Semakin sempitnya ruang hidup yang diakibatkan deforestasi, membuat Orang Rimba semakin rentan, termasuk dalam menghadapi ancaman penyakit zoonosis malaria. Pendekatan One Health perlu segera dioptimalkan untuk mencegah wabah baru.

Selambai, pria paruh baya itu kelimpungan ketika melihat anaknya, Ngambur (4) yang mendadak demam tinggi dan kejang-kejang. Di bawah Sudong–pondok sederhana khas Orang Rimba yang terbuat dari kayu dengan atap terpal, Ngambur terbaring dan kondisinya semakin kronis. 

Malam yang hening itu tiba-tiba geger. Kerabat Selambai, warga Orang Rimba lainnya yang mendiami kawasan di sekitar Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) itu datang menjenguk. 

Mereka mendekati Ngambur. Anak laki-laki itu masih terbaring lemah di lantai pondok. 

Badannya kurus dan matanya terus melotot ke atas. Ngambur masih kejang-kejang. Dia menunjukan gejala parasitemia dengan demam sangat tinggi dan suhu badannya panas, muka pucat, dan terjadi pembekakan organ limpa. 

Derap kebingungan bercampur kalut melihat kondisi anaknya, Selambai langsung keluar hutan mencari pertolongan ke kantor lapangan Komunitas Konservasi Indonesia Warsi (KKI Warsi), sebuah lembaga nirlaba yang fokus pada isu konservasi dan pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar hutan. 

Beruntung di sana Selambai bertemu Rusli, fasilitator kesehatan KKI Warsi. Tanpa pikir panjang dengan menggunakan sepeda motor, keduanya langsung kembali ke Sudong, tempat bocah kecil itu terbaring. 

Setibanya di Sudong, Rusli langsung memberikan pertolongan awal. Dia mengecek suhu tubuh Ngambur yang masih kejang-kejang itu. Ketika di cek, suhu badannya ternyata mencapai 40 derajat celcius. 

Karena peralatan medis yang tak komplit, Rusli dan Selambai sepakat membawa Ngambur ke Puskesmas di Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Ngambur terbaring di bawah pondok. 

Tanpa pikir panjang, Ngambur lalu dibopong. Lampu sepeda motor menyoroti sepi dan gelapnya rimba tengah malam. Mereka menembus jalan setapak di hutan, melewati tanjakan dan turunan terjal menuju desa. 

Beruntung tidak kurang dari 24 jam, Ngambur langsung mendapat perawatan intensif dan transfusi darah akibat demam tinggi yang menimpanya. Selama dua hari dirawat di puskesmas itu dia mendapat asupan infus. Petugas kesehatan juga melakukan pemeriksaan darah. 

“Diberi tahu petugas di puskesmas, keno malaria,” kata Selambai kepada Liputan6.com ketika ditemui di kediamannya yang berada di ujung Desa Bukit Suban, kawasan desa penyangga hutan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Sarolangun, Jambi, Rabu 20 Oktober lalu. 

Mengenang kisah akan kekalutannya di tahun 2019 itu, sampai sekarang Selambai masih dalam keadaan bergejolak. Sebabnya dalam satu dekade terakhir sejak hutan hilang, penyakit seperti malaria begitu cepat datang menyerang Orang Rimba, khususnya anak-anak yang lebih rentan. 

Padahal dalam sistem pengetahuan Orang Rimba, dahulu mereka tidak mengenal malaria. Dalam pengetahuannya, Selambai bercerita demam dengan gejala seperti malaria yang datang dari dalam hutan itu, mereka sebut dengan domom kuro.  

Disebut domom kuro, Fasilitator Kesehatan KKI Warsi Rusli menjelaskan, demam yang menyerang ini pasti menimbulkan gejala pembesaran pada organ limpa yang disebabkan infeksi, salah satunya malaria kronis. 

“Perutnya membesar mirip kura-kura, jadi mereka (Orang Rimba) bilang kalau malaria itu domom kuro (demam kura),” ujar Rusli. 

*** 

Orang Rimba adalah masyarakat adat di Provinsi Jambi yang bertempat tinggal di kawasan hutan. Mereka hidup berkelompok satu sama lain dan setiap kelompok dipimpin oleh seorang tumenggung (pemimpin adat). Masyarakat adat Orang Rimba sebagian besar percaya pada dewa dan roh leluhur.

