Sungai Ciliwung yang dahulu jernih dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jakarta, sekarang airnya sudah berwarna cokelat dan berbau. Di kuartal pertama tahun 2026, ekosistem Sungai Ciliwung semakin parah. Sepanjang bantaran sungai dari Kalibata hingga Cililitan yang sebelumnya menjadi ruang hidup ikan asli, sekarang dipenuhi punggung-punggung hitam keras dari ikan sapu-sapu (Loricariidae).
Kondisi ini lebih dari ledakan populasi biasa, tapi sudah menjadi gejala klinis dari ekosistem yang sedang sekarat. Dominasi ikan sapu-sapu yang mencapai lebih dari 60 persen di dalam ekosistem Ciliwung menjadi bukti tak terbantahkan, kualitas air telah terdegradasi secara sistemik.
“Melimpahnya ikan sapu-sapu di Ciliwung bukanlah tanda ekosistem yang kaya, melainkan indikasi kuat bahwa sungai tersebut sedang sakit. Seolah-olah sungai tersebut memang miliknya. Dominasi ini menyebabkan hilangnya keragaman ikan air tawar lokal yang sebelumnya dikenal tinggi di sungai-sungai di Jawa,” ujar Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Yusli Wardiatno.
Menurut Prof. Yusli, kondisi ini tercipta karena beban limbah domestik dan industri yang melampaui kemampuan sungai untuk memurnikan dirinya sendiri secara alami atau self-purification.
Berdasarkan data pemantauan dari sistem Online Monitoring (ONLIMO) milik KLHK pada Semester I 2025, mutu air Sungai Ciliwung tercatat telah tercemar hingga 95,5 persen. Artinya, hanya tersisa 4,5 persen bagian sungai yang masih memenuhi ambang batas baku mutu minimal.
Melimpahnya kandungan amonia, hidrogen sulfida, dan deterjen menciptakan lingkungan hipoksia yang mematikan bagi ikan-ikan lokal, sekaligus menjadi surga bagi ikan sapu-sapu.
Armor Biologis di Perairan Tanpa Oksigen
Kemampuan adaptasi biologis yang luar biasa memungkinkan ikan sapu-sapu bisa berjaya di tempat ikan lain mati. Ikan asal Amerika Selatan ini memiliki sistem pernapasan tambahan berupa labirin dan modifikasi saluran pencernaan, sehingga dapat mengambil oksigen langsung dari udara saat kadar oksigen terlarut di air mendekati nol.
Selain itu, ikan ini memiliki daya tahan terhadap variasi lingkungan yang ekstrem. Tubuh mereka dilapisi oleh sisik keras yang termodifikasi menjadi pelindung tulang atau scutes, yang berfungsi layaknya baju zirah terhadap predator alami.
Sapu-sapu juga mampu melakukan reproduksi dengan sangat masif. Satu induk dapat menghasilkan ribuan telur dalam satu siklus. Pembasmian ikan ini seperti mengendalikan nyamuk, meski setiap hari diambil puluhan kilo, populasinya seolah tidak pernah habis.
Jejak Kepunahan 172 Spesies Ikan Asli
Sejarah mencatat Sungai Ciliwung pernah menjadi rumah yang ramah bagi keanekaragaman hayati. Data dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI, sekarang BRIN) menunjukkan, pada awal abad ke-20 terdapat sekitar 187 spesies ikan yang menghuni DAS Ciliwung. Narasi itu kini berubah menjadi catatan kehilangan.
Hingga tahun 2026, diperkirakan sekitar 85-90 persen spesies ikan asli Ciliwung telah menghilang atau punah. Nama-nama lokal seperti Belida, Putak (Notopterus notopterus), Berukung (Barbichthys laevis), dan Ikan Hitam (Labeo chrysopekadion) sekarang hanya bisa ditemukan di buku-buku sejarah perikanan..
Kehilangan ini menjadi gambaran runtuhnya mata rantai ekosistem di Sungai Ciliwung. Ikan sapu-sapu memangsa telur-telur ikan asli, secara langsung memutus siklus regenerasi biota lokal.
Krisis ini diperparah dengan temuan mikroplastik di 14 titik pengamatan Ciliwung, dengan rata-rata kelimpahan 4,55 partikel per liter air, yang merusak sistem pencernaan dan reproduksi biota yang tersisa.
Ancaman Tersembunyi dalam Olahan
Meskipun ikan sapu-sapu sering dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan olahan pangan, para ahli memberikan peringatan keras. Sebagai ikan demersal yang memakan detritus di dasar sungai, ikan sapu-sapu menjadi penyerap logam berat yang sangat efektif.
Penelitian toksikologi pada tahun 2024-2026 menemukan kandungan Timbal (Pb) pada daging ikan sapu-sapu Ciliwung mencapai 2,2 mg/kg, jauh melampaui batas aman BPOM sebesar 0,20 mg/kg. Logam berat lainnya seperti Kadmium (Cd) dan Merkuri (Hg) juga ditemukan pada level yang mengkhawatirkan.
Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin, saat memimpin aksi pengendalian di kawasan Cililitan baru-baru ini, dengan tegas melarang warganya mengonsumsi ikan sapu-sapu. Hasil uji laboratorium menunjukkan ikan ini mengandung partikel merkuri yang berbahaya bagi kesehatan manusia.
“Kami meminta masyarakat untuk tidak mengonsumsi atau mengolahnya menjadi produk makanan,” tegas Munjirin.
Meski tidak dikelola menjadi makanan, olahan ikan sapu-sapu untuk produk nonpangan juga tetap berbahaya. Prof. Yusli memperingatkan pemanfaatan ikan sapu-sapu harus disertai pengawasan ketat, mulai dari lokasi penangkapan, cara pengolahan, hingga jaminan keamanan produk akhir.
“Risiko kesehatan juga tetap ada meskipun ikan diolah menjadi produk nonpangan seperti pakan, pupuk, atau bahan industri. Logam berat berpotensi kembali masuk ke rantai makanan atau terserap tanaman melalui pupuk jika proses pengolahannya tidak benar-benar bersih,” jelasnya.




