Di sejumlah desa pesisir Kabupaten Kendal, tambak-tambak yang sebelumnya kurang produktif mulai dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut. Komoditas ini perlahan dilirik sebagai alternatif sumber penghasilan bagi nelayan dan petambak.
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kendal melihat peluang tersebut dan mulai melakukan pendampingan. Kepala DKP Kendal, Hudi Sambodo, menyebut potensi rumput laut di wilayah ini cukup besar jika dikelola secara serius. โKami terus mendampingi agar budidaya ini bisa berkembang dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,โ ujarnya.
Budidaya ini tidak berdiri sendiri. Di beberapa lokasi, rumput laut ditanam bersamaan dengan ikan bandeng, memanfaatkan tambak yang sebelumnya tidak optimal. Pendekatan ini dinilai lebih efisien karena tidak memerlukan pembukaan lahan baru.
Dalam skala usaha, budidaya rumput laut di Kendal mulai menunjukkan hasil. Saat ini sekitar 50 petani terlibat dengan luasan tambak kurang lebih 25 hektare yang tersebar di wilayah seperti Karangsari, Bandengan, Banyutowo, Balok, hingga Kampung Mbiru.
Secara ekonomi, hasilnya cukup menjanjikan. Dari satu hektare tambak, petani dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp30 juta dalam satu kali panen. Setelah dikurangi biaya operasional, keuntungan bersih berkisar Rp15 juta. Dengan siklus panen sekitar dua bulan, dalam setahun panen dapat dilakukan hingga lima kali.
Koordinator budidaya, Budiarto, menyebut kegiatan ini telah berjalan sekitar satu tahun dan mulai menarik minat petambak lain. โSelain menambah penghasilan, budidaya ini bisa dilakukan di tambak yang sebelumnya kurang produktif,โ katanya.
Data produksi menunjukkan bahwa pada 2025, Kendal mampu menghasilkan sekitar 420 ton rumput laut kering dan lebih dari 2.200 ton dalam bentuk basah per tahun. Meski demikian, pengembangan masih terpusat di beberapa kecamatan, sehingga peluang peningkatan produksi masih terbuka.
Hasil panen rumput laut dari Kendal tidak berhenti di tingkat lokal. Produk kering dipasarkan ke berbagai daerah, termasuk Surabaya dan Brebes. Kehadiran penampung membantu memastikan hasil budidaya terserap pasar.
Rantai distribusi ini menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha. Petani tidak hanya bergantung pada pasar lokal, tetapi sudah terhubung dengan jaringan perdagangan yang lebih luas.
Tantangan di Lapangan
Di balik peluang tersebut, sejumlah tantangan masih dihadapi. Kualitas lingkungan perairan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi hasil budidaya. Aktivitas industri di wilayah pesisir berpotensi memengaruhi kondisi air, yang pada akhirnya berdampak pada pertumbuhan rumput laut.
Selain itu, faktor cuaca seperti curah hujan tinggi juga dapat menurunkan produktivitas. Perubahan kondisi air secara tiba-tiba membuat hasil panen tidak selalu stabil.
Tantangan lain datang dari aspek sumber daya manusia. Tidak semua petambak memiliki pengetahuan teknis yang memadai terkait budidaya rumput laut. Pendampingan dan pelatihan masih diperlukan agar produksi bisa lebih optimal.
Pemerintah daerah menilai budidaya rumput laut berpotensi menjadi salah satu penopang ekonomi pesisir Kendal. Namun, pengembangannya tidak hanya bergantung pada perluasan lahan, melainkan juga pada pengelolaan lingkungan dan peningkatan kapasitas petani.
Upaya pendampingan yang terus dilakukan menjadi kunci agar budidaya ini tidak berhenti sebagai proyek jangka pendek. Dengan pengelolaan yang tepat, rumput laut tidak hanya menjadi komoditas tambahan, tetapi dapat berkembang menjadi sumber ekonomi yang lebih stabil bagi masyarakat pesisir.
- Konflik Agraria 2025 Meningkat Tajam, Tekanan Investasi dan Kebijakan Jadi Pemicu

- Rumput Laut dan Asa Baru Nelayan Kendal

- Hukum Tumpul Terus Mengobarkan Api Karhutla di Indonesia

- Angka Deforestasi di Indonesia Naik, Tata Kelola Hutan Kembali Dipertanyakan

- Ketimpangan Transisi Energi yang Tidak Dimulai dari Desa

- Siapa Paling Untung dari Megaproyek Baterai EV Indonesia?

