
Zephyrus sebagai bagian dari Badan Semi Otonom HMME “Atmosphaira” Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar kegiatan edukatif “Z-Action: Zephyrus Goes to School” dengan tema Pengurangan Risiko Bencana Banjir sebagai Pengenalan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), di Kampus 2 SMK Muhammadiyah Majalaya, Kabupaten Bandung, Sabtu (19/10/2024).
Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dari Program Studi Meteorologi ITB serta pelajar dari 7 sekolah di wilayah Majalaya, meliputi SMK Muhammadiyah Majalaya, SMK Karya Pembangunan Majalaya, SMK Pasundan Majalaya, SMA Pasundan Majalaya, SMA Negeri 2 Majalaya, SMA Negeri 1 Majalaya, dan SMA Aulia Majalaya.
Dalam kegiatan ini, Zephyrus melibatkan masyarakat sekitar dan komunitas kebencanaan masyarakat Majalaya “Komunitas Jaga Balai-Siaga Warga Majalaya”, untuk menyukseskan kegiatan, sebagaimana diakses dari laman ITB.
Mengapa mahasiswa Meteorologi menaruh kekhawatiran terhadap masalah banjir di wilayah Majalaya?
Secara letak geografisnya, Majalaya menjadi daerah yang sangat berpotensi terjadi banjir, terbukti dari historis kejadian banjir yang hampir setiap tahunnya terjadi di Majalaya. Selain itu, banjir merupakan salah satu bencana hidrometeorologi yang merupakan salah satu permasalahan bagi para ahli meteorologi.
Banjir di Majalaya dapat disebabkan oleh tingginya curah hujan sehingga diperlukan peran Meteorologi dalam menganalisis curah hujan untuk mendukung sistem peringatan dini yang ada di Majalaya. Pengaplikasian keilmuan Meteorologi tidak hanya sebatas memberikan prediksi curah hujan tapi dapat juga berperan dalam penyediaan data untuk pengurangan risiko bencana. Fokus inilah yang Zephyrus tanamkan pada kegiatan Zephyrus Goes To School.
Acara ini menyuguhkan berbagai materi yang dirancang untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan dalam upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Penyampaian materi dilaksanakan dalam bentuk post to post. Terdapat 7 pos yang menyampaikan materi berbeda, antara lain:
Materi ini dijelaskan langsung oleh Komunitas Jaga balai Majalaya. Peserta diperkenalkan karakteristik geografis wilayah Majalaya yang membuatnya rentan terhadap banjir. Di pos ini, siswa mendapatkan pemahaman mengenai faktor-faktor yang menyebabkan daerah majalaya sering terdampak banjir, serta pentingnya sistem peringatan dini sebagai langkah mitigasi awal. Melalui pengetahuan ini, siswa diharapkan tidak hanya lebih waspada terhadap kondisi lingkungan sekitar, tetapi juga dapat berperan aktif dalam mencegah dan selalu siap siaga terhadap bencana.
Di pos ini dijelaskan tentang mekanisme banjir yang ditinjau dari segi curah hujan tinggi, topografi, dan pola cuaca lokal di daerah Majalaya. Peserta diajak memahami penyebab banjir di wilayah Majalaya secara ilmiah sehingga dapat memahami terkait curah hujan yang berpengaruh besar terhadap terjadinya banjir.
Mahasiswa dari Prodi Meteorologi ITB memperkenalkan Automatic Weather Station (AWS), yaitu alat untuk memantau kondisi cuaca secara otomatis. Siswa diberi kesempatan melihat langsung alat tersebut dan belajar mengenai komponen serta fungsinya dalam pemantauan cuaca. Dengan begitu, peserta dapat mengetahui cara mengukur beberapa parameter cuaca seperti temperatur, kelembapan, arah angin, kecepatan angin, intensitas curah hujan, dan parameter lainnya yang akan diolah menjadi informasi dalam bentuk statistik.
