuatorial.com terus menyajikan laporan krusial tentang alam dan isu iklim.


Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses