Bukan hanya penyerap karbon, padang lamun juga menjaga sumber penghidupan warga pesisir.
Di balik tenangnya perairan pesisir Bali Utara, padang lamun menjalankan peran yang kerap luput dari perhatian. Hamparan tumbuhan laut ini menjadi habitat bagi berbagai biota, membantu menyimpan karbon, sekaligus menopang kehidupan masyarakat yang menggantungkan pangan dan penghasilan pada laut.
Bagi warga pesisir, padang lamun bukan sekadar bagian dari ekosistem yang penting bagi iklim. Keberadaannya berkaitan langsung dengan isi dapur keluarga, terutama bagi perempuan yang mencari kerang di perairan dangkal. Di Kabupaten Buleleng, perlindungan ruang laut antara lain dilakukan melalui kawasan konservasi yang mencakup perairan di sejumlah wilayah pesisir, dari Pemuteran dan Pejarakan hingga Bondalem serta sekitar Pelabuhan Celukan Bawang.
Pagi di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, menjadi waktu bagi Ni Kadek Juliani untuk menyusuri pesisir. Bersama suaminya, Kadek Agus, ia mencari kerang di perairan dangkal. Bagi Juliani, laut bukan hanya pemandangan di tepi pantai, melainkan tempat mencari bahan pangan bagi keluarga dan, ketika hasilnya berlebih, tambahan penghasilan.
Kerang yang mereka kumpulkan tidak hadir begitu saja. Biota tersebut hidup di lingkungan pesisir yang menyediakan tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak. Salah satu ekosistem yang mendukung kehidupan itu adalah padang lamun, hamparan tumbuhan berbunga yang tumbuh terendam di perairan laut dangkal.
Lamun berbeda dari rumput laut yang termasuk kelompok alga. Sebagai tumbuhan berbunga, lamun memiliki akar, batang menjalar atau rimpang, daun, bunga, dan buah. Rimbun daunnya menjadi tempat berlindung sekaligus ruang mencari makan bagi berbagai biota, termasuk kerang, kepiting, kuda laut, dan penyu. Akar serta rimpangnya juga membantu menahan sedimen di dasar perairan.
Untuk memanfaatkan hasil laut tersebut, Juliani dan perempuan pesisir lainnya menjalankan tradisi turun-temurun yang dikenal sebagai Meting. Kegiatan ini dilakukan dengan menyusuri perairan ketika air laut surut, terutama menjelang atau saat bulan purnama. Pada saat itu, kerang dan biota lain lebih mudah ditemukan di sela-sela pasir dan lamun.

Meting tidak hanya berkaitan dengan kegiatan mencari pangan. Sebelum turun ke laut, sebagian warga meletakkan sesajen kecil, seperti canang sari, di bibir pantai. Ritual tersebut menjadi ungkapan rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan dan kelimpahan rezeki. Dalam tradisi ini, perempuan juga mewariskan pengetahuan mengenai laut dan aturan dalam mengambil hasilnya.
Ada batas yang mereka pegang. Mereka tidak boleh sengaja merusak atau mencabut akar lamun, dan kerang yang masih kecil tidak seharusnya diambil. Aturan itu membantu menjaga agar biota laut tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang biak. Pengetahuan tersebut diwariskan melalui pengalaman sehari-hari, termasuk dengan mengamati kondisi lamun dan hasil yang ditemukan.
Bagi masyarakat pesisir, padang lamun dapat diibaratkan sebagai supermarket bawah laut. Dari laut, mereka memperoleh kerang untuk dimasak, serta mengenali beragam biota yang dimanfaatkan secara tradisional. Pengetahuan tentang jenis dan kegunaan biota tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal yang hidup bersama tradisi Meting.
Selain menyediakan habitat, padang lamun membantu meredam energi gelombang dan menstabilkan sedimen. Fungsi ini membuat lamun penting bagi lingkungan pesisir, sementara kemampuannya menyimpan karbon dalam biomassa dan sedimen menjadikannya bagian dari ekosistem karbon biru. Dengan demikian, keberadaan lamun berhubungan dengan kesehatan laut sekaligus kehidupan masyarakat yang bergantung padanya.
Juliani dan Kadek Agus biasanya menghabiskan dua hingga tiga jam untuk mencari kerang dan dapat membawa pulang satu ember penuh. Hasilnya lebih sering menjadi lauk keluarga, misalnya sup atau sambal pelengkap nasi. Kerang baru dijual ketika jumlah tangkapan cukup banyak, sehingga manfaat laut bagi keluarga tidak selalu berbentuk uang tunai, tetapi juga berupa pangan sehari-hari.
Daging kerang dapat dijual sekitar Rp80.000 per kilogram. Namun, untuk mendapatkan satu kilogram daging, mereka perlu mengumpulkan sekitar 10 kilogram kerang utuh beserta cangkangnya. Proses mengumpulkan dan memisahkan daging kerang membutuhkan waktu serta tenaga.
“Bulan Purnama ini kesempatan bagi kami untuk mencari kerang, karena air laut surut dan kerang muncul ke permukaan,” tutur Juliani. Pengalamannya menunjukkan bagaimana aktivitas mencari pangan mengikuti siklus alam dan kondisi pasang surut laut.

