Pesisir Jakarta menghadapi tekanan yang kian berlapis. Kenaikan muka air laut, abrasi, banjir rob, hingga penurunan muka tanah membuat kawasan pesisir semakin rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Di tengah kondisi tersebut, mangrove menjadi salah satu ekosistem penting yang dapat membantu memperkuat ketahanan pesisir. Selain berfungsi sebagai pelindung alami dari gelombang dan abrasi, mangrove juga menyimpan karbon serta menjadi habitat bagi beragam biota yang menopang kehidupan masyarakat pesisir.
Upaya memperkuat ekosistem tersebut kembali dilakukan Prudential Indonesia bersama CarbonEthics melalui penanaman 5.500 bibit mangrove di Pulau Harapan, Kepulauan Seribu. Kegiatan yang digelar dalam rangka Hari Mangrove Sedunia itu diproyeksikan mampu menyerap hingga 181,5 ton setara karbon dioksida (CO₂e) secara kumulatif dalam 20 tahun.
Penanaman ini sekaligus menambah rekam jejak aksi restorasi mangrove Prudential Indonesia. Sejak 2022 hingga 2026, perusahaan menyebut telah menanam 30.800 pohon mangrove di wilayah pesisir.
Pesisir Jakarta di Tengah Tekanan Iklim
Ancaman terhadap pesisir Jakarta tidak hanya datang dari laut. Penurunan muka tanah turut memperbesar risiko banjir dan rob di wilayah pesisir.
Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat rata-rata laju penurunan muka tanah Jakarta sekitar 5,71 sentimeter per tahun, dengan penurunan yang dominan terjadi di Jakarta Utara dan Jakarta Barat.
Dalam kondisi seperti ini, perlindungan dan pemulihan ekosistem pesisir menjadi semakin penting. Mangrove dapat menjadi salah satu solusi berbasis alam yang membantu meredam tekanan terhadap kawasan pesisir sekaligus memberikan manfaat ekologis dan sosial dalam jangka panjang.
Namun, kondisi mangrove Jakarta masih menghadapi sejumlah persoalan.
Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menunjukkan, dari total 608,22 hektare kawasan mangrove di Jakarta pada 2024, sekitar 36,54 hektare berada dalam kategori jarang. Pemantauan di 25 lokasi juga menemukan 9,95 persen tegakan mangrove mengalami kerusakan.
Kerusakan tersebut antara lain berkaitan dengan sampah kiriman laut, limbah domestik, gangguan fisik, serta banjir rob.
Situasi itu menunjukkan bahwa penanaman bibit mangrove merupakan bagian dari pekerjaan yang lebih panjang. Keberhasilan restorasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga oleh kemampuan memastikan bibit tumbuh, ekosistem pulih, dan masyarakat sekitar memperoleh manfaat dari keberadaannya.
Dari Menanam Pohon hingga Membangun Kesadaran
Selain penanaman di Pulau Harapan, Prudential Indonesia mengawali rangkaian aksi keberlanjutan dengan kegiatan edukasi dan seremoni penanaman di Taman Wisata Alam Angke Kapuk, Jakarta Utara.
Lebih dari 50 karyawan dan tenaga pemasar Prudential Indonesia terlibat dalam kegiatan tersebut. Peserta mendapatkan edukasi mengenai fungsi mangrove bagi ekosistem pesisir sekaligus berpartisipasi langsung dalam aksi penanaman.
Direktur Kepatuhan sekaligus Chief Risk & Compliance Officer Prudential Indonesia, Maria Rosalinda, mengatakan keterlibatan karyawan dan tenaga pemasar menjadi bagian penting dari upaya perusahaan memperkuat kepedulian terhadap lingkungan. “Sebagai perusahaan asuransi jiwa yang memberikan perlindungan jangka panjang, kami percaya bahwa keberlanjutan juga berarti menjaga lingkungan tempat masyarakat hidup dan bertumbuh,” terangnya.
