Skip to content Skip to navigation Skip to footer

Anak-Anak Pesisir Membayar Harga Termahal dari Krisis Iklim

Di sepanjang pesisir utara Jawa, jejak krisis iklim tidak hanya diukur dari angka kenaikan muka air laut atau luasan daratan yang menyusut. Jejak itu terekam paling jelas dalam keseharian kelompok yang paling tidak bertanggung jawab atas akumulasi emisi karbon dunia: anak-anak.

Bagi mereka, krisis iklim bukanlah narasi apokaliptik di masa depan atau peringatan di atas kertas. Krisis itu adalah realitas hari ini—air pasang berlumpur yang harus diterobos demi mencapai sekolah, ancaman penyakit dari sanitasi yang memburuk, hingga hilangnya petak-petak tanah tempat mereka dulu bermain petak umpet.

Kenyataan pahit ini sejalan dengan temuan global. Dalam Children’s Climate Risk Report 2026, UNICEF mengungkap kenyataan yang menohok: hampir seluruh anak di bumi kini hidup di bawah bayang-bayang paparan risiko iklim. Sedikitnya 1,1 miliar anak di seluruh dunia harus menghadapi tiga ancaman ganda sekaligus—mulai dari panas ekstrem, gelombang panas, hingga kekeringan. Di luar itu, ada 33 juta anak yang masa kecilnya direnggut oleh banjir pesisir dan 337 juta lainnya terancam oleh luapan sungai.

Garis Depan yang Rapuh

Mengapa anak-anak menjadi kelompok yang paling menanggung beban?

Mida Saragih, Pengkampanye Perlindungan Pesisir dan Laut WALHI, menegaskan bahwa anak-anak berada di garis depan bencana iklim tanpa dibekali “perisai” yang memadai. Kerentanan mereka bukan sekadar soal fisik yang lebih kecil, melainkan berlapis-lapis.

“Kerentanan mereka semakin kompleks karena faktor usia, gender, dan kondisi disabilitas, terutama saat harus mengungsi dan hidup dalam ketidakpastian,” ungkap Mida.

Di Indonesia, episentrum dari krisis ruang hidup ini membentang di Pantai Utara (Pantura) Jawa. Sebuah kajian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2026 merangkum ironi ekologis yang memprihatinkan: sepanjang dua dekade terakhir (2000–2024), 65,8 persen wilayah pesisir ini telah mengalami erosi parah. Kondisi ini diperburuk oleh penurunan muka tanah (land subsidence) yang membuat daratan seolah perlahan ditarik ke dasar laut.

Tingginya frekuensi bencana iklim di kawasan ini tidak hanya memukul ekonomi keluarga. Ada tekanan lingkungan, fisik, dan psikologis luar biasa yang berdampak langsung pada hak tumbuh kembang anak. Mereka dipaksa beradaptasi dengan kondisi ekstrem, hidup dengan kecemasan kapan air rob akan kembali menelan ruang tidur mereka.

Desa yang Ditelan Laut

Jika Anda ingin melihat rupa nyata dari krisis ini, tengoklah Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Di Kecamatan Sayung, air laut bukan sekadar pasang surut, ia datang untuk menetap.

Data dari WALHI Jawa Tengah mencatat, banjir rob telah melumpuhkan sekitar 1.266 hektar wilayah secara berulang, menenggelamkan asa di desa-desa seperti Sriwulan, Sidogemah, dan Bedono.

Kasus di Desa Bedono adalah monumen hidup dari keganasan abrasi dan krisis iklim. Menurut riset WALHI Jawa Tengah (2024), desa yang dulunya memiliki luas daratan 739 hektar ini, kini telah menyusut drastis. Hanya tersisa 94,33 hektar daratan yang masih bisa dipijak. Sisa daratan itu pun terus digerogoti waktu, abrasi, dan laju penurunan tanah. Sejak akhir 1990-an, beberapa dusun di sana perlahan tenggelam bak Atlantis modern, memaksa warganya pergi meninggalkan memori dan rumah mereka.

Direktur Eksekutif WALHI Jawa Tengah, Fahmi Bastian, memberikan catatan tajam mengenai fenomena ini. Ini bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan krisis keadilan antargenerasi.

“Jika terus membiarkan pesisir tenggelam, maka negara bukan hanya gagal melindungi anak-anak hari ini, tetapi juga sedang merampas hak generasi masa depan atas ruang hidup yang aman, sehat, dan berkelanjutan,” tegas Fahmi.

Peringatan Fahmi adalah tamparan bagi orientasi kebijakan pembangunan yang acap kali hanya berkaca pada angka-angka pertumbuhan ekonomi, namun abai terhadap keselamatan hidup generasi mendatang.

Bagi anak-anak di pesisir Pantura, alarm krisis iklim telah berbunyi. Di dalam rumah-rumah yang lantainya harus terus dicor dan ditinggikan, di gedung-gedung sekolah yang kian sulit dijangkau, dan di ruang hidup yang perlahan menghilang, mereka tengah membayar harga termahal dari kerusakan bumi yang tidak pernah mereka buat.


Jurnalisme lingkungan Indonesia butuh dukungan Anda. Bantu Ekuatorial.com terus menyajikan laporan krusial tentang alam dan isu iklim. Donasi sekarang..


Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses