Pemerintah Indonesia menyetujui proyek Geothermal di Halmahera, Maluku Utara, terkoneksi dengan Israel. Pemerintah secara resmi menyetujui proyek panas bumi Telaga Ranu di Halmahera dikelola oleh PT Ormat Geothermal Indonesia, perusahaan yang terafiliasi dengan Ormat Technologies, yang oleh sejumlah media internasional disebut memiliki keterkaitan dengan sistem ekonomi Israel.
Izin tersebut dikeluarkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam keputusan No. 8.K/EK.04/MEM.E/2026 tertanggal 8 Januari 2026, sebagai bagian dari program transisi energi menuju target Net Zero Emission 2060.
Persetujuan ini segera menjadi sorotan karena dinilai menghadirkan kontradiksi politik. Sebab, Indonesia selama ini dikenal konsisten mendukung perjuangan Palestina dan tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
Dalam laporannya, Middle East Monitor menyoroti meskipun Indonesia menampilkan diri sebagai pembela hak-hak Palestina, tetapi nyatanya telah memberikan konsesi panas bumi di Halmahera kepada PT Ormat Geothermal Indonesia, perusahaan yang terhubung dengan sistem ekonomi Israel.
Konsesi Telaga Ranu
Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Telaga Ranu dilelang dan dimenangkan oleh PT Ormat Geothermal Indonesia. Proyek ini dirancang untuk mengembangkan potensi panas bumi di Halmahera sebagai bagian dari perluasan energi terbarukan nasional.
Proyek ini disebut sebagai langkah strategis dalam agenda dekarbonisasi Indonesia. Tetapi Middle East Monitor melihat kebijakan ini berisiko melemahkan posisi politik Indonesia terhadap Palestina, sekaligus menempatkan lingkungan hutan yang rapuh di bawah tekanan industrial yang lebih besar.
Secara politik, Indonesia selama ini konsisten menyuarakan dukungan terhadap Palestina di forum internasional dan menegaskan tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Tapi lain hal ketika bicara secara ekonomi, keterlibatan perusahaan yang memiliki koneksi dengan sistem ekonomi Israel menimbulkan perdebatan.
Investasi tersebut kini sudah bukan sekadar urusan teknis energi. Pemerintah dengan sadar mengambil jalur berbeda dalam kebijakan energi dan geopolitik. Konsistensi Indonesia kini dipertanyakan dalam menyeimbangkan antara kebutuhan investasi energi bersih dan posisi politik luar negeri yang selama ini dijaga.
Tekanan Lingkungan di Halmahera
Selain aspek geopolitik, proyek Telaga Ranu juga menimbulkan kekhawatiran lingkungan. Halmahera dikenal sebagai kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi dan ekosistem hutan yang masih relatif sensitif terhadap tekanan industrial.
Perluasan proyek energi ini berpotensi menambah kerusakan di wilayah yang sebelumnya telah terdampak aktivitas industri ekstraktif. Proyek tersebut dapat meningkatkan tekanan industri di kawasan yang sudah rapuh secara ekologis.
Pengembangan panas bumi memang dikategorikan sebagai energi terbarukan dengan emisi karbon yang lebih rendah dibanding pembangkit berbasis fosil. Tetapi pembangunan infrastruktur seperti jalan akses, pengeboran, jaringan transmisi, dan fasilitas pendukung tetap membawa konsekuensi ekologis. Konsistensi kebijakan energi seharusnya disertai transparansi serta pertimbangan dampak sosial dan lingkungan yang memadai.