Pada Pos 4, peserta diajak mengenal lebih dalam berbagai jenis awan. Mereka juga diperkenalkan dengan “jendela awan”, alat yang membantu dalam mengamati dan menentukan jenis awan yang terlihat di langit. Melalui kegiatan ini, siswa dapat memahami bagaimana pengamatan awan dapat memberikan petunjuk awal mengenai kondisi cuaca.
Rain gauge diperkenalkan sebagai alat penakar hujan untuk memahami kondisi hujan di Majalaya. Peserta juga dikenalkan dengan konsep Rainwater Harvesting (RWH) atau pemanenan air hujan yang bisa menjadi solusi untuk memudahkan masyarakat mendapatkan air bersih yang layak pakai.
Pos ini memperkenalkan dan menjelaskan tentang Automatic Water level Recorder (AWLR) yang telah dibuat oleh tim BSO Zephyrus ITB sebagai salah satu alat yang dapat membantu merekam ketinggian permukaan air sungai secara otomatis serta berfungsi sebagai sistem peringatan dini bencana banjir di wilayah Majalaya.
Di pos terakhir, siswa belajar terkait konsep lubang resapan biopori yang menjadi salah satu solusi sederhana namun efektif untuk mengelola air hujan secara alami yang akan menampung dan menyerap air hujan ke dalam tanah sehingga membantu mengurangi potensi genangan dan banjir di permukaan. Dengan mempercepat peresapan air, lubang ini mengurangi jumlah air yang mengalir ke sungai atau saluran pembuangan, yang sering menyebabkan peningkatan debit air dan risiko banjir di kawasan padat penduduk atau daerah dengan sistem drainase yang terbatas.
Kegiatan Z-Action: Zephyrus Goes to School ini diharapkan mampu memberikan pemahaman mendalam kepada pelajar di Majalaya mengenai pentingnya mitigasi risiko banjir. Dengan begitu, tercipta lingkungan yang lebih siap dan tangguh terhadap risiko bencana, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan di kalangan generasi muda.
- Menjaga Jejak Tsunami Purba di Selatan Jawa
Para ilmuwan telah berhasil menyingkap realitas geologis melalui butiran pasir dan fosil purba yang terpendam di balik tanah pesisir, wilayah ini menyimpan rekam jejak tsunami katastrofik masa lalu. - Peringatan Utang Lingkungan yang Diwariskan di Hari Lingkungan 2026
Indonesia menghadapi akumulasi krisis ekologis berupa lonjakan deforestasi, meluasnya konflik agraria, hingga bencana hidrometeorologi yang rutin menerjang. - Jaring Kosong di Pesisir Banten Akibat Tercemarnya Ladang Tangkap Ikan
Krisis ekologi memicu paradoks ekonomi yang menjerat kehidupan nelayan sehari-hari. Meskipun harga komoditas perikanan meroket di pasar lokal Banten, ketiadaan volume ikan yang ditangkap membuat kenaikan harga tersebut kehilangan maknanya. - Jejak Kerusakan di Cagar Alam Cycloop Ancam Kehidupan Masyarakat Adat Papua
Tim pemantau mendeteksi enam titik bukaan lahan kebun baru yang digarap secara berpindah-pindah. Lahan-lahan liar itu dibuka pada ketinggian 100 hingga 400 meter di atas permukaan laut (mdpl), tepat di atas jalur rawan bekas bencana longsor tahun 2019. - Aktivitas Pertambangan Merusak Karst dan Memadamkan Senja di Pantai Kartika
Megahnya tebing-tebing karst dari Formasi Laonti yang berbatasan langsung dengan Selat Wawonii, kawasan ini pernah menyajikan panorama memukau layaknya Raja Ampat versi mini. - Jejak Kotor dan Luka Ekologis di Atas Narasi Hijau Proyek Geothermal Mataloko
Konflik panas bumi di Mataloko menjadi simbol kegagalan teknokratis yang dipaksakan. Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko, kini diposisikan sebagai pilar utama agenda Flores Geothermal Island.