Menurut Maria, penanaman mangrove menjadi ruang bagi perusahaan dan karyawannya untuk berkontribusi langsung terhadap pelestarian ekosistem pesisir. “Langkah sederhana yang dilakukan bersama dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan generasi mendatang,” ia menambahkan.
Mangrove dan Target Iklim Indonesia
Manfaat mangrove tidak berhenti pada perlindungan pesisir. Ekosistem ini juga memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon dalam biomassa maupun sedimen, sehingga pemulihannya dapat berkontribusi terhadap upaya mitigasi perubahan iklim.
Prudential Indonesia menyebut potensi penyerapan 181,5 ton CO₂e dalam 20 tahun dari 5.500 mangrove yang ditanam sejalan dengan agenda iklim Indonesia melalui Indonesia’s Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030.
Melalui agenda tersebut, pemerintah menargetkan sektor kehutanan dan penggunaan lahan mencapai emisi bersih minus 140 juta ton CO₂e pada 2030. Peningkatan kapasitas ekosistem dalam menyerap dan menyimpan karbon menjadi salah satu bagian penting dari upaya mencapai target tersebut.
Dengan demikian, rehabilitasi mangrove di tingkat lokal dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih luas: bukan hanya sebagai upaya memperbaiki bentang alam pesisir, tetapi juga sebagai bagian dari strategi menghadapi krisis iklim.
Co-Founder & Chief Executive Officer CarbonEthics, Bimo Soewadji, mengatakan manfaat mangrove baru akan semakin luas ketika restorasi dilakukan secara konsisten dan melibatkan berbagai pihak. “Upaya restorasi akan memberikan hasil yang lebih luas ketika dijalankan melalui kolaborasi berbagai pihak,” kata Bimo.
Ia mengapresiasi dukungan Prudential Indonesia terhadap pelestarian mangrove yang dilakukan secara berkelanjutan sekaligus melibatkan karyawan secara langsung.
Tantangan Setelah Bibit Ditanam
Penanaman 5.500 bibit mangrove menambah daftar aksi lingkungan Prudential Indonesia. Perusahaan menyebut telah menanam 30.800 pohon mangrove sejak 2022 hingga 2026.
Selain restorasi mangrove, perusahaan juga melaporkan sejumlah capaian lingkungan lainnya, termasuk penurunan konsumsi air operasional sebesar 67 persen di dua gedung perusahaan serta pengumpulan dan daur ulang 0,2 ton sampah dalam ajang PRUActive Family.
Meski demikian, tantangan terbesar dari setiap program restorasi bukan berhenti pada seremoni penanaman. Bibit yang ditanam perlu dipantau tingkat kelangsungan hidupnya, dirawat, dan dipastikan mampu tumbuh menjadi ekosistem mangrove yang berfungsi.
Bagi pesisir Jakarta yang menghadapi kombinasi penurunan muka tanah, perubahan iklim, abrasi, dan banjir rob, pemulihan mangrove karena itu perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang—bersama dengan penataan ruang, pengendalian pencemaran, perlindungan kawasan pesisir, serta penguatan peran masyarakat.
Pada akhirnya, 5.500 bibit mangrove hanyalah titik awal. Nilai ekologisnya akan ditentukan oleh apa yang terjadi setelah pohon-pohon tersebut ditanam: apakah mampu tumbuh, membentuk kembali ekosistem, dan menjadi benteng hidup bagi pesisir Jakarta di tengah tekanan perubahan iklim yang terus meningkat.
- Menyulam Jaring Konservasi Spesies Indonesia

- Prudential Indonesia Tambah 5.500 Mangrove, Perkuat Benteng Alami Pesisir Jakarta

- Mampukah Indonesia Jadi Penentu Standar Global Bursa Mineral?

- Era Baru Geospasial Indonesia untuk Pengawasan Pesisir

- Dikepung Api dan Asap, Tiga Orangutan Kalimantan Terpaksa Turun ke Pemukiman

- Titik Panas Terus Melonjak, Negara Membiarkan Asap Mengepung Kalimantan





