Pada Sabtu pagi, 23 Mei 2026, tepat pukul 10.00 WIT, sebanyak 26 anggota masyarakat adat Kampung Sereh melangkah meniti jalur terjal Cagar Alam Pegunungan Cycloop, Kabupaten Jayapura.
Perjalanan menyusuri batas kawasan hingga kepala air terjun Cycloop ini melibatkan barisan pemuda hingga mama-mama Papua. Ekspedisi mandiri ini diinisiasi untuk memantau langsung kesehatan pegunungan yang menjadi penyangga utama kehidupan di kaki gunung, khususnya wilayah Sentani.
Kepala Suku Sentani di Kampung Sereh, Syors Ondi, menyampaikan pemantauan ini pertama kalinya dilakukan oleh masyarakat setempat. Menurutnya, langkah ini penting untuk membangun kesadaran dalam menjaga alam.
โMonitoring ini cara kita untuk tetap mencintai dan menjaga lingkungan demi generasi masa depan,โ kata Syors, dikutip dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).
Ekspedisi yang dilakukan hingga pukul 15.00 WIT ini justru menyingkap kenyataan pahit. Hutan Cycloop yang disakralkan sedang dirambah secara ilegal.
Luka Tersembunyi di Lereng Curam
Dalam ekspedisi tersebut, tim pemantau mendeteksi enam titik bukaan lahan kebun baru yang digarap secara berpindah-pindah. Lahan-lahan liar itu dibuka pada ketinggian 100 hingga 400 meter di atas permukaan laut (mdpl), tepat di atas jalur rawan bekas bencana longsor tahun 2019.
Pembukaan lahan terjadi pada kemiringan lereng yang sangat curam, berkisar antara 30 hingga 55 derajat sehingga menjadi kondisi geofisik yang sangat rentan memicu erosi hebat.
Selain itu, tim juga menemukan area perkebunan labu siam berskala besar di atas kepala air terjun Cycloop yang sengaja disembunyikan di balik rimbunnya pepohonan besar hutan primer.
Berdasarkan pelacakan, pemilik lahan tersebut merupakan warga dari wilayah Kampung Sereh dan Hinekombe. Di sekitar lokasi, ditemukan pula bekas honai terbengkalai yang ditumbuhi alang-alang, bekas sisa aktivitas perambah yang sebelumnya sempat ditertibkan oleh Masyarakat Mitra Polhut (MMP) beberapa sebelumnya.
Jemmy Ondi, salah seorang pemuda adat Kampung Sereh yang ikut mendaki, memperingatkan bahaya nyata dari kerusakan hutan di kawasan lindung ini bagi warga di kaki gunung.
“Kalau tidak dicegah dari sekarang, dampaknya akan kembali dirasakan masyarakat di Sentani. Cycloop harus dijaga bersama sebelum bencana itu datang lagi,” tegas Jemmy.
Kosmologi yang Dikoyak
Jajaran pegunungan sepanjang 36 kilometer ini dikenal sebagai Robhong Holo atau sebuah situs religi yang sakral bagi Masyarakat Adat Sentani. Secara turun-temurun, kepemilikan hak ulayat atas kawasan ini dipegang oleh lima suku adat besar, yakni Tepra, Ormu, Moy, Sentani, dan Humboldt.
Pranata adat leluhur telah mengatur hubungan manusia dengan alam secara ketat. Suku Sentani hanya memanfaatkan hutan secara subsisten dengan sistem agroforestri tradisional yang tidak menggunduli vegetasi serta berburu melalui tradisi Khe Eulla yang terkontrol.
Derasnya arus migrasi penduduk dari wilayah Pegunungan Tengah Papua membawa perbedaan konstruksi kebudayaan yang kontras. Para pendatang memandang lereng subur Cycloop sebagai ruang pertanian intensif dengan metode tebas-bakar.
Akibatnya, bentang alam pegunungan mengalami kemunduran cepat akibat pembukaan kebun baru.
Tak hanya itu, eksploitasi destruktif juga mengancam kelestarian flora endemik bernilai tinggi, salah satunya pohon Sowang (Xanthostemon novoguineensis).
Kayu besi endemik ini memiliki kedudukan sakral dan telah digunakan sejak zaman prasejarah sebagai tiang rumah panggung tradisional berukir motif mitologi, seperti di situs Ayauge (Kampung Doyo Lama) dan situs Yomokho.
Demi keuntungan ekonomi instan, pohon Sowang ditebang secara liar di dalam zona cagar alam untuk dibakar menjadi arang dan dijual ke restoran-restoran di Kota Jayapura seharga Rp20.000 per karung.
Di Kampung Doyo Lama dan Kampung Harapan, populasi Sowang terancam punah lokal karena belum adanya upaya budidaya aktif.
Potensi Diamuk Banjir Bandang
Berkaca dari pengalaman, kerusakan vegetasi di hulu melahirkan tragedi kemanusiaan terburuk dalam sejarah modern Jayapura pada Sabtu malam, 16 Maret 2019.
Guyuran curah hujan ekstrem yang mencapai 235,1 hingga 250 milimeter per hari, membuat lereng Pegunungan Cycloop yang gundul akibat pertanian liar kehilangan kemampuan mengikat air.
Lereng terjal dengan kemiringan ekstrem hingga 180 derajat itu longsor dan menyumbat sungai di hulu, menciptakan bendungan alam yang kemudian runtuh.
Air bah bercampur jutaan meter kubik lumpur membawa batu gunung raksasa dan gelondongan kayu sisa pembalakan menghantam Sentani.
Paul Finsen Mayor, Ketua Dewan Adat Papua kala itu, mencurigai adanya pembalakan liar masif karena banyaknya kayu gelondongan raksasa yang terbawa arus hingga memblokade jalan utama.
Bencana ini menelan korban jiwa sedikitnya 113 orang tewas dan 94 orang hilang, dengan kerusakan parah di Kelurahan Dobonsolo, Doyobaru, dan Hime Kombe.
Efek domino bencana ini terus meluas ke sektor pelayanan publik dan mata pencaharian warga. Kerusakan hulu menyebabkan 30 dari 39 aliran sungai alami di Cycloop mengering total, menyisakan hanya 9 aliran sungai aktif. Hal ini turut memicu krisis air bersih domestik di Jayapura dan Sentani.
Kemudian di sektor kesehatan, RSUD Jayapura dan RSUD Abepura kerap mengalami krisis air parah, memaksa keluarga pasien membawa air bersih sendiri menggunakan jeriken dari rumah ke ruang rawat inap demi kebutuhan pasien.
Sementara di sektor perhubungan, kapal-kapal penumpang nasional milik Pelni di Pelabuhan Jayapura terpaksa dibatasi pasokan air bersihnya, sehingga pihak manajemen kapal harus menutup bak penampung air mandi bagi seluruh penumpang demi menghemat persediaan air minum selama pelayaran.
Sedangkan sedimentasi sisa erosi memicu pendangkalan Danau Sentani turut merusak kualitas air, dan mengancam nelayan keramba. Kerusakan lingkungan ini juga melenyapkan pohon khombouw di tepi danau, memaksa perajin lukis kulit kayu tradisional di Kampung Asei mencari bahan baku jauh ke pedalaman.




