Sorong, Ekuatorial – Sejak disosialisasikan Januari 2014, keberadaan Bank Sampah di Kota Sorong selama delapan bulan terakhir mengalami kemajuan pesat. Semula hanya satu Bank Sampah, sampai Selasa (22/10) telah berkembang menjadi sembilan buah. Keseluruhan Bank Sampah berada di semua distrik Kota Sorong. Berdasarkan data akumulasi omzet bank sampah di Sorong sudah bernilai Rp 47.849.800, dengan 700 nasabah.

Keberadaan Bank Sampah di Kota Sorong, di mulai dari keprihatinan seorang wisatawan asing. Ia melihat banyak sampah plastik yang mengotori laut, di kawasan wisata yang perlu mendapat penanganan segera. Kota Sorong dianggap memiliki kontribusi besar dalam melarungkan sampah ini ke laut. Oleh karena itu melalui Yayasan Misool Baseftin (YMB) bekerjasama dengan Yayasan Anak Sehat Persada (ASP), serta Dinas Kebersihan Kota Sorong mulai dikembangkanlah pemanfaatan sampah melalui program bank sampah. Tidak tanggung-tanggung, seorang penggiat bank sampah berasal dari Bali didatangkan untuk memberikan sosialisasi dan pelatihan bagi para kader hingga pembentukannya, serta melengkapinya.

Uvang Permana, Manager Operasi Yayasan ASP mengatakan kehadiran bank sampah ini diharapkan mampu mewujudkan Kota Sorong yang bersih. “Caranya dengan menumbuhkan kesadaran untuk peduli dan berpartisipasi aktif dalam menjaga kebersihan lingkungannya, dimulai dari masing-masing rumah dengan cara memilah sampah di rumah masing-masing”, kata Uvang.

Melalui Bank Sampah setiap warga diajak untuk tidak buang sampah sembarangan, tapi justru memanfaatkan sampah untuk hal yang berguna, seperti kompos dan aneka kerajinan tangan.

Upaya mendorong masyarakat untuk merasakan manfaat bank sampah dilakukan salah satunya oleh Lusi Kantohe, Ketua Kelompok Bank Sampah Kampung Baru Distrik Sorong Barat. Ia menjalankan Bank Sampah di tempatnya bersama dengan empat kader lainnya.

Secara rutin tiap Jumat pagi, mereka berkumpul untuk menimbang dan mencatat sampah yang telah di pilah dan dibawa oleh masyarakat. “Dengan melakukan pemilahan sesuai jenisnya terhadap sampah campuran, sampah organik dan sampah daur ulang, maka setiap orang dapat menjadi nasabah Bank Sampah”, kata Lusi.

Pemilihan sampah sangat penting di Bank Sampah. Nantinya sebelum dicatat di buku, sampah terlebih dulu harus ditimbang sesuai jenis dan ditentukan harganya. Sampah botol plastik harga antara Rp 1000 hingga Rp 2000/kilogram (kg), sedangkan karton Rp. 350/kg, sementara sampah kaleng aluminium bisa mencapai Rp 9000/kg, sedangkan kaleng besi 1 kilogram dihargai hanya Rp 300.

Harga yang dilabelkan ke setiap jenis sampah menjadi daya tarik dan menyadarkan warga. Berkembang pemikirian bahwa sampah pun bisa menjadi uang, asalkan dikelola dengan tepat. Seperti yang dilakukan oleh Salma Derlen (57), sekali pun baru sebulan jadi nasabah bank sampah Kampung Baru, dirinya sangat antusias dan tidak malu untuk mencari sampah. Tiap sore dirinya keliling toko dan rumah makan untuk mencari botol plastik atau karton. “Biar di tabung saja hasilnya”, kata dia.

Bukan hanya Salma, ada juga Anton Rariaro (61), seorang pembersih halaman hotel, sejak mengetahui maanfaat Bank Sampah, dirinya juga semangat untuk mencari botol plastik. Tidak heran bila sekali datang dirinya bisa membawa hingga 17 kg botol plastik.

Keberadaan Bank Sampah ini juga mendapat sambutan positif dari Albert Lemauk, Lurah Kampung Baru. “Sangat mendukung keberadaan Bank Sampah, salah satunya dengan memberikan fasilitas tempat”, katanya.

Meningkatnya jumlah nasabah Bank Sampah di Sorong terlihat dari volume penerimaan sampah utamanya plastik dan kertas di sembilan lokasi Bank Sampah. Hanya sayangnya peningkatan kesadaran ini terkendala pengangkutan atau transportasi, dari Bank Sampah ke pengepul. Mengingat Bank Sampah di Kota Sorong belum memiliki unit pengolahan sendiri. Niken Proboretno

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.