MALANG — Keberadaan elang jawa dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) akan dipantau lagi mulai Rabu, 31 Juli sampai Minggu, 4 Agustus.

Pemantauan ditujukan untuk mengetahui bertambah-tidaknya populasi elang jawa di dalam kawasan setelah dipantau pertama kali pada 25-29 September 2012. Tahun lalu tim pemantau Balai Besar TNBTS menemukan elang jawa (Spizaetus bartelsi) kurang dari lima ekor.

“Elang jawa merupakan raptor (burung pemangsa) yang berstatus genting karena terancam punah dan mendapat prioritas untuk dilindungi bersama 13 spesies lainnya,” kata Elham Purnomo, Koordinator Tim Pemantau Elang Jawa Balai Besar TNBTS, kepada saya pada Selasa, 30 Juli 2013.

Menurut Elham, pemantauan dilakukan untuk menindaklanjuti Surat Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor: SK.132/IV-KKH/2011 tentang Penetapan Empat Belas Spesies Terancam Punah.

Selain elang jawa, ketiga belas spesies terancam punah lainnya adalah harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), badak jawa (Rhinoceros sondaicus), banteng (Bos javanicus), orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus), komodo (Varanus komodoensis), owa jawa (Hylobates moloch), bekantan (Nasalis larvatus), anoa (Bubalus quarlesi dan Bubalus depressicornis), babirusa (Babyrousa babyrussa), jalak bali (Leucopsar rothschildi), serta maleo (Macrocephalon maleo).

Secara garis besar, ke-14 spesies dikelompokkan menjadi tiga familia, yaitu mamalia (6 spesies), aves (4 spesies), primata (3 spisies), dan reptil (1 spesies).

Pemantauan dilakukan di dua stasiun pengamatan di Wilayah Seksi Pengeloaan Taman Nasional Wilayah II, yakni Wilayah Resor Pengelolaan Hutan Taman Nasional (RPTN) Jabung dan RPTN Coban Trisula. Tahun lalu pemantauan dilakukan di tiga stasiun pengamatan, tapi pemantauan di RPTN Patok Picis kali ini ditiadakan karena di sana tidak dijumpai elang jawa kecuali elang hitam dan elang lainnya.

Tahun lalu elang jawa hanya terlihat di RPTN Coban Trisula dan RPTN Jabung. Rata-rata populasi elang jawa yang kelihatan di tiap stasiun sebanyak satu ekor. Namun hasil pengamatan di setiap stasiun sangat memungkinkan jumlah individu elang jawa dapat mencapai dua ekor di tiap stasiun itu.

“Dugaan kami ada enam ekor elang jawa yang kelihatan karena dalam beberapa kali pertemuan di kedua stasiun itu kami jumpai sepasang elang jawa yang melakukan aktivitas bersama,” ujar Elham, yang juga Petugas Pengendali Ekosistem.

Aktivitas utama elang jawa yang teramati adalah terbang berputar-putar (soaring), terbang mendatar (gliding), bersuara, dan bertengger (perching). Selama sepekan, selain elang jawa, tim TNBTS melihat burung elang hitam dan burung elang lain yang belum terindentifikasi spesiesnya.

Momentum terbaik didapat tim TNBTS saat melihat seekor elang jawa terbang dan bertengger di RPTN Jabung pada hari ketiga, 27 September. Di Coban Trisula tim sempat melihat sepasang elang jawa terbang bersama selama 5 menit.

Kendati jumlah yang terpantau sangat sedikit, kemunculan elang jawa di RPTN Jabung dan RPTN Coban Trisula sudah cukup bagi Balai Besar TNBTS untuk meresmikan elang jawa sebagai salah satu satwa TNBTS.

Sebelum September 2012 tak pernah ada catatan dan data resmi keberadaan elang jawa di sana. Selama ini catatan potensi fauna di TNBTS terdiri dari 137 jenis burung, 22 jenis mamalia, dan empat jenis reptil. Adapun potensi flora sekitar 600 jenis. ABDI PURMONO

Telah dibuplikasikan pada 30 Juli 2013 di batikomono.blogspot.com. Batikomono adalah anggota sindikasi Ekuatorial.

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.