Orang Rimba masih menjalankan praktik tradisional, seperti berburu di hutan dan mengumpulkan umbi-umbian, ramuan obat, dan buah-buahan. Tradisi yang paling terkenal dari komunitas ini adalah melangun, sebuah tradisi pindah ke tempat yang jauh untuk melupakan kesedihan karena kehilangan kerabat.

Menarik untuk dicatat bahwa keberadaan Orang Rimba terus-menerus terancam oleh perusahaan-perusahaan skala besar yang telah mengeksploitasi hutan untuk pertambangan, perkebunan sawit, dan industri tanaman monokultur. 

Menurut hasil survei terbaru yang dilakukan KKI Warsi, jumlah populasi Orang Rimba mencapai 6.000 jiwa. Jumlahnya tersebar di beberapa kabupaten di wilayah Provinsi Jambi. 

Orang Rimba telah kehilangan wilayah jelajah untuk mencari sumber makanan. Bahkan yang paling terasa dampak deforestasi besar-besaran itu berpotensi membawa patogen zoonosis baru. 

Dalam satu dekade terakhir, Orang Rimba telah mengalami banyak wabah malaria akibat deforestasi besar-besaran ini. 

Penyakit infeksi malaria masih menjadi momok yang sulit dihindari oleh kelompok Orang Rimba. Ketika hutan semakin masif beralih fungsi, rombongan Orang Rimba yang tinggal di tepi Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) menghadapi banyak masalah kesehatan. 

KKI Warsi dan Lembaga Bio Molekuler (LBM) Eijkman pada tahun 2015 pernah melakukan studi kesehatan Orang Rimba. Pada studi itu tim mengambil sampel darah Orang Rimba di 3 kabupaten yang bermukim di zona penyangga TNBD, yakni Sarolangun, Tebo, dan Batanghari. 

Hasil studi pada Orang Rimba itu menunjukan 24,26 persen yang terkena malaria. Prevalensi malaria di kelompok Orang Rimba masih sangat tinggi dibandingkan dengan data umum prevalensi malaria di Provinsi Jambi yang hanya 12,24 persen.    

Saat ini ada lima jenis parasit malaria yang menginfeksi manusia: Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium malariae, dan Plasmodium knowlesi. 

Hanya malaria Plasmodium knowlesi yang memenuhi kriteria sebagai zoonosis malaria berdasarkan Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC US) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang definisi penyakit zoonosis. 

Menurut Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC US) melalui situs mereka, Plasmodium knowlesi malaria adalah jenis malaria yang ditularkan dari hewan primata kera ekor panjang (Macaca fascicularis) melalui nyamuk ke manusia, sehingga berimplikasi pada hewan vertebrata dalam rantai penularan. 

Masih menurut penjelasan dari CDC US, saat ini kasus malaria Plasmodium knowlesi telah tercatat di Asia Tenggara, terutama Malaysia, Thailand, Myanmar, Vietnam, Kamboja, Filipina, Brunei, Singapura, dan Indonesia. 

Kementerian Kesehatan melalui jurnal Litbang Kemkes melaporkan beberapa daerah di wilayah Indonesia juga pernah ditemukan kasus zoonosis malaria jenis Plasmodium knowlesi ini, di antaranya seperti di Pulau Kalimantan dan Sumatera. 

Secara khusus Provinsi Jambi sendiri hingga saat ini belum eliminasi penyakit malaria. Penyebabnya masih banyak ditemukan kasus malaria infeksi lokal di beberapa daerah kabupaten yang terdapat populasi Orang Rimba. 

Dari keempat daerah yang belum eliminasi malaria ini pada tahun 2020 ditemukan positif malaria mencapai 65 kasus yang tersebar di Sarolangun (25 kasus), Batanghari (15 kasus), Tebo (13 kasus), dan Merangin (12 kasus). 

Jumlah kasus positif malaria tahun 2020 itu meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya ditemukan 60 kasus. Sedangkan pada 2021, menurut data yang dimuat laman Malaria.id, kasus aktif malaria di Provinsi Jambi mencapai 16 kasus.  

Dinas Kesehatan Provinsi Jambi mengklaim sejak tahun 2017 tidak punya kasus kematian akibat penyakit malaria, tetapi melaporkan kasus Plasmodium knowlesi, zoonosis malaria. 