Padang Lamun dalam Data dan Kawasan Konservasi
Keberadaan lamun di pesisir Pemuteran masih dapat dijumpai. Namun, keberadaan ekosistem ini perlu dilihat bersama data mengenai luas dan kondisinya. Dokumen Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi Bali mencatat luas padang lamun di Kabupaten Buleleng mencapai 137,08 hektare. Dari jumlah itu, 68,98 hektare masuk kategori “kurang kaya” dan 68,10 hektare kategori “miskin”. Dalam data tersebut, tidak ada luasan yang tercatat dalam kategori “kaya”.
Data itu merujuk pada Peta Padang Lamun Rencana Tata Ruang Provinsi Bali yang dicantumkan kembali dalam dokumen perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Angka tersebut memberi gambaran tentang kondisi dan sebaran lamun yang digunakan dalam perencanaan, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan perubahan dari tahun ke tahun. Penilaian tren memerlukan pemantauan dengan metode, lokasi, dan waktu pengukuran yang konsisten.
Perlindungan formal ruang laut di Buleleng juga telah ditetapkan. Melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 122 Tahun 2023, pemerintah menetapkan Kawasan Konservasi di Perairan di Wilayah Buleleng, Provinsi Bali, seluas 18.060,18 hektare. Keputusan yang ditetapkan pada 31 Juli 2023 itu berstatus berlaku. Penetapan kawasan menjadi salah satu dasar perlindungan, tetapi pengelolaan dan pemantauan tetap diperlukan agar ekosistem penting di dalamnya terjaga.
Sebuah penelitian di kawasan Pelabuhan Celukan Bawang pada Juni–Juli 2018 mencatat rata-rata tutupan lamun sebesar 58,15 persen di stasiun pertama, 55,36 persen di stasiun kedua, dan 59,38 persen di stasiun ketiga. Penelitian itu mengategorikan tutupan di ketiga stasiun sebagai kurang kaya atau kurang sehat dan menemukan 10 jenis lamun. Cymodocea rotundata menjadi jenis dengan frekuensi kemunculan tertinggi, yakni 89,9 persen.
Hasil penelitian tersebut menggambarkan kondisi pada 2018, bukan kondisi terkini pada 2026. Karena itu, pemantauan terbaru dibutuhkan untuk mengetahui apakah kondisi lamun berubah dan seberapa besar perubahan tersebut.

