Pesisir selatan Jawa menyimpan keindahan sekaligus misteri yang membentang ratusan kilometer. Sebagian masyarakat percaya kawasan ini identik dengan mitologi penguasa laut selatan, sebuah cerita rakyat yang sudah diwariskan turun-temurun.
Di sisi lain, para ilmuwan telah berhasil menyingkap realitas geologis melalui butiran pasir dan fosil purba yang terpendam di balik tanah pesisir, wilayah ini menyimpan rekam jejak tsunami katastrofik masa lalu.
Detektif Sedimen di Tepian Samudra
Upaya menyingkap jejak bencana purba ini dipimpin oleh Dr. Eko Yulianto, Periset Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hingga tahun 2026, tim peneliti BRIN telah melakukan investigasi paleotsunami di dua belas lokasi utama yang tersebar dari Jawa Barat hingga Bali.
Menggunakan metode pengeboran tanah dan analisis stratigrafi sedimen, tim peneliti menemukan bukti fisik tak terbantahkan berupa lapisan pasir laut yang terperangkap secara anomali di dalam rawa-rawa daratan pantai.
Misalnya di Kulon Progo, Yogyakarta, tim peneliti menemukan lapisan pasir yang mengandung beragam mikrofosil laut seperti foraminifera, radiolaria, dan ostrakoda. Uniknya, sebagian organisme mikro ini berasal dari lingkungan laut dalam.
“Kehadiran mikrofosil laut dalam menjadi bukti kuat bahwa material tersebut terbawa oleh peristiwa genangan laut besar dan bukan oleh banjir pesisir biasa,” ujar Eko Yulianto dalam rilis ilmiahnya.
Temuan serupa juga didapatkan di Cibuaya, Banten, lapisan pasir kaya mikrofosil laut ditemukan tepat di bawah lapisan batang pohon yang terkubur di rawa. Berdasarkan penanggalan radiokarbon, pohon-pohon tersebut mati sekitar 300 hingga 400 tahun lalu setelah diterjang genangan air laut dalam skala masif.
“Hubungan stratigrafi tersebut mengindikasikan bahwa suatu peristiwa genangan laut besar kemungkinan terjadi terlebih dahulu, kemudian diikuti perubahan lingkungan yang menyebabkan pohon-pohon tumbang dan tertimbun dalam sedimen rawa,โ imbuhnya.
Mengubah Cerita Rakyat Menjadi Sandi Kebencanaan
Menariknya, pembuktian ilmiah ini selaras dengan catatan sejarah dan tradisi lisan masyarakat Jawa. Dalam kitab Babad Tanah Jawi, diceritakan kisah bertapanya Panembahan Senopati di Pantai Selatan sebelum mendirikan Kerajaan Mataram Islam.
Meditasi sang raja digambarkan memicu badai dahsyat dan membuat samudra bergolak panas hingga membuat sang ratu laut selatan terpaksa menemuinya untuk meminta menghentikan semedi tersebut.
Para peneliti kebencanaan melihat, penggambaran dramatis tersebut merupakan metafora kultural yang mendokumentasikan gempa megathrust dan tsunami hebat, pernah melanda selatan Jawa sekitar tahun 1618 atau 1619 Masehi.
Bukti ini diperkuat oleh tembang Dhandhanggula dalam kitab Babad ing Sangkala. Teks sejarah tersebut memuat kalimat “samodra pan dadi kisik” yang berarti samudra berubah seketika menjadi daratan pantai.
Kalimat itu merekam fenomena fisik surutnya air laut secara ekstrem sesaat sebelum gelombang tsunami menerjang daratan.
Sementara itu, penelitian sedimentologi di Pangandaran menunjukkan, sisa tumbuhan di bawah lapisan pasir tsunami yang berusia sekitar 400 tahun.
โAnalisis radiokarbon terhadap sisa tumbuhan yang berada di bawah lapisan pasir menunjukkan umur sekitar 400 tahun. Ini merupakan indikasi pertama bahwa tsunami besar kemungkinan pernah memengaruhi pesisir selatan Jawa sekitar empat abad yang lalu,โ jelas Eko.
Teras Laut Holosen, Tameng Alam Enam Milenium
Di tengah ancaman seismik raksasa dari zona subduksi Jawa-Nusa Tenggara yang menyimpan potensi pelepasan energi gempa bermagnitudo hingga Mw 9,6, alam sebenarnya telah menyediakan pelindungnya sendiri.
Benteng alami ini dikenal secara geologis dengan nama Teras Laut Holosen Maksimum (TLHM).
Eko memaparkan, formasi geologi berupa punggungan pasir pantai raksasa yang terbentuk sekitar 6.000 tahun lalu. Pembentukannya terjadi saat permukaan air laut global berada pada posisi transgresi maksimum, yakni 3 hingga 5 meter lebih tinggi dibanding saat ini.
Benteng pasir alami ini membentang sepanjang 40 kilometer dari Kebumen hingga Purworejo, dengan ketinggian rata-rata berkisar antara 6 hingga 13 meter. Letaknya berada sekitar 400 hingga 500 meter dari garis pantai modern.
Secara biofisik, TLHM berfungsi meredam dan mendisipasi energi kinetik gelombang tsunami sebelum menghantam permukiman warga di dataran rendah bagian dalam.
Sayangnya, benteng alam yang tangguh ini berada dalam kondisi sangat kritis akibat maraknya aktivitas penambangan pasir pesisir berskala masif.
Bahkan, pengerukan pasir laut yang dilakukan kerap dilegalkan lewat regulasi tata kelola bermodus eufemisme, seperti pengelolaan hasil sedimentasi laut yang berujung pada komersialisasi ekspor.
Benteng alam TLHM terbentuk lewat proses geologi ribuan tahun, dan fungsinya sangat penting bagi keselamatan warga pesisir. Jika punggungan pasir ini rusak, Indonesia kehilangan perlindungan paling dasar dari tsunam.
Menjaga Tameng demi Masa Depan
Perlindungan alam tidak bisa ditawar demi keuntungan ekonomi jangka pendek yang destruktif. Penambangan pasir laut harus segera dihentikan, dan tata ruang pesisir wajib mengadopsi peta kawasan rawan bencana secara ketat.
Mitigasi struktural berbasis alam seperti penanaman sabuk hijau (green belt) berupa hutan mangrove di estuari dan pohon cemara udang di atas punggungan pasir pantai harus terus diperluas untuk memperkuat stabilitas tanah.
Selain infrastruktur fisik, penguatan sistem peringatan dini (InaTEWS) dan kesiapsiagaan di tingkat tapak menjadi penentu keselamatan utama bagi jutaan jiwa.
Masyarakat harus dilatih untuk peka terhadap tanda-tanda alam, seperti guncangan gempa hebat dan surutnya air laut secara tiba-tiba tanpa menunggu instruksi resmi.