Kendati demikian di tengah upaya Provinsi Jambi menuju eliminasi malaria yang ditargetkan pada tahun 2030, infeksi zoonosis yang bersumber dari binatang itu menjadi tantangan baru dalam mengatasi penyakit menular dari gigitan nyamuk. 

Kondisi ini semakin nyata karena parasit malaria Plasmodium knowlesi yang biasanya menjangkiti monyet telah ditemukan menulari kelompok masyarakat adat Orang Rimba. 

Kasus zoonosis malaria monyet ditemukan di kelompok Orang Rimba 

Dinas Kesehatan Provinsi Jambi selaku otoritas kesehatan di provinsi ini telah meneliti terjangkitnya malaria di daerah endemis malaria di komunitas adat Orang Rimba. Penelitian itu dilakukan pada tahun 2018 sebagai upaya agar eliminasi malaria di daerah endemis Orang Rimba.    

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, Eva Susanti mengatakan, penelitian itu menjadi sumber data baseline dalam menyusun strategi pengendalian dan percepatan eliminasi malaria. 

Pengendalian malaria sebut Eva, terdiri dari pencegahan, penemuan, dan pengobatan kasus secara cepat dan tepat. Disamping itu juga dilakukan surveilans tentang epidemiologi malaria. 

“Kita lakukan penyelidikan epidemiologi dengan metode 1-2-5 dan pengamatan daerah fokus. Kita juga kerjasama dengan Eijkman dalam pemetaan reseptif dan beberapa penelitian tentang malaria di populasi khusus (Orang Rimba),” kata Eva Susanti. 

Dalam pemetaan reseptif itu Eva mengatakan, varian baru zoonosis malaria monyet ekor panjang atau Plasmodium knowlesi telah ditemukan menjangkiti Orang Rimba di Kabupaten Tebo atau tepatnya di wilayah Muara Tabir di sekitar Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). 

Temuan kasus malaria yang ditularkan dari monyet itu kata Eva, ditemukan pada tahun 2018, saat program mass blood survey (MBS) dilakukan di kelompok Orang Rimba. Pemeriksaan parasit varian baru malaria ini lewat pemeriksaan berantai polimerase (PCR). 

“Ada temuan 6 kasus Plasmodium knowlesi di kelompok Orang Rimba yang masuk wilayah kerja Puskesmas Bangun Seranten,” kata Eva ketika ditemui Liputan6.com di kantornya. 

Kasus zoonosis malaria itu ditemukan pada kelompok Orang Rimba yang tinggal di zona penyangga hutan Taman Nasional Bukit Duabelas. Sejak hutan yang menjadi kehidupan mereka  semakin sempit, Orang Rimba tinggal di sekitar kawasan penyangga hutan taman nasional tersebut. 

Eva enggan menyebut secara rinci dari kelompok mana Orang Rimba tersebut yang terkonfirmasi positif malaria jenis Plasmodium knowlesi itu. Namun yang jelas menurut dia, kasus yang ditemukan ini telah dilaporkan kepada Kementerian Kesehatan pada akhir 2019. 

Saat ditemukan kasus malaria baru di Jambi ini secara umum kata Eva, gejala yang diderita oleh orang terjangkit hampir sama dengan malaria pada umumnya. Yakni demam yang diawali dengan menggigil. 

“Saat itu upaya selanjutnya langsung kita kasih obat antimalaria. Sementara kita masih terus melakukan penelitian lebih lanjut terhadap malaria ini (Plasmodium knowlesi),” ujar Eva. 

Jurnal Penyakit Dalam Indonesia menjelaskan bahwa secara umum siklus hidup Plasmodium knowlesi tidak berbeda dengan plasmodium lainnya. Plasmodium ini memiliki siklus eritrosit yang paling singkat yaitu setiap 24 jam. 

“Karena siklus hidupnya singkat, jumlah parasit dalam darah dapat cepat meningkat, sehingga infeksi P. knowlesi berpotensi menjadi penyakit yang berat,” tulis I Gede Yasa Asmara dalam jurnalnya yang berjudul Infeksi Malaria Plasmodium knowlesi pada Manusia. 

Eva Susanti melanjutkan, malaria jenis Plasmodium knowlesi bukan kasus yang pertama di Jambi dan tak hanya ditemukan di kelompok Orang Rimba. 

