Selama lebih dari satu dekade, kopi yang ditanam di Hutan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, telah membantu melestarikan Owa Jawa dan primata lainnya yang terancam punah.

Liputan ini pertama kali terbit di Suaramerdeka.com pada tanggal 30 Juni 2021

Oleh Hartatik & Isnawati

Dulu pemburu, kini jadi agen pelestari hutan. Gerimis mengiringi perjalanan tim Yayasan Swara Owa menyusuri kawasan hutan di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, pada Maret lalu. Yayasan Swara Owa ini merupakan lembaga swadaya masyarakat yang bekerja untuk melestarikan primata dan habitatnya.

Duduk di mobil pikap, Alifah Dina dan anggota tim lainnya menatap ke atas, menembus rimbunnnya pohon di kedua sisi jalan. Mata mereka terus mengamati dan mencari, berharap hewan endemik yang berumah di hutan itu muncul di sela-sela dahan pohon.

“Di sana,” seru Dina sambil menunjuk salah satu dahan.

Namun, setelah diamati dengan cermat, primata yang bergelantungan di dahan pohon bukanlah hewan yang mereka cari.

“Bukan,” kata anggota tim lainnya. “Owa Jawa tidak memiliki ekor. Ini adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).”

Seperti namanya, owa Jawa (Hylobates moloch) hanya hidup di pulau Jawa. Spesies ini dilindungi, dan dikategorikan sebagai ‘terancam punah’ dalam daftar merah The International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Hanya beberapa ribu yang tersisa di alam liar.

Owa jawa juga tercantum dalam lampiran I The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), sehingga perdagangan internasional satwa ini dilarang.

Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit lagi, tim Yayasan Swara Owa berhenti di sebuah tikungan jalan. Owa sering muncul di tempat itu, menurut Arif Setiawan, ahli primata dari Yayasan Swara Owa, yang akrab disapa Wawan.

Tim bergegas keluar dari mobil dan masuk ke hutan. Tatapan mereka mengamati mahkota pohon, yang menyatu membentuk kanopi. Mata mereka kembali fokus dengan tajam, setiap kali cabang bergerak. Beberapa kali mereka terkecoh, karena dahan yang bergerak hanya tertiup angin.

Akhirnya sekira pukul 15.00, tanpa suara, owa muncul di salah satu dahan. Sementara satu anggota tim terus mengamati owa yang bergerak, yang lain berkonsentrasi untuk mengarahkan kamera. Setelah beberapa saat berkeliaran di salah satu cabang, owa itu berayun dari satu cabang ke cabang lainnya hingga akhirnya menghilang dari pandangan.

Habitat berharga

Wawan menjelaskan, owa jawa dulunya hidup di seluruh dataran rendah Jawa. Hilangnya habitat mereka untuk pertanian dan penggunaan lahan lainnya, mendorong sebagian besar owa tinggal di dataran hutan yang lebih tinggi.

Penelitian telah mengidentifikasi 16 kawasan hutan di Jawa Tengah yang menjadi habitat owa jawa. Hutan Petungkriyono, yang meliputi hutan dataran tinggi dan sebagian hutan dataran rendah terakhir di Jawa, adalah salah satu benteng owa.

Yayasan Swara Owa

Hutan ini memiliki kerapatan owa jawa tertinggi di Jawa Tengah, dan tertinggi kedua secara keseluruhan, setelah Taman Nasional Gunung Halimun Salak di Jawa Barat. Wawan mengatakan ini karena keanekaragaman dan kelimpahan tanaman yang tinggi di Hutan Petungkriyono, dan khususnya ketersediaan buah-buahan yang dimakan owa sepanjang tahun.

Ketika Wawan dan rekan-rekannya melakukan survei hutan di dalam dan sekitar Dusun Sokokembang pada 2009-2010, mereka menemukan 51 owa jawa dalam 20 kelompok. Berdasarkan potensi habitat seluas 65,7 kilometer persegi, mereka memperkirakan total populasi di sana ada 497 ekor, atau 7,6 owa per kilometer persegi.

Di antara ratusan spesies lain yang tercatat ada 63 spesies burung, 104 spesies kupu-kupu, 46 spesies anggrek, 44 spesies pakis, tiga spesies primata lagi, dan 51 spesies amfibi dan reptil.

Hutan tersebut kini dikelola oleh perusahaan milik negara, Perum Perhutani, yang menganggapnya sebagai yang terbaik dari 25 kawasan hutan yang ditetapkan sebagai lokasi penelitian oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Terancam punah

Hutan di Kabupaten Petungkriyono mencakup lebih dari 5.500 hektar. Meskipun secara resmi dilindungi, tapi penegakan hukumnya terbatas dan owa jawa menghadapi ancaman yang cukup besar. Hutan itu telah lama menghadapi tekanan habitat dari pembalakan liar, perburuan dan perambahan.

Tasuri (54), warga Dusun Sokokembang, mengatakan, pada 1990-an, mayoritas laki-laki di sana bekerja sebagai penebang. Dia mengatakan mereka sadar bahwa mereka melanggar batas hutan negara, tetapi karena ada oknum polisi hutan juga terlibat, penebangan menjadi hal biasa.

“Pembalakan di hutan negara tidak hanya dilakukan oleh warga desa saja,” kata Tasuri, bapak tiga anak itu. “Ada oknum ranger (polisi hutan) yang ikut. Jika tidak ada ranger yang terlibat, bagaimana kami bisa berani?”

Saat itu, sebagian besar warga di sembilan desa di Kecamatan Petungkriyono memanfaatkan sumber daya hutan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari. Tasuri biasa berburu satwa liar di hutan. Namun ia berhenti pada 2012, ketika Wawan dan Yayasan Swara Owa meluncurkan proyek konservasi kopi dan primata mereka dan semangat konservasi mulai muncul.

Enam tahun sebelumnya, saat Wawan mulai melakukan penelitian tentang owa jawa di Petungkriyono, ia melihat masih banyak masyarakat setempat yang masih menebang, berburu satwa dan membuka hutan untuk memperluas budidaya kopi. Sebuah idepun muncul.

“Daripada meningkatkan produksi kopi dengan memperluas hutan dan menebang pohon, yang dapat mengancam kelestarian hutan dan membahayakan hewan, saya berpikir mengapa tidak mengoptimalkan produksi yang ada.”

Konservasi Owa

Selama beberapa dekade, masyarakat setempat telah menanam kopi dalam sistem agroforestri atau di antara tegakan pohon jati dan meranti di hutan negara. Pada 2013, Perhutani mengeluarkan izin resmi berupa perjanjian kerja sama yang dapat diperpanjang setiap dua tahun sekali bagi warga yang mengelola tanaman kopi di hutan Petungkriyono.

Proyek konservasi kopi dan primata bertujuan untuk meningkatkan produksi kopi yang ditanam di bawah kanopi hutan dan meningkatkan nilai panen biji kopi penduduk desa, dengan menyediakan varietas baru untuk dibudidayakan dan pelatihan pengolahan kopi.

Beberapa tim Yayasan Swara Owa berangkat ke Aceh untuk mempelajari cara memproduksi kopi gayo, varietas arabika yang sangat populer di pasar ekspor seperti Amerika Serikat dan Eropa. Sekembalinya ke Sokokembang, mereka berbagi ilmu dengan para penebang dan pemburu.

Proyek ini juga mendatangkan Mukidi, seorang petani kopi terkenal dari Temanggung, untuk mengajari warga cara mengolah biji kopi hutan, sehingga menghasilkan rasa yang layak dijual dengan harga tinggi.

“Sebelum mempelajari cara mengolah biji kopi, petani menjual kopi ke tengkulak dalam bentuk biji basah. Harganya rendah, hanya Rp 3.500 per kilogram,” kata Tasuri, mantan pemburu yang kini memimpin kelompok tani bernama Wiji Mertiwi Mulyo dan mengoperasikan mesin sangrai kopi di rumahnya.

Setelah mendapatkan pengetahuan melalui proyek konservasi tersebut, para petani mulai menyortir dan mengolah biji kopi mereka. Mereka menjual biji kopi kering (green bean) ke pasar, sementara mereka menjual kopi petik merah ke Tasuri untuk diolah menjadi biji sangrai atau kopi bubuk dengan merek ‘Kopi Owa’ (Gibbon Coffee).

“Setahun sekali, banyak petani yang membawa biji kopi kering ke sini,” kata Tasuri.

“Setelah mengetahui teknik pengolahannya, harga green bean kopi yang sebelumnya maksimal Rp. 13.000/kg, sekarang bisa mencapai Rp. 40.000 per kilogram.”

Beberapa peserta pelatihan juga belajar di Kedai Kopi Mukidi di Temanggung. Salah satunya adalah Sukirno (43), warga Dusun Sokokembang. Pada 2015, ia menerapkan apa yang telah dipelajarinya dan membuka kedai kopi gula aren di dekat air terjun Sibedug, salah satu tempat wisata di Petungkriyono.

“Saya memanggang biji kopi yang saya panen di rumah Pak Tasuri, kemudian saya pakai untuk membuat kopi yang saya jual di warung. Harganya Rp. 5.000 per gelas,” jelasnya.

Yayasan Swara Owa juga memasarkan green bean yang dikumpulkan dari berbagai desa ke pembeli di luar negeri. Sejak 2016, ia telah mengekspor kopi ke Wildlife Reserves Singapore, yang mengelola sebagian besar kebun binatang di negara itu.

“Setiap tahun, kami mengirimkan setidaknya 800 kilogram biji kopi ‘Kopi Owa’ ke Singapura, dengan harga Rp 35.000/kg.”

Arif Setiawan, Ahli Primata, Yayasan Swara Owa

“Kopi robusta yang kami kirim terlebih dahulu dicampur dengan arabika, sesuai selera para penikmat kopi di sana.”

Wawan mengatakan merk Kopi Owa dipilih untuk menunjukkan bahwa kopi ini berasal dari habitat owa, serta menjadikan petani kopi dan konsumen sebagai agen pelestarian hutan. Timnya didorong untuk meningkatkan populasi owa. Mereka pun berencana untuk mensurvei populasinya akhir tahun ini.

“Kami mengajak kedai kopi untuk memberi tahu pengunjung tentang asal usul kopi owa dan pentingnya konservasi owa di Petungkriyono,” ujarnya.

“Demikian juga kami meminta petani kopi untuk mengingatkan masyarakat agar tidak berburu. Yang kami jual bukan hanya kopi, tapi juga narasi tentang konservasi owa.”

Baca juga: Peran petani kopi dan perempuan dalam konservasi Owa (bagian ke-2)

Hartati dan isnawati menghasilkan liputan ini dengan dana beasiswa dari program Inisiatif Media Keanekaragaman Hayati oleh Internews’ Earth Journalism Network yang didukung oleh Arcadia – organisasi amal milik Peter Baldwin dan Lisbet Rausing.

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.