Menjaga Ekosistem, Menjaga Penghidupan
Akademisi Universitas Pendidikan Ganesha, Gede Iwan Setiabudi, menjelaskan bahwa padang lamun berfungsi sebagai tempat pembesaran anakan ikan, area mencari makan, dan ruang berkembang biak bagi berbagai biota. Kanopi daunnya menjadi tempat berlindung bagi ikan-ikan kecil dari predator, sementara akar dan rimpangnya membantu menstabilkan pasir serta menjebak partikel organik yang mendukung kehidupan biota dasar laut.
Menurut Iwan, penurunan luas dan kualitas tutupan lamun dapat mengganggu jaring makanan di pesisir dan berdampak pada hasil tangkapan. Jika habitat itu rusak, warga yang mencari kerang, teripang, bulu babi, dan rajungan ikut menghadapi risiko terhadap sumber penghidupan mereka.
Iwan juga menilai perikanan tangkap skala kecil dan pengolahan hasil laut oleh kelompok perempuan sebagai fondasi ekonomi yang berada di luar sektor pariwisata. Meski begitu, nilai ekonomi restorasi lamun belum dihitung atau dinyatakan dalam angka pasti. Hal ini membuat manfaat ekonomi pemulihan lamun belum dapat digambarkan melalui ukuran moneter yang terukur.
Pengetahuan warga menjadi bagian penting dalam membaca kondisi ekosistem. Juliani, misalnya, memperhatikan kerapatan daun lamun ketika menyusuri perairan. “Kalau kami jalan dan melihat daun lamun rapat, artinya masih kuat,” ujarnya.
Sebaliknya, ketika daun mulai jarang atau ujungnya patah, ia menganggapnya sebagai tanda bahwa kondisi lamun tidak sebaik biasanya. Pengamatan itu memengaruhi keputusan mereka saat mengambil hasil laut. Juliani memahami bahwa pengambilan berlebihan dapat mengurangi sumber pangan yang mereka andalkan.
“Kalau yang kecil diambil semua, habis sudah,” kata Juliani. “Kami tidak cari-cari alasan. Kalau sumbernya habis, yang susah bukan pemerintah, tapi keluarga kami. Jadi adat itu menjaga kami juga.”
Aturan adat, dalam praktiknya, bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan laut, tetapi juga membantu menjaga keberlanjutan sumber pangan keluarga. Pengalaman warga memperlihatkan bahwa pemanfaatan hasil laut dan perlindungan habitat saling berkaitan.
Laut yang sehat juga menopang kegiatan ekonomi lain. Made Gunaksa dari Yayasan Karang Lestari menceritakan bahwa kawasan konservasi di Pemuteran menjadi tujuan wisata menyelam dan snorkeling yang membuka sumber penghasilan baru. Kelompok nelayan turut berkolaborasi dengan badan usaha milik desa dalam pengelolaan kawasan.
Namun, upaya menjaga laut menghadapi kendala. Gunaksa, yang pernah menjadi bagian dari Pecalang Segara atau penjaga keamanan laut adat, mengatakan patroli laut tidak lagi aktif sejak pandemi COVID-19. Ketiadaan dukungan dana yang stabil dan belum adanya regulasi hukum resmi yang melindungi para pecalang menjadi hambatan. Padahal, menurutnya, penjagaan tersebut berperan dalam pemulihan laut setelah kerusakan akibat pengeboman ikan pada masa lalu.

Ancaman terhadap padang lamun juga datang dari perubahan kualitas air, sedimentasi, dan kerusakan dasar laut. Kadek, perempuan pencari kerang lainnya, mengamati bahwa air yang semakin keruh dapat memengaruhi lamun.
“Lamun itu perlu matahari. Kalau airnya jadi keruh terus, kami lihat sendiri. Daun lamunnya seperti tidak sekuat dulu,” tuturnya.
Di sekitar Pelabuhan Celukan Bawang, tekanan terhadap dasar laut menjadi perhatian. Penelitian yang dilakukan pada 2018 mencatat tutupan lamun di tiga stasiun berada di bawah 60 persen. Jangkar kapal dan tingginya kekeruhan air disebut sebagai faktor yang dapat mengganggu hamparan lamun di kawasan tersebut. Namun, kondisi terkini perlu dipastikan melalui pemantauan baru.
Kepala Bidang Perikanan pada Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng, Abdul Manaf, menekankan pentingnya menjaga keterhubungan tiga ekosistem pesisir: mangrove, lamun, dan terumbu karang. Menurutnya, lamun membantu menahan sedimentasi agar tidak mengganggu terumbu karang di perairan yang lebih dalam.
Manaf mengakui bahwa perhatian pemerintah kabupaten terhadap konservasi lamun selama ini belum besar dan masih lebih banyak berfokus pada mangrove serta terumbu karang. Ia berharap kewenangan dan pelibatan pemerintah kabupaten dalam pengelolaan wilayah pesisir setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 dapat dioptimalkan.

Memulihkan Lamun, Merawat Masa Depan
Di tengah berbagai tekanan, warga dan akademisi berupaya memulihkan ekosistem laut. Di perairan Pemuteran, Gede Iwan Setiabudi menginisiasi teknologi ABTRALO (Alat Bantu Transplantasi Lamun Organik). Struktur berbahan organik itu dipasang untuk membantu menstabilkan sedimen dan melindungi bibit lamun muda dari arus kuat.
Pemantauan di Pantai Pemuteran dan Penimbangan menunjukkan struktur tersebut mulai ditumbuhi makroalga dan menjadi mikrohabitat bagi anak-anak ikan. Temuan ini menjadi perkembangan awal dari upaya restorasi, meski pemulihan ekosistem tetap membutuhkan pemantauan dan perawatan berkelanjutan.
Upaya serupa dilakukan di desa lain. Di Pejarakan, Nature Conservation Forum (NCF) Putri Menjangan menggabungkan kawasan restorasi lamun dengan struktur terumbu karang Biorock. Sementara di perairan Bondalem, warga dan kelompok pengawas pesisir memasang instalasi hexadome untuk mendukung pemulihan habitat laut.
Oka, salah satu penggerak pelestarian laut di Bondalem, mengingat masa ketika warga belum memahami dampak penarikan jangkar sembarangan atau penangkapan ikan tanpa aturan.
“Dulu kami pikir itu biasa… Tapi waktu kami tarik, ternyata berbahaya. Habitat jadi rusak. Sejak itu kami tidak mau laut kami jadi korban lagi,” kenangnya.
Bagi Oka, konservasi bukan hanya tentang memperbaiki habitat, tetapi juga menjaga agar sumber penghasilan nelayan tidak ikut hilang ketika lingkungan laut rusak. Namun, pemulihan tidak selesai ketika struktur atau bibit telah ditanam. Susilawati, warga yang terlibat langsung dalam restorasi, mengingatkan bahwa tantangan sesungguhnya adalah memastikan tanaman tetap hidup.
“Kita tanam itu relatif mudah. Yang susah itu memastikan tetap hidup,” ujarnya.
Karena itu, keterlibatan warga diperlukan untuk memantau, merawat, dan menjaga bibit dari gangguan. Restorasi membutuhkan komitmen yang berkelanjutan, bukan hanya kegiatan penanaman dalam satu waktu.
Dari Juliani yang mengumpulkan kerang hingga warga yang memasang struktur restorasi di dasar laut, upaya mereka bertemu pada tujuan yang sama: mempertahankan ruang hidup pesisir. Padang lamun menyediakan habitat bagi biota, menyimpan karbon, membantu menjaga kestabilan perairan, dan menopang pangan keluarga.
Kerang yang dimasak Juliani di dapur menjadi pengingat bahwa padang lamun di Bali Utara bukan sekadar hamparan tumbuhan bawah laut. Menjaganya berarti merawat sumber pangan dan penghidupan warga pesisir, sekaligus memastikan ekosistem itu tetap dapat dimanfaatkan oleh generasi berikutnya.
*Liputan ini tayang atas dukungan Koalisi Media Alternatif (KOMA).
- Padang Lamun, Napas Kehidupan Perempuan Pesisir Bali Utara

- Dua Tahun Rezim Prabowo-Gibran: Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah!

- Kabut Asap Kebakaran Hutan di Papua dan Maluku Merampas Tangkapan Nelayan Sulawesi Tenggara

- Kebakaran Hutan di Raja Ampat Ancam Habitat Cenderawasih

- Senja Merah di Pelabuhanratu Karena Kebakaran Hutan Citepus

- Tambang di Konawe Selatan Ancaman Nyata Swasembada Pangan