Kasus serupa juga ditemukan di masyarakat pedesaan di Kabupaten Merangin, tepatnya di lembah Masurai sekitar kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Namun lokasi temuan kasus ini beda kabupaten dan jauh dari kelompok Orang Rimba.  

“Yang di Merangin itu ada 5 kasus Plasmodium knowlesi, itu juga penelitian tahun 2018,” kata Eva. 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam penelitian yang dilakukan tiga tahun sebelumnya, pada tahun 2015, menemukan kasus baru Plasmodium knowlesi pada manusia di Kabupaten Bungo, Jambi. 

Penelitian itu dilakukan di Kabupaten Bungo dengan pertimbangan adanya indikasi zoonosis malaria yang ditandai dengan adanya hospes reservoiar (monyet ekor panjang atau monyet ekor babi). 

Dalam penelitian tersebut, dari 38 monyet positif zoonotic malaria, ternyata didapatkan enam (15,8 persen) terinfeksi P.knowlesi baik secara tunggal (monoinfeksi) ataupun campuran. Lima dar enam (83,3 persen) monyet yang terinfeksi P.knowlesi adalah monyet ekor panjang. 

“Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa selain satu kasus baru P.knowlesi pada manusia, juga ditemukan enam kasus P.knowlesi pada monyet di Jambi. Kasus P. knowlesi pertama pada manusia ini, didapat secara lokal (kasus indigenous) dan ini kasus pertama yang dilaporkan dari provinsi tersebut,” tulis Ervi dkk dalam sebuah Jurnal Biotek Medisiana Indonesia. 

Eva melanjutkan bahwa kondisi lingkungan dan perilaku hidup sehat yang masih rendah di kelompok Orang Rimba masih menjadi tantangannya dalam memerangi malaria.

Belum lagi kata Eva, soal budaya nomaden atau sering berpindah tempat, ditambah tempat tinggal Orang Rimba yang tanpa dinding. Kondisi itu membuat kelompok ini rentan terhadap penyakit malaria.  

Begitu pula faktor alih fungsi hutan dan deforestasi turut memperburuk kualitas hidup kelompok Orang Rimba. Eva tak menampik terbukanya kawasan hutan dan membuat genangan air itu juga turut meningkatkan populasi nyamuk.  

Deforestasi dan potensi zoonosis 

Ketika manusia terus mengekploitasi keanekaragaman hayati dengan menebang hutan, maka risiko penyakit zooonosis akan meningkat. Deforestasi menjadi jembatan peningkatan risiko penyakit zoonosis. 

Sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Frontier in Veterinary Science mengungkapkan bahwa ada kaitan antara deforestasi dengan keberadaan zoonosis (penyakit yang ditularkan oleh hewan ke manusia) dan penyakit yang ditularkan melalui vektor (penyakit yang ditularkan melalui vektor hewan/inang ke manusia), sebagaimana populasi hewan dan manusia dibawa ke dalam kontak lebih dekat. 

Studi yang dipimpin oleh Direktur Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis Serge Morand, yang bertajuk ‘Wabah Penyakit Menular Vektor dan Zoonosis Terkait dengan Perubahan Tutupan Hutan dan Perluasan Kelapa Sawit dalam Skala Global’, menunjukkan bahwa deforestasi memicu peningkatan virus seperti COVID-19 dan juga memfasilitasi berjangkitnya penyakit tular vektor seperti malaria. 

“Di sini Cigak banyak. Sampai masuk ke Sudong,” kata Tungganai Basemen, tetua adat Orang Rimba di Kelompok Tumenggung Ngrip yang tinggal di tepi Taman Nasional Bukit Duabelas. 

Cigak adalah nama lokal monyet ekor panjang. Keberadaan primata itu sejak lima tahun lalu atau setengah dekade ini kata Basemen, semakin intens bersinggungan dengan Orang Rimba. 

“Karena rimbo sudah berkurang dan semakin habis, banyak monyet mendekat ke tempat kami,” ujar Basemen. Pria paruh baya, tetua ada kelompok Orang Rimba itu hanya bisa pasrah saat gerombolan monyet mendekat di gubuknya. 

Meskipun dirinya masih awam, namun ia meyakini faktor deforestasi itulah kata Basemen, membuat monyet ekor panjang semakin sering mendekat kepada manusia. 

