Menyerupai tahun 2016, tahun 2019 merupakan tahun yang berat buat para petani kopi di Temanggung, Jawa Tengah. Cuaca panas menurunkan produktifitas mereka hingga 50%. Sebagian petani terpaksa berhutang gara-gara hasil kopinya tak mampu menutupi kebutuhan sehari-hari.

Oleh Sandy Indra

MENDUNG mengepung Temanggung pada pekan terakhir Oktober 2019. Udara terasa sangat lembab hari itu. Peluh pun mengucur deras di pelipis Abu Risman, seorang petani penggarap kopi Robusta dari Kecamatan Gemawang, Temanggung, Jawa Tengah.

“Harusnya sebentar lagi hujan, kalau gerah begini,” kata Risman. Seorang petani berpengalaman biasanya tahu betul tanda-tanda alam.

Benar saja. Hujan turun merintik tak lama setelahnya. Senyum pun merekah di wajahnya. “Sudah lama tak hujan, mudah-mudahan bisa mendinginkan semuanya, termasuk kantong saya,” ujarnya dengan canda.

Tetapi, tak sampai dua menit berselang, hujanpun reda. Tanah dihadapan Risman tak sempat basah sempurna. Senyum di wajahnya pun perlahan hilang dan matanya kembali menerawang.. “Weleh, masih belum rezeki,” ujarnya mendadak kembali sendu.

Risman mengaku sepetak tanah dari satu hektar miliknya yang ditanaminya dengan kopi kini kering kerontang. Buah kopinya banyak yang terpanggang di batang.

Tahun ini waktu yang berat buat Risman. Sama seperti yang ia alami pada 2016 silam. Cuaca panas membuat produktivitas merosot. Gara-gara itu, taraf kehidupannya juga ikut melorot. “Saya dan keluarga bergantung pada hasil perkebunan ini, amanah dari orang tua saya, jadi kalau kering begini, hidup saya juga ikutan kering,” katanya.

Ilustrasi kekeringan yang terjadi di Temanggung yang berimbas terhadap kesejahteraan petani kopi pada akhirnya. Sumber: Sandy Indra.

 

Produktivitas kebun kopi Risman tahun 2019 menurun hampir 50 persen. Nyaris separuh penghasilan yang ia dambakan saat awal tahun sirna seketika, sebab dan buah-buah kopi yang sempat menghijau dan hampir ranum, mengering terpanggang suhu.

Hal yang sama dialami oleh petani-petani kopi di Temanggung. Bahkan menurut Risman, ada petani binaannya tahun ini sudah banyak berhutang gara-gara hasil kopinya tak mampu menutupi kebutuhan.

“Berbeda dengan tahun lalu, kami bisa senyum lepas. Hasil panenan kami dihargai baik oleh pasar,” katanya. Ucapan ini selaras dengan kesimpulan penelusuran data yang menyebutkan 2018 adalah puncak dari kualitas kopi Indonesia.

Kegaduhan soal cuaca dan mutu kopi di Temanggung, kemudian terjadi pada sebuah grup media sosial whatsapp petani-petani kopi disana.

Beberapa dari mereka heran karena keganjilan produk-produk hasil proses mereka tahun ini. “Saya sudah coba petik merah sesuai dengan aturan baku, agar kualitas kopi panenan baik, tapi anehnya ketika disangrai jadi belang alias belum matang,” ujar seorang petani sambil diikuti emoticon (ikon penunjuk emosi) menangis. “Matang di luar tapi masih mentah di dalam.

Reaksi dari belasan petani segera datang. “Podo karo produk ku (sama dengan produk ku),” kata beberapa dari mereka dalam Bahasa Jawa. Emoticon menangis pun banjir dalam jejeran pesan.

Persoalan yang sama juga dialami petani-petani di Garut, Jawa Barat. Aga Wilantara, petani pemilik lahan perkebunan kopi di kaki Gunung Cikuray, Garut, mengatakan tingginya suhu udara membuat banyak kopi terpanggang. “Kami menyebutnya Natural (sebuah proses pengeringan kopi) di tangkal (batang pohon dalam bahasa sunda,)” ujarnya.

Di Garut, beberapa petani rekan Aga menyebutkan mereka rata-rata kehilangan 20 persen lebih kopi mereka tahun ini. Bahkan saking takutnya buah mengering terpanggang, ada petani yang nekat memetik buah meski belum merah benar. Hasilnya? Merugikan para petani sendiri. “Panen kemarin menyisakan cerita kepanikan-kepanikan dari banyak petani, kekeringan jadi masalah utama,” ujarnya.

Mendadak, sebaris pesan mampir di telepon genggam. Seorang petani asal Palintang, Bandung Timur, mengabarkan adanya kebakaran lahan. “Minta doanya, saya sedang berusaha memadamkan api yang membakar pohon kopi tetangga kebun, saking keringnya,” demikian pesan yang disampaikan Didi Supriyadi, petani Kopi Arabica Palintang yang menyabet skor tertinggi di Lelang Microlot SCAI 2018. Lagi-lagi sebuah musibah bagi petani kopi yang dilanda kekeringan.

Risman, Aga, Didi dan petani kopi lainnya sedang mengalami tahun yang kering kerontang. Bukan hanya bagi lahan mereka, tetapi juga bagi dompet mereka. Tak ada diantara mereka yang mau menyebutkan kerugian yang mereka derita. Bukan lantaran tak terhitung atau malas mengkalkulasi. Para petani ini mencoba untuk tidak mengeluh.

Alam terus berubah dan petani kopi menyadari hal ini. Namun mereka sendiri tak bisa berbuat banyak sebab rekayasa tak bisa datang dari kantung saku kumal mereka. Perlu campur tangan dan bantuan dari otoritas setempat.

“Kopi mu mungkin saja pahit, tapi tak akan pernah sepahit hidup petani kopi,” kata Risman menggambarkan susahnya hidup petani kopi di Indonesia saat ini. Ekuatorial.

 

Liputan in merupakan bagian dari program pelatihan dan beasiswa Kopi dan Perubahan Iklim yang diselenggarakan oleh Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) dan didukung oleh Internews’ Earth Journalism Network.

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.