Gemuruh suara turbin dan pipa panas bumi tak sekadar menyalurkan energi dari bawah tanah sebagai sumber pembangkit listrik. Terdapat potensi lain berupa endapan silika dari fluida panas bumi yang dapat diolah secara inovatif menjadi penyubur dan penguat tanaman.
Ide pengolahan ini muncul dari diskusi para peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang melihat limbah silika hasil pembangkit panas bumi selama ini kurang dimanfaatkan secara optimal. Kini, limbah itu diubah menjadi nanosilika yang digadang bisa menyuburkan tanaman, sekaligus membantu menghubungkan antara energi bersih dan keberlanjutan lingkungan pertanian.
Melalui rekayasa material dan pengendalian proses yang dikembangkan secara bertahap, silika geothermal berhasil diolah menjadi nanosilika dengan karakteristik unggul, stabil, dan konsisten.
“Proses ini juga dirancang agar memiliki potensi replikasi dan peningkatan skala, sehingga membuka peluang menuju tahap hilirisasi dan penerapan industri di masa depan,” kata Dosen Fakultas Teknik, Departemen Teknik Kimia UGM, Himawan Tri Bayu Murti Petrus, dalam keterangan resminya.
Ubah limbah jadi manfaat
Lebih lanjut, Himawan menjelaskan, nanosilika yang diolah dari limbah ini memberikan kontribusi yang signifikan dalam memperkuat dinding sel tanaman, meningkatkan ketegakan tanaman, serta memperbaiki efisiensi transportasi nutrisi. Keunggulan nanosilika terletak pada ketersediaan hayatinya yang tinggi karena ukuran dan bentuknya mudah diserap tanaman.
Tak hanya itu, penggunaannya juga sangat efisien, yakni sekitar 1–2 kilogram per hektar. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan pupuk makro seperti NPK, sehingga mendukung praktik pertanian yang lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan.
Penggunaan nanosilika juga telah melalui uji coba lapangan. Pengujian tersebut menunjukkan nanosilika dapat meningkatkan produktivitas tanaman hingga 30–50 persen pada berbagai komoditas seperti padi, jagung, alpukat, pepaya, dan anggur.
Namun sebagai catatan, peningkatan ini tidak semata-mata disebabkan oleh nanosilika, tetapi juga hasil sinergi dengan komponen lain seperti bahan humat dan boron yang dirancang dalam satu formulasi berbasis pendekatan total extraction dan perbaikan kesehatan tanah secara menyeluruh.
“Kita tidak hanya berbicara tentang nanosilikanya saja, tetapi juga sinergitas dari aditif yang kita tambahkan untuk memastikan bahwa tanahnya sehat dan tanamannya juga sehat,” jelas Himawan.
Manfaat bagi teknologi dan energi
Pengolahan limbah panas bumi yang menghasilkan nanosilika tidak hanya bermanfaat bagi tanaman, tetapi juga bisa diperluas ke sektor teknologi dan energi. Himawan memaparkan, nanosilika dapat dikombinasikan dengan hidrogel sebagai sistem pendingin pusat data dan baterai. Kombinasi ini mampu meningkatkan kapasitas penyerapan air hidrogel hingga tiga sampai lima kali lipat, sehingga meningkatkan efisiensi dan kinerja pendinginan.
“Riset lanjutan juga diarahkan pada pengembangan material penyerap uap air dari udara, serta aplikasi lain seperti biosensor dan biomaterial yang mendukung pengembangan teknologi hijau dan sistem cerdas,” paparnya.
Tantangan hilirisasi
Meski digadang memiliki potensi besar, tetapi penggunaan nanosilika memiliki tantangan tersendiri yakni pada proses hilirisasi. Membawa hasil riset dari skala laboratorium menuju implementasi industri dan pemanfaatan luas bukanlah hal yang mudah.
Oleh karena itu, pengembangan spektrum produk turunan dari nanosilika akan terus diperluas agar ekonomi sirkular tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi terwujud dalam rantai nilai yang berkelanjutan, aplikatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta industri nasional.
“Selain pada hilirisasi, tantangan lain juga bagaimana kita tidak berhenti pada satu spektrum produk, melainkan mengembangkan spektrumnya lebih luas lagi untuk membuka potensi hilirisasi lainnya,” jelas Himawan.
Himawan berharap, inovasi ini tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan manfaat nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan mendorong adopsi teknologi berbasis keberlanjutan.
“Sebagai peneliti, kami selalu berharap bahwa hasil penelitian itu tidak berhenti pada jurnal internasional, tidak berhenti pada publikasi, tidak hanya berhenti pada paten, tetapi benar-benar bermanfaat dan benar-benar memberikan dampak ke masyarakat,” tandasnya.