Alasan Basemen tadi masuk akal. Spesialis Biodiversity KKI Warsi Zola Anjelina menjelaskan, menyusutnya kawasan keanekaragaman hayati berimbas pada satwa karnivora yang semakin menyusut sehingga populasi satwa primata seperti monyet semakin meningkat. 

“Deforestasi juga mempengaruhi rantai makanan, karena satwa predator tidak ada sehingga monyet tadi bisa semakin banyak populasinya,” kata Zola. 

Hasil studi KKI Warsi mencatat dalam lima tahun terakhir deforestasi di Jambi semakin tak terbendung. Pada tahun 2015, luas tutupan hutan primer masih 1,1 juta hektare. Setahun kemudian hutan primer Jambi tersisa 970.434 hektare.  

Kemudian pada tahun 2017-2018 luas hutan Jambi kembali menyusut menjadi 920.730 hektare. Pada tahun 2019, hutan Jambi juga masih menyusut menjadi 900.713 hektare. 

Data terakhir pada tahun 2020 Luas kawasan hutan primer di Jambi terus mengalami penyusutan. Saat ini hutan Jambi tersisa 882.272 hektare atau 17 persen dari total luasan provinsi ini. 

Selain itu hutan penyangga Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), yang tadinya menjadi tumpuan penghidupan Orang Rimba, telah terfragmentasi, beralih fungsi menjadi perusahaan perkebunan kelapa sawit dan konsesi hutan tanaman industri. 

Menurut data KKI Warsi, bekas kawasan hak pengusahaan hutan (HPH) di wilayah jelajah Orang Rimba yang telah dibebankan menjadi izin konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) dan perkebunan kelapa sawit luasnya mencapai 318.851 hektare pada tahun 2020. 

Taufik Purna Nugraha, Peneliti Bidang Zoologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, fragmentasi habitat fauna akibat deforestasi dan konversi lahan mendorong potensi penyebaran zoonosis atau penyakit menular dari hewan ke manusia semakin meningkat. 

“Pertemuan satwa dan manusia menjadi lebih intens karena terbukanya hutan itu, jadi ada potensi lompatan reservoir hewan yang memiliki penyakit akan berpindah ke manusia yang dibawa oleh vektor,” kata Taufik. 

Terkain kondisi ini, Orang Rimba, menjadi lebih rentan terhadap penyakit zoonosis karena hidupnya bersinggungan dengan hutan. 

Grafis: Gresi Plasmanto/Liputan6.com

Mengurangi populasi nyamuk malaria 

November 2020 lalu tim peneliti dari Lembaga Bio Molekuler Eijkman meneliti populasi nyamuk di kelompok Orang Rimba di klaster wilayah Makekal Ilir, Kabupaten Tebo, Jambi. Penelitian nyamuk (anopheles) vektor malaria itu menggunakan metode kelambu yang dipasang dobel. 

Proses penangkapan nyamuk itu dilakukan oleh Orang Rimba mulai pukul 19.00 WIB. Setiap satu jam sekali, tim peneliti mengecek kelambu yang dijaga oleh Orang Rimba. Ketika nyamuk masuk di bagian kelambu luar, kemudian ditangkap menggunakan alat penyedot aspirator.

Beberapa jam berselang setelah kelambu dipasang, tim peneliti menemukan nyamuk anopheles. Asisten Peneliti dari LBM Eijkman Dendi Hadi Permana mengatakan, nyamuk jenis ini bisa terbang dengan jangkauan terbang (flying rate) sejauh 2 kilometer. 

“Jenisnya sudah ketahuan nyamuk anopheles ini munculnya jam 20.00 keatas. Nyamuk ini morfologinya cenderung lebih ramping,” kata Dendi kepada Liputan6.com, Rabu 18 November 2020 lalu. Dendi lalu menunjukan dua nyamuk anopheles yang berhasil ditangkap. 

Penelitian nyamuk (entomological survey) itu dilakukan 10 klaster wilayah kelompok Orang Rimba yang tinggal di tepi hutan atau buffer zone Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD)

Penelitian menggunakan tiga metode untuk penangkapannya: kelambu dobel, perangkap cahaya, dan nyamuk yang mendarat di tubuh manusia.Tim peneliti berhasil menangkap total sebanyak 1.699 nyamuk jenis anopheles–vektor malaria. 

