Posted inArtikel / Perubahan Iklim

Sadar perubahan iklim, warga Lampung bergerak mengolah sampah dan berkebun

Dampak perubahan iklim kian dirasakan warga Kota Bandar Lampung. Tak ingin berpangku tangan, mereka terjun langsung mengolah limbah rumah tangga sebagai gerakan nyata untuk menghadapi perubahan iklim.

Sejumlah ibu rumah tangga di Kota Bandar Lampung, Lampung, tak ingin sekadar bicara tentang menjaga alam. Mereka terjun langsung mengolah limbah rumah tangga sebagai gerakan nyata untuk mengurangi semakin besarnya perubahan iklim.

Okta Fiantimala (45) sibuk mengumpulkan sampah plastik bekas makanan ringan ke dalam karung di rumahnya di Kelurahan Labuhan Ratu Raya, Kecamatan Labuhan Ratu, Kota Bandar Lampung, Sabtu (9/10/2021). Plastik itu ia bersihkan sebelum digunting dan dipadatkan ke dalam botol plastik menjadi ecobrick.   

Dalam dua bulan terakhir, Okta telah mengumpulkan belasan karung sampah plastik sisa konsumsi rumah tangga. Berat satu karung sampah plastik sekitar 200-250 gram.  

Setelah dipadatkan ke dalam botol, sampah yang awalnya memenuhi garasi rumahnya kini sebagian tersimpan rapi di dalam tujuh botol plastik seberat 0,9 kg.

“Rencananya, saya mau membuat kursi kecil,” ujar Okta.

Baca juga: Taktik Jakarta Atasi Sampah Plastik

Pengolahan sampah plastik menjadi ecobrick yang dilakukan Okta bukan sekadar iseng. Aktivitas itu ia lakoni dengan penuh kesadaran untuk mengurangi bahaya sampah plastik bagi lingkungan. 

Tak hanya memilah plastik, Okta juga mencatat berat setiap botol ecobrick  yang sudah jadi untuk diunggah di situs Global Ecobrick Alliance (GEA), sebuah organisasi yang fokus pada peningkatan kesadaran ekologis melalui penyebaran pembuatan ecobrick dan transformasi sampah global menjadi solusi lokal. GEA menghimpun data dari pegiat ecobrick di seluruh negara untuk mengetahui gambaran jumlah sampah plastik yang telah dikumpulkan. 

Dari situs itu pula, Okta mengikuti pelatihan daring tentang pengolahan dan pemanfaatan ecobrick.  

Dengan membuat ecobrick, saya berkontribusi mengamankan sampah plastik agar tidak merusak lingkungan. Kalau dibakar, sampah plastik tentu berbahaya karena bisa melepaskan mikroplastik ke udara serta meningkatkan gas rumah kaca yang memicu perubahan iklim.

Okta Fiantimala

Selain sampah plastik, Okta juga mengolah limbah minyak jelantah menjadi sabun dan limbah buah dan sayur menjadi eco-enzyme. Cara itu dia lakukan agar tidak ada sampah dari rumahnya yang mengotori lingkungan.

Sabun minyak jelantah dibuat dengan cara mencampurkannya dengan air yang telah diberi soda api. Setelah dicetak, sabun harus didiamkan selama satu bulan agar kandungan bahan kimianya hilang. Setelah itu, sabun minyak jelantah baru bisa dipakai untuk mencuci pakaian atau lap kotor.

Sementara eco-enzyme dibuat dari berbagai jenis kulit buah dan sayur. Setelah dicuci bersih, sampah dapur itu dicampur dengan air dan  gula tebu. Campuran itu lalu disimpan dalam wadah tertutup selama tiga bulan sebelum digunakan sebagai pembersih serbaguna, pengharum ruangan, atau penghilang hama.   

Selain menjaga lingkungan, Okta juga bisa menghemat pengeluaran rumah tangga. Selama ini, dia mengalokasikan uang Rp 50.000 untuk membeli pembersih dan sabuk cuci. 

Ibu tiga anak itu belajar mengolah berbagai limbah rumah tangga secara otodidak.  Selain dari internet, Okta juga rajin bertanya pada para pegiat lingkungan yang ia kenal  secara langsung maupun di media sosial. 

Bersama 12 rekannya, Okta mendirikan Komunitas Nabbay Hanggum pada 2017. Komunitas yang awalnya merupakan gerakan berbagi pakaian itu kini lebih fokus pada aksi lingkungan. Mereka memberikan pelatihan pengolahan limbah rumah tangga pada ibu-ibu. Saat ini, sudah ada sekitar 300 ibu rumah tangga yang telah mereka latih. 

Salah satunya adalah pembuatan sabun dari minyak jelantah. Selain bahan baku yang mudah didapatkan, waktu pembuatan juga relatif singkat sehingga bisa langsung dipraktekkan oleh peserta.

Okta juga pernah berkunjung ke Depok untuk melihat pengelolaan bank sampah. Di sana, Okta juga mempelajari pembuatan ecobrick dan tergerak membuatnya.

Saat ini, sudah ada sekitar 30 warung pengumpul minyak jelantah binaan Komunitas Nabbay Hanggum di Bandar Lampung. Ibu-ibu rumah tangga diajak untuk mengumpulkan minyak jelantah yang bisa ditukar dengan produk kebutuhan rumah tangga, seperti kecap atau saus.  

Selain dijadikan bahan baku sabun, sebagian minyak jelantah itu juga dijual ke PT Indo Energy Solutions selaku perusahaan pengumpul minyak jelantah untuk diproses menjadi biodiesel. Harga jual minyak jelantah fluktuatif, mulai dari Rp 4.000 – Rp 6.000 per kg. 

Uang hasil penjualan minyak jelantah dikembalikan lagi pada ibu-ibu rumah tangga binaan dalam bentuk bantuan biaya kebutuhan rumah tangga, sekolah, maupun obat-obatan.

Sarlita (48), salah satu anggota komunitas menuturkan, dia tertarik bergabung dalam gerakan itu karena ingin berkontribusi menjaga lingkungan.

“Saya senang karena bisa bagi-bagi sabun minyak jelantah ke tetangga. Mereka bilang cuciannya jadi lebih bersih,” katanya.     

Millenial berkebun

Tak hanya ibu-ibu rumah tangga, kesadaran kaum milenial juga untuk menjaga alam secara berkelanjutan juga mulai menggeliat. Sejumlah anak muda di Bandar Lampung tertarik menjadi petani kekinian dengan menanam sayuran organik. Mereka memanfaatkan halaman hingga lantai atap rumah.

Meza Yupita Sari (29) adalah salah satu milenial yang telah memanfaatkan halaman rumahnya untuk membuat pertanian hidroponik sejak 2017. Berawal dari hobi, lulusan Fakultas Pertanian Lampung itu juga menjadikan hidronik sebagai bisnis sampingan. 

Kini, dia juga menyulap roof top sebagai lahan tambahan untuk sayuran hidroponiknya.   

Setiap bulan, Meza bisa memasok 500-600 pak aneka sayur, seperti selada, daun mint, dan pakcoy ke supermarket di Bandar Lampung. Selain itu, dia juga memasok kebutuhan sayuran untuk beberapa usaha rumah makan. 

Menurut Meza, pertanian hidroponik berperan dalam menjaga lingkungan karena memanfaatkan bahan-bahan organik, baik pupuk maupun pestisida.

“Kalau ada serangan hama, saya memanfaatkan perasan air daun papaya dan bawang putih untuk disemprotkan pada tanaman sebagai pestisida alami,” kata Meza.

Selain itu, hidroponik sebagai salah satu konsep urban farming juga bisa menjadi gerakan untuk menghijaukan perkotaan. Di tengah derap pembangunan kota yang kian masif, bertani dari halaman rumah ini bisa menjadi alternatif pelestarian lingkungan.

Namun Meza tak menampik, perubahan iklim membuat petani hidroponik makin kesulitan merawat tanaman. Hujan dan panas yang tidak menentu membuat tanamannya lebih mudah terserang hama dan layu.

Baca juga: Bertani organik kala pandemi, mendorong petani milenial dan regenerasi petani di Indonesia

Koordinator Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Pesawaran Lampung Suparji mengungkapkan, pihaknya telah melakukan analisis terkait perubahan iklim di Lampung. Lokasi penelitian dilakukan di empat stasiun BMKG. 

Hasil pengukuran suhu udara di Stasiun Meteorologi Radin Inten II, Lampung Selatan, misalnya, menunjukkan adanya pergeseran suhu rata-rata per dekade. Pada kurun waktu 1976-1885, suhu udara berkisar 24,5-27 derajat celcius. Pada dekade keempat (2006-2016), suhu udara berkisar 25,5-28 derajat celcius. Dari hasil analisis, ada pergeseran suhu udara rata-rata dari 26-26,5 derajat celcius.

Perubahan iklim juga menyebabkan perubahan curah hujan di Lampung. Hasil analisis menunjukan, musim kemarau menjadi lebih panjang, sedangkan musim hujan lebih menjadi pendek.

Gerakan berkebun di perkotaan juga dilakukan oleh ibu-ibu dari kelompok PKK Kelurahan Susunan Baru, Kecamatan Langkapura, Kota Bandar Lampung. Mereka mengolah lahan kosong milik kelurahan menjadi kebun sayur dengan menanam kangkung, terong, cabai, dan tomat. Ada juga tanaman jambu biji dan mangga.

Ketua PKK Keluharan Susunan Baru, Alimah menuturkan, anggota kelompok secara bergantian mengurus kebun. Setiap panen, sayuran dibagikan pada anggota dan dijual pada pedagang sayur keliling. Tujuannya agar semakin banyak warga yang tergerak menghijaukan halaman rumah dengan tanaman. 

Dosen Program Studi Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sumatera Arif Setiajaya menilai, gerakan nyata yang dilakukan ibu-ibu rumah tangga di Bandar Lampung itu bisa menjawab ragam masalah lingkungan yang memicu perubahan iklim. Jika dilakukan secara masif, gerakan itu bisa mengurangi gas rumah kaca yang terbentuk akibat aktivitas pengolahan sampah yang salah.

“Masyarakat yang tidak paham penanganan sampah plastik umumnya akan memusnahkan sampah dengan cara membakar,” kata Arif. Hal itu akan memicu pembentukan gas karbondioksida yang meningkatkan jumlah gas rumah kaca.

Baca juga: Sampah Plastik Mengaliri Bengawan Solo Sampai Mencemari Laut Jawa

Penataan kota

Menurut Arif, perubahan iklim juga bisa memicu berbagai bencana hidrometeorologi. Perubahan musim bisa memicu bencana banjir dan kekeringan, sementara kenaikan suhu juga bisa memicu kebakaran hutan. Tingginya emisi gas rumah kaca juga bisa menimbulkan polusi udara.     

Arif menilai, gerakan pengelolaan sampah dan menghijaukan lingkungan harus terus digalakkan. Selain gerakan warga, pemerintah daerah harus mempunyai kebijakan strategis untuk menghadapi perubahan iklim.  

Salah satunya dengan memperhatikan fungsi ekologis dalam pembangunan. Selain itu, pemerintah juga harus mendorong pengelolaan perkotaan secara cerdas dan minim emisi gas rumah kaca.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kota Bandar Lampung Khaidarmansyah menjelaskan, pembangunan Kota Bandar Lampung mengacu pada aspek sustainable development goals. Adaptasi perubahan iklim menjadi aspek yang diperhatikan dalam pembangunan dan penataan kota. 

Berbagai prioritas pembangunan untuk mengatasi dampak perubahan iklim, antara lain normalisasi sungai, perbaikan drainase, dan pengelolaan sampah di TPA Bakung. Saat ini, volume sampah rumah tangga dan industri di Bandar Lampung mencapai 1.000 ton per hari. Sebagian besar diangkut dan ditimbun di TPA Bakung. 

Untuk itu, pemerintah tengah menjajaki kerjasama dengan pihak swasta untuk memanfaatkan sampah di TPA Bakung menjadi briket atau energi listrik. Inovasi itu diharapkan dapat mengatasi persoalan sampah dan mengurangi emisi gas rumah kaca. 

 

Sudah ada beberapa investor yang tertarik. Namun, mereka masih berpikir karena investasinya tidak murah. Perlu ada kepastian pemasaran dari briket atau listrik yang dihasilkan dari sampah.

Khaidarmansyah, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kota Bandar Lampung

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Bandar Lampung, pada 2021, estimasi emisi gas rumah kaca di TPA Bakung mencapai 2,09 juta meter kubik. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan pada 2020, yakni sebanyak 1,77 juta meter kubik.  

Selain pengelolaan sampah, pemkot juga mengoperasikan bus rapid transit  untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Penataan kota juga juga mempertimbangkan fungsi ekologi dengan mempertahankan kawasan perbukitan sebagai daerah resapan air. 

Khaidarmansyah menambahkan, pemkot juga terus mengkampanyekan gerakan untuk menghijaukan pekarangan rumah dan pengolahan sampah rumah tangga. Salah satunya dengan memberikan apresiasi pada kelurahan yang mempunyai inovasi dalam penangangan sampah. Cara ini dilakukan untuk memupuk kepedulian warga pada lingkungan.

Artikel ini merupakan bagian dari “Story Grant Peliputan Lingkungan Hidup” yang diadakan Ekuatorial dan Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ), serta terbit pertama kali di Kompas.id pada 23 Oktober 2021 dengan judul ‘“Ecobrick” dan Sabun Minyak Jelantah untuk Kurangi Perubahan Iklim’.

About the writer
Vina Oktavia

Vina Oktavia

Vina Oktavia is a young journalist at Harian Kompas (Kompas.id) who is based in and covering the area of Lampung. An alumni of Lampug University, Vina started her journalism career in college. Vina was...

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.