Skip to content Skip to navigation Skip to footer

Menjadikan Rumah Ibadah Benteng dalam Menghadapi Krisis Iklim

Banjir bandang, cuaca ekstrem, hingga ancaman kekeringan menjadi krisis iklim yang semakin nyata di Indonesia. Sebagai upaya meningkatkan ketahanan iklim, tempat ibadah mulai didorong agar dapat melewati fungsi ritual keagamaan semata.

Melihat besarnya potensi tersebut, Greenpeace Indonesia bersama Kader Hijau Muhammadiyah, EcoMasjid, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) meluncurkan Panduan Masjid sebagai Pusat Ketahanan Iklim Berbasis Komunitas di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.

Inisiatif ini dirancang sebagai panduan praktis bagi pengurus takmir masjid, jemaah, dan masyarakat sekitar untuk mengubah rumah ibadah menjadi ekosistem yang tangguh bencana serta ramah lingkungan.

Peluncuran panduan ini meletakkan masjid sebagai pusat pemulihan sosial, mitigasi lingkungan, serta tempat perlindungan darurat ketika bencana melanda.

โ€œUmmah for Earth Greenpeace Indonesia bersama tim penyusun melihat bahwa ketahanan masjid dalam menghadapi krisis iklim dapat dibangun melalui pengetahuan, gotong royong, pemanfaatan instrumen ZISWAF untuk lingkungan, serta aksi nyata yang dilakukan jamaah dan anggota komunitas di sekitarnya,โ€ terang Riska Rahman, Kepala Proyek Ummah for Earth Greenpeace Indonesia.

Mengoptimalkan Ruang Berkumpul Umat

Seperti diketahui, masjid memiliki posisi strategis dalam menggerakkan masyarakat di tengah pola hidup perkotaan yang cenderung semakin individualistis.

Berdasarkan Sistem Informasi Masjid (SIMAS) Kementerian Agama RI, saat ini ada 710.739 masjid dan mushola yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia.

Menurut Pegiat Kader Hijau Muhammadiyah, David Efendi, banyaknya jumlah masjid berpotensi menjadikannya sebagai tempat untuk menerapkan nilai-nilai Islam ramah lingkungan.

Kami menyadari bahwa masjid sendiri dapat menjadi ruang untuk membangun kepedulian lingkungan dalam keseharian ibadahnya. Dari semua masjid yang dikelola Muhammadiyah, kami berusaha menjadikan setiap aktivitas di masjid, mulai dari berwudhu, salat, menggunakan listrik, mengelola sampah, hingga menjaga kebersihan sebagai kesempatan untuk mempraktikkan nilai-nilai Islam ramah lingkungan,โ€ ujar David.

Riska menambahkan bahwa kerentanan tiap wilayah di Indonesia berbeda-beda, mulai dari risiko banjir, kekeringan, hingga kebakaran hutan. Ketika bencana seperti banjir terjadi saat musim hujan, masjid kerap menjadi simbol harapan dan tempat perlindungan awal bagi warga terdampak. Oleh karena itu, penguatan kapasitas masjid dianggap sebagai langkah awal dalam memperkokoh ketahanan komunitas lokal.

Empat Pilar Utama Panduan Ketahanan Iklim

Dokumen panduan yang diterbitkan memuat petunjuk teknis dan langkah aksi konkrit yang dibagi ke dalam empat pilar utama.

Pertama mitigasi dan adaptasi bencana, yaitu menyiapkan masjid sebagai posko siaga bencana, titik evakuasi, serta pusat logistik dan bantuan kemanusiaan saat cuaca ekstrem atau bencana alam terjadi.

Kedua, pengelolaan sampah dan efisiensi sumber daya untuk mendorong penerapan gaya hidup minim sampah (zero waste), seperti pembatasan kantong plastik saat pembagian daging kurban atau konsumsi buka puasa bersama, serta pengolahan sampah organik.

Ketiga, peralihan ke energi terbarukan dengan mengurangi jejak karbon tempat ibadah melalui efisiensi daya dan pemasangan panel surya atap (solar rooftop).

Keempat, edukasi dan pelibatan komunitas dengan mengoptimalkan peran takmir, ustaz, dan tokoh agama untuk menyampaikan materi kepedulian lingkungan melalui mimbar khotbah maupun kajian keagamaan.

โ€œDengan membekali komunitas masjid melalui pengetahuan dan keterampilan tanggap bencana, kami harap masjid dapat lebih siap dalam menghadapi bencana, lebih tanggap merespon bencana, serta mengurangi risiko bencana,โ€ ujar Shofa Qudus, Kepala DMC Dompet Dhuafa.

Dari Istiqlal hingga Pembangkit Listrik Surya Masjid Keramat

Pemilihan Masjid Istiqlal sebagai lokasi peluncuran panduan tak lepas dari rekam jejaknya dalam penerapan konsep bangunan ramah lingkungan.

Sebelumnya, pada April 2022, Masjid Istiqlal sudah tercatat sebagai tempat ibadah pertama di dunia yang meraih sertifikat keberlanjutan Excellence in Design for Greater Efficiencies (EDGE) dari International Finance Corporation (IFC).

Melalui proses renovasi dan efisiensi operasionalnya, Istiqlal mencatat penghematan penggunaan energi sebesar 23 persen melalui penggunaan sistem pendingin hemat energi dan lampu LED.

Selain itu, Istiqlal memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap berkapasitas 163 kWP yang menyuplai sekitar 13 persen kebutuhan energinya. Penghematan konsumsi air di kompleks masjid tersebut mencapai 36 persen berkat penggunaan keran hemat air serta daur ulang air bekas wudu.

Upaya serupa juga sudah mulai direplikasi di tingkat komunitas lokal. Greenpeace Indonesia mencatat sejumlah aksi komunitas sudah dilakukan. Antara lain pemasangan panel surya di Masjid Jami Keramat Luar Batang (Jakarta Utara) dan Pesantren Darul Afkar (Banten).

Kolaborasi Lintas Organisasi Keagamaan

Di luar kerentanan bencana, kerentanan ekonomi juga menjadi isu yang dihadapi oleh masyarakat dalam situasi bencana dan krisis iklim.

Bagi komunitas muslim, dana dan aset Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) yang ada di masjid dan aksesnya amat dekat dengan keseharian warga, serta menyimpan potensi untuk mendukung proyek hijau berkelanjutan dan tanggap bencana.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses