Ekuatorial

Data. Maps. Storytelling.

KISAH HILANGNYA ANAKAN ELANG JAWA DI LERENG GUNUNG MERAPI

January 17, 2009

Ini adalah kisah saya Juli 2008 lalu. Waktu itu kami memutuskan mendaki lereng selatan Gunung Merapi, tujuannya satu: melihat anak burung elang jawa (Spizaetus bartelsi) yang baru menetas dari telurnya. Kegembiraan yang menyelimuti hati kami semua membuat perjalanan mendaki yang dimulai dari Desa Cangkringan, Sleman, Yogyakarta itu tidak terasa melelahkan. Di sepanjang jalan, kicauan aneka burung penghuni hutan lereng selatan Gunung Merapi yang masuk kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) imelantunkan ‘orkestra alam’ yang sangat indah.

 

Kelahiran anak elang jawa ini memang sebuah berita menggembirakan bagi komunitas pecinta burung di Yogyakarta. Ini adalah peristiwa yang sangat langka. “Kami sudah mencari sarang aktif (digunakan untuk bertelur) sejak tahun 1999, baru kali ini ketemu,” ujar Ige Kristanto, Direktur Yayasan Kutilang Indonesia (YKI), sebuah LSM yang memberikan perhatian terhadap kelestarian burung di alam.

Menemukan sarang aktif elang jawa di hutan lereng Selatan Gunung Merapi seluas sekira 1.284 hektar, ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami. Pasalnya jumlah spesies raptor ini tinggal hitungan jari. Bernardus Bambang Setyawan (Wawan) dari YKI mengatakan tahun 2004, tercatat hanya tinggal 5 ekor! Kebiasaan elang jawa membangun sarangnya di hutan primer yang masih lebat semakin mempersulit penemuan sarangnya.

Ya, elang jawa adalah spesies burung endemik (hanya hidup) di Pulau Jawa yang jumlah populasinya terus menurun. Spesies ini hidup di kawasan hutan yang sudah terfragmentasi mulai dari ujung barat hingga timur. Dan lereng selatan Gunung Merapi adalah satu-satunya wilayah di Propinsi Yogyakarta dimana elang jawa masih dapat ditemukan. Ini pula yang menjadi salah satu alasan mengapa pemerintah ngotot menjadikan kawasan hutan di lereng Gunung Merapi sebagai kawasan taman nasional beberapa tahun silam.

Tidak ada angka pasti berapa jumlahnya di seluruh Pulau Jawa.Hasil penelitian Vincent Nijman, seorang ahli burung dari Zoological Museum, Universitas Amsterdam yang berjudul “Habitat Segregation in Two Congeneric Hawk-eagles (Spizaetus bartelsi and S cirrhatus) dan dimuat dalam Journal of Tropical Ecology (Cambridge University Press, 2004) mencatat hanya ada 45 ekor di 12 spot area di seluruh Pulau Jawa.

Pembabatan hutan (tinggal 10 persen dari total luas Pulau Jawa), perburuan, inbreeding (perkawinana dengan kerabat dekat karena populasinya sedikit) dan dampak penggunaan pestisida yang intensif menjadi penyebab utama menurunnya populasi spesies ini. International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) memasukkan elang jawa ke dalam daftar burung berstatus genting (endangered). Burung ini juga masuk dalam Appendix II, CITES (Convention on International Trade in Endangered Spicies of Wild Fauna and Flora), artinya hanya hasil dari penangkaran saja yang boleh diperdagangkan, itupun dalam jumlah sangat terbatas.

Para ahli biologi meyakini menurunnya jumlah poplasi elang jawa akan berdampak buruk terhadap lingkungan. Sebagai top predator, elang jawa mempunyai fungsi mengendalikan rantai makanan. Tanpa kehadirannya, misalnya jumlah populasi tikus (salah satu makanannya) dapat meledak sehingga merugikan para petani karena menjadi hama tanaman.

Setelah berjalan selama kurang lebih satu jam, akhirnya kami (6 orang) sampai di kawasan Alas Tekek yang terletak sekira 1400 meter di atas permukaan laut. Di kawasan hutan inilah sarang elang jawa itu berada. Tanpa istirahat, Wawan langsung menempatkan monokuler di tepi tebing dan mengarahkannya ke tebing yang tepat berada di depan dengan jarak sekira 100 meter. Lokasi sarang itu terletak di atas pohon ficus yang tumbuh tinggi di lereng tebing itu. Pohon ficus itu berdekatan dengan pohon-pohon lainnya, cabangnya saling bersentuhan menandakan hutannya masih rapat dan kualitasnya bagus.

Dengan hati penuh suka cita bercampur rasa penasaran, satu per satu dari kami mengintipkan mata melalui monokuler. Kami semua berharap dapat segera melihat anakan elang jawa yang pasti sudah mempunyai bulu-bulu putih sehalus kapas di seluruh tubuhnya itu. Namun ternyata kami tidak menemukan anak elang jawa yang kira-kira sudah berumur 15 hari itu. Sarang yang sedikit tertutup sulur-sulur pohon itu tampak kosong!

“Mungkin anakan elang jawa itu sedang tidur meringkuk sehingga tidak terlihat,” hibur kami. Sambil menunggu, kami pun beristirahat. Beberapa penduduk lokal dengan membawa bongkahan besar rumput di punggungnya melintas di hadapan kami. Sambil duduk, Wawan menjelaskan ia menemukan sarang elang jawa itu ketika melakukan pengamatan burung totor di Alas Tekek tanggal 4 Juli lalu.“Tiba-tiba saya mendengar lengkingan suara elang jawa yang riuh,” ungkap Wawan.

Ia pun mencari asal suara itu. Setelah beberapa saat, matanya tertumbuk pada sepasang elang jawa yang sedang memangsa hasil buruannya di sarang mereka. Daging mangsa itu dicabik-cabik dengan paruhnya yang tajam. Tak lama kemudian sang jantan naik ke atas punggung sang betina, ya mereka melakukan kopulasi! Hati Wawan pun begitu bersuka cita, ada harapan sang betina akan bertelur dan seekor anak elang jawa akan lahir.

Beberapa hari kemudian, ketika Wawan melakukan pengamatan lagi, sang induk sudah mulai mengerami telurnya. Berdasarkan penelitian, sepasang elang jawa akan berkembang biak satu tahun sekali (antara Mei hingga Agustus). Sang betina hanya bertelur satu butir dan akan dierami selama 48 hari. Baik jantan maupun betina akan bergantian mengeraminya. Menurut Wawan, telur itu menetas antara tanggal 18 hingga 22 Juli lalu. Setelah itu baik sang jantan dan betina sibuk berburu dan memberi makan kepada anaknya.

Dengan kelahiran anak elang jawa itu, YKI pun bersiap-siap menjalankan program Jogja Bird Rescue (JBR). Dalam program ini YKI meminta para pengamat burung (bird watcher) yang umumnya para mahasiswa agar secara sukarela menunggui sarang dari pagi hingga sore secara bergantian. Beberapa waktu lalu program ini sukses menjaga beberapa anakan elang hitam (Ictinaetus malayensis) sehingga selamat dari tangan-tangan jahil para pemburu.

Hari sangat cerah, di utara Gunung Merapi yang terus berasap tampak begitu indah dan gagah. Sementara kami beristirahat dan bertukar cerita, induk elang jawa terbang di sekitar lokasi sarang. Salah satu induk itu sempat melakukan ‘pertarungan udara” dengan seekor gagak, tetapi si elang jawa memilih mengalah.

“Elang jawa itu gagah tetapi penakut,” komentar Ige Kristanto.Diantara jenis raptor lainnya, walaupun bertubuh agak kecil, elang jawa mempunyai wajah paling tampan dan gagah. Itu berkat jambul indah berwarna coklat kehitamanan dan berjumlah dua hingga empat yang tumbuh di kepalanya.

Beberapa saat kemudian, elang jawa itu tampak melayang-layang di udara, lenyap di balik hutan dan kemudian muncul kembali tak jauh dari posisi kami beristirahat. Matahari makin tinggi, itu adalah waktu yang tepat bagi para raptor untuk berburu. Udara panas yang mulai naik menyebabkan burung pemakan daging ini mampu soaring, terbang melayang sambil mengintai mangsanya. Burung-burung kecil, ular, kelelawar, anak monyet ekor panjang, tikus dan kadal adalah beberapa jenis mangsanya. Tetapi elang jawa paling suka memangsa tupai.

Dengan binokuler, kami dapat melihat tubuhnya yang memiliki panjang 60 – 70 cm itu tertutup bulu berwarna coklat. Pada sayap bagian bawah berwarna hitam dan putih berselang-seling. Menurut Ige Kristanto bila sudah menemukan mangsanya, elang jawa akan hinggap di pohon yang tidak jauh dari mangsa itu berada. Saat waktunya tepat, dengan kecepatan luar biasa ia menyambar mangsanya.

Menyaksikan elang jawa terbang atau bertengger di pohon adalah salah satu daya tarik bird watching (pengamatan burung) di lereng selatan Gunung Merapi. Sekitar April 2006 lalu, penulis dan Lim Wen Sim, seorang pengamat burung senior di Yogyakarta pernah mengantar Mr. Bryan, seorang pengamat burung dari Inggris mengunjungi lereng selatan Gunung Merapi. Kami berhasil menemukan dan menikmati gagahnya elang jawa yang hampir punah itu. “Ini adalah pengamatan burung paling spektakuler yang pernah saya alami,” ujarnya waktu itu.

Satu jam berlalu. Wawan dengan menggunakan monokuler kembali melihat ke sarang elang jawa itu. Kali ini, anakan elang jawa itu belum terlihat juga. Sang induk juga tidak lagi mampir di sarangnya, ini sesuatu yang aneh! Didorong rasa penasaran, Wawan memutuskan untuk memeriksanya dari posisi lain yang berjarak lebih dekat dengan sarang elang itu. “Jika anakan itu hilang, kemungkinan diambil kawanan kera ekor panjang. Sebab kemarin Azat (aktivis dari YKI) melihat banyak kawanan kera ekor panjang mendekati sarang itu,” ujar Wawan sebelum meninggalkan kami.

Satu hari kemudian, sebuah SMS dari Ige Kristanto masuk ke handphone milik penulis, isinya singkat,”Anakan elang jawa positif hilang. Tersangkanya kemungkinan besar adalah kera ekor panjang!”

Azat membenarkan, satu hari sebelum kedatangan saya di lokasi sarang elang jawa itu, ia melihat kawanan kera ekor panjang (Macaca fascicularis) menyatroni sarang elang jawa di sore hari. “Induknya sempat menyambar-nyambar kawanan kera itu,” ujarnya.

Mungkin karena jumlahnya terlalu banyak, sang induk tak mampu menyelamatkan anak semata wayangnya. Memang, Azat tidak sempat melihat langsung kawanan kera itu mengambil anakan elang jawa itu. Hari sudah menjelang maghrib, ia harus turun. Tetapi paling tidak kawanan kera ekor panjang itu adalah ‘tersangka’ yang terlihat paling akhir di lokasi sarang.

Kegembiraan yang sempat menaburi para aktivis YKI surut, berganti dengan kesedihan. Program JBR pun urung dilaksanakan. Rencananya, Ige kristanto juga akan mengundang Bupati Sleman, Ibnu Subiyanto untuk menyaksikan peristiwa langka itu.

Apa boleh buat, ternyata alam berkehendak lain. Anak elang jawa itu harus mati, kemungkinan dimakan kawanan kera ekor panjang. Sebuah harapan baru tentang keberlanjutan hidup elang jawa di lereng selatan Gunung Merapi pun pupus sudah. “Mungkin kita harus melakukan tabur bunga,” ujar Ige Kristanto mencoba menghibur dirinya.

-Baca juga “Pelajaran Baru dari Gunung Merapi oleh : bambang

×

Find the location

Find

Result:

Latitude:
Longitude:

Zoom:

Finish geocoding

×

Submit a story

Do you have news to share from the Amazon? Contribute to this map by submitting your story. Help broaden the understanding of the global impact of this important region in the world.

Find location on map

Find location on map