
Burung cenderawasih yang merupakan salah satu satwa lindung berpotensi punah dari alam Tanah Papua. Banyak pihak yang memburu satwa lindung tersebut sebagai aksesoris dan cinderamata untuk kepentingan perdagangan.
Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Papua Maikel Peuki mengatakan, bahkan ada orang yang menyelundupkan burung cenderawasih keluar Papua dalam jumlah banyak yang secara perlahan dapat mengancam eksistensi satwa endemik ini.
Penyelundupan ini ada yang terdeteksi tapi ada pula yang lolos dari deteksi di bandar udara maupun pelabuhan.
“Masyarakat berburu lalu keringkan burung cenderawasih baru buat mahkota kepala atau perhiasan.Tapi ada yang berburu untuk dijual lalu kirim ke luar Papua [tanpa ada izin],” kata Peuki, diakses dari laman WALHI Papua, Senin, 15 April 2024.
Burung cenderawasih tidak hidup di semua hutan Papua, hanya hutan di daerah tertentu saja sehingga perlu menjaga hewan langka tersebut. Perusahaan kelapa sawit yang membongkar berhektar-hektar hutan di Papua berkontribusi besar terhadap ancaman kepunahan satwa dilindungi.
“Tidak mungkin cenderawasih itu bernaung di pohon kepala sawit, apalagi makan buah kelapa sawit,” ujarnya.
Peuki mengatakan memang Pemerintah Provinsi Papua telah secara resmi melarang penggunaan mahkota burung cenderawasih yang asli, namun itu belum cukup. Ia meminta Pemprov Papua agar membuat Peraturan Daerah atau Perda tentang perlindungan satwa langka khusus.
“Harus ada Perda tentang perlindungan burung cenderawasih di Papua,” kata Peuki. Ia mengatakan, beberapa organisasi yang peduli alam dan lingkungan hidup seperti WALHI, Greenpeace, dan kelompok mahasiswa sering berkolaborasi untuk membangun kesadaran masyarakat dan meningkatkan kepedulian terhadap ekosistem flora dan fauna.
- Lonjakan Korban Jiwa Akibat Lambatnya Penanganan Kebakaran Hutan 2026
CREA dalam laporan bertajuk Indonesia’s air pollution deaths surged by 42% in September as government resists declaring karhutla a national emergency, asap beracun akibat kebakaran hutan dan lahan menyumbang 3.560 kematian pada September 2026. - Restorasi Lahan Berbasis Sains dan Penguatan Tata Kelola di Balik Kabut Asap
Kebakaran hutan telah merusak lanskap fisik, sekaligus merepresentasikan hilangnya laboratorium alam yang menyimpan struktur, fungsi, dan kontinuitas informasi ekologis yang sangat berharga bagi ilmu pengetahuan dunia. - Bara di Suaka Terakhir
Kebakaran akhir Juni lalu memusnahkan 17 hektare lahan restorasi, hutan muda sebagai rumah alami orangutan sumatera (Pongo abelii). - Diplomasi Basa-Basi Penanganan Kabut Asap dan Kebakaran Hutan Indonesia
Tanpa adanya tindakan jelas dan cepat dari pemerintah untuk menghentikan kebakaran, membuat kabut asap merentang melintasi perbatasan hingga ke negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia. - Kalimantan Tengah jadi Wilayah Paling Membara Sepanjang Tahun 2026
Kalimantan Tengah diketahui menduduki peringkat pertama sebagai wilayah paling membara, dengan sumbangan mencapai 77.311 titik panas atau mencakup sekitar 55 persen dari total nasional pada awal September. - Ribuan Titik Api Mengepung Tanah Papua Demi PSN
Ribuan titik api mengepung kawasan hutan di tengah gelombang ekspansi proyek pangan skala besar, perkebunan, kehutanan, dan berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN).