Peneliti senior LBM Eijkman Din Syafruddin mengatakan, penularan malaria di kelompok Orang Rimba notabene lebih banyak ditularkan di luar rumah. Hal itu karena terkait budaya mereka yang hidupnya semi nomaden sehingga sangat mudah terkena gigitan nyamuk di luar. 

Kondisi lingkungan mereka juga sangat cocok dengan pertumbuhan nyamuk, ditambah genangan air selalu ada sepanjang tahun sehingga nyamuk terus berkembang. 

“Kalau kita tidak melakukan upaya ekstra, Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba tidak pernah bisa bebas dari malaria,” kata Din Syafruddin. 

“Kalau kita bagikan jaring kelambu mereka tidak mau, sehingga perlakuannya perlu pendekatan khusus. Jadi kita masuk pelan-pelan karena budaya mereka tidak mengenal kelambu, yang sekarang kita pikirkan itu bagaimana mengurangi populasi nyamuk,” sambung peneliti Eijkman itu.      

Adapun strategi dan upaya ekstra yang dilakukan Eijkman adalah menguji coba obat nyamuk untuk melindungi Orang Rimba dari gigitan nyamuk anopheles. Obat nyamuk berbentuk ukuran kertas A4 itu diberi senyawa kimia yang bisa mengusir nyamuk. 

Obat nyamuk ini hanya digantung di bawah atap pondok Orang Rimba. Obat nyamuk itu mudah menguap dan mengeluarkan bau yang tidak disukai nyamuk.  

“Baunya bisa mengusir nyamuk, tapi bagi manusia baunya tidak tercium. Karena ada penguapan senyawa kimia bisa membuat nyamuk menjauh,” ujarnya. 

Pengembangan obat nyamuk ini atas kerjasama Eijkman dengan Universitas Notre Dame Amerika Serikat. Setelah melalui serangkaian dan pengujian obat nyamuk itu selama enam bulan, populasi nyamuk anopheles bisa berkurang mencapai sekitar 30 persen. 

“Karena ini masih uji klinis, obat ini belum dipasarkan. Tapi dalam waktu dekat bisa diberikan kepada Orang Rimba. Alat ini bisa dipakai sambil jalan dan mudah dibawa kemana-mana,” ujarnya. 

Din mengingatkan nyamuk anopheles–vektor malaria masih perlu diwaspadai. Sebab deforestasi dan konversi hutan menjadi kebun kata dia, juga berpengaruh dengan perkembangan populasi nyamuk yang bisa membawa sumber penyakit. 

“Banyak penyakit secara alami yang tadinya hanya beredar pada satwa di dalam hutan. Tapi karena deforestasi mengakibatkan penyakit dari satwa tadi semakin mendekat dengan manusia,” kata Din. 

One Health jadi solusi 

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC US), dari 1.407 patogen yang menulari manusia, 58 persen berasal dari hewan, seperempat dapat menjadi sumber transmisi epidemik atau pandemik.  

Selain itu berdasarkan penjabaran Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko-PMK) saat ini dunia mengalami peningkatan ancaman penyakit menular baru dikenal dengan Emerging Infectious Disease (EID) yang 70 persen bersifat zoonosis, menular dari hewan ke manusia. 

Dalam menyelesaikan persoalan yang saling terkait tersebut, pemerintah selaku pemangku kebijakan agar memperluas jangkauan pendekatan One Health di Indonesia. 

Pendekatan One Health menjadi salah satu strategi dalam memperluas kolaborasi interdisipliner dan komunikasi terkait dengan aspek pelayanan kesehatan bagi manusia, hewan, dan lingkungan. 

Sinergi dalam konsep ini dapat memajukan upaya satu kesehatan yang diwujudkan melalui; percepatan penemuan penelitian biomedis, meningkatkan upaya kesehatan masyarakat, memperluas basis pengetahuan ilmiah. 

Country National Veterinary Advisor pada Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) di Indonesia, Farida Camallia Zenal menjelaskan, konsep One Health bertujuan untuk mengurangi, mencegah, mengawasi, ataupun mengendalikan risiko penyakit menular dari hewan ke manusia.  

Penanganan suatu penyakit, terutama untuk zoonosis menurut dia, tidak bisa tertangani oleh satu sektor saja, tapi harus satu kerangka.  

Satu kerangka itu meliputi; kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global untuk mencapai satu kesehatan yang optimal. 

“Cara kerja konsep One Health ini tentunya memerlukan penghilangan batas-batas (barriers) interdisiplin antara kedokteran manusia, kedokteran hewan, dan ilmu lingkungan. Artinya butuh kolaborasi antar sektor,” ucap dia. 

Pendekatan One Health kata dia, sangat penting diterapkan dalam mencegah munculnya epidemi baru.   

“Kalau mau penangan penyakit yang baik, terutama zoonosis gunakanlah pendekatan ini. One Health ini jadi solusi kedepan” ujar Farida. 

Gresi Plasmanto/Liputan6.com

Pendekatan One Health di Indonesia sebenarnya telah dijalankan pemerintah dan lintas kementerian yang bekerjasama dengan FAO Indonesia.   

Dalam laporan tahun 2019 yang dipublikasikan FAO/Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (ECTAD) Indonesia “One Health Untuk Masa Depan Lebih Baik”, program One Health telah diluncurkan pada 18 provinsi di Indonesia. 

Sejumlah program itu meliputi surveilans pada hewan ternak untuk mencegah penyebaran virus flu burung, flu babi dan mitigasi dampaknya.  

“Aksi One Health konkrit dan kemitraan multisektoral yang terbangun untuk secara bersama memahami potensi risiko spill-over patogen dari satwa liar dan manusia,” kata Farida Camallia Zenal. 

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, Eva Susanti mengakui, di Provinsi Jambi sendiri belum menerapkan konsep One Health dalam pencegahan dan pengendalian zoonosis malaria monyet ekor panjang. 

Namun kedepan kata Eva, instansinya berencana menggandeng dan kolaborasi dengan dinas terkait dalam membuat kebijakan untuk penanganan zoonosis malaria pada Orang Rimba.  

“Kita akan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Hewan (Keswan) untuk vaksinasi terhadap hewan, karena kalau mengurangi populasi hewan atau kera itu dengan cara dibunuh tidak dapat diterima. Jadi intervensi ke satwanya itu ya kita beri vaksin,” kata Eva.

Pendekatan One Health lanjut Eva, akan menjadi pertimbangannya dalam mitigasi dampak zoonosis. “Tak hanya soal zoonosis malaria, namun juga pendekatan ini untuk pencegahan potensi penyakit zoonosis lainnya sehingga tidak menjadi wabah baru,” demikian kata Eva.

Eva mengklaim, mengurangi populasi nyamuk yang membawa vektor penyakit dan vaksinasi hewan primata telah sejalan dengan konsep One Health.  

Namun ada hal yang penting dalam kesehatan lingkungan, yakni keberadaan hutan tak boleh dilupakan. Dalam studi nya, Direktur Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis, Serge Morand mengatakan “Kita harus memberikan peran lebih kepada hutan dalam konteks kesehatan manusia, kesehatan binatang, dan kelestarian lingkungan.”

Serge merekomendasikan kepada para ilmuan, petugas kesehatan, masyarakat, dan pembuat kebijakan harus menyelaraskan kebutuhan untuk melestarikan keanekaragaman hayati sambil mempertimbangkan risiko kesehatan yang ditimbulkan dari kurangnya atau salah urus hutan.

Selambai dan putranya Ngambur, dan barangkali seluruh masyarakat adat Orang Rimba sangat berharap kepada petinggi negeri ini untuk turut menjaga hutan yang menjadi tempat mereka bergantung hidup. Sedari nenek moyang mereka dulu, hutan memiliki multifungsi. Selain sebagai ruang hidup, hutan mereka yakini bisa melindungi dari penyakit.

One Health, yang di dalamnya ada konsep kelestarian hutan adalah harapan bagi mereka, agar suatu hari nanti tak ada penyakit-penyakit menular baru yang membayangi kelompok masyarakat adat Orang Rimba.

Versi sebelumnya dari liputan ini terbit di Liputan6.com pada tanggal 8 Februari 2022. Liputan ini didukung oleh Internews’ Earth Journalism Network.

  

About the writer
Gresi Plasmanto

Gresi Plasmanto

Gresi Plasmanto is a journalist who lives in Jambi. He has been a journalist since 2014 and previously was a correspondent for the Antara News' Jambi Bureau. Since July 2019 until now, Gresi has joined...

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.