Tim Ekspedisi Kawah Purba Pangrango 2026 menemukan lebih dari 1.200 spesimen flora dan fauna yang tercakup dalam setidaknya 450 spesies, 60 genus, dan lebih dari 90 famili yang belum pernah terdokumentasikan. Temuan tersebut dikumpulkan selama ekspedisi yang berlangsung pada 10-17 Oktober 2026.
“Nah (soal kandidat spesies baru), masih menunggu hasil dari tim BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional,” kata Humas Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Agus Deni saat dihubungi Ekuatorial, Jumat, 30 Oktober 2026.
Tim ekspedisi beranggotakan 85 personel, terdiri dari staf Balai Besar TNGGP, peneliti BRIN, lembaga swadaya masyarakat, relawan kesehatan Palang Merah Indonesia, serta warga lokal di sekitar lokasi ekspedisi. Peneliti serta ilmuwan yang terlibat memiliki keberagaman fokus, masing-masing, ahli botani untuk tumbuhan berbunga dan paku-pakuan, ahli jamur, burung (aves), herpetofauna (amfibi dan reptil), serangga, dan ahli mamalia.
Kawasan taman nasional pertama yang ditetapkan di Indonesia ini sudah dijelajahi para naturalis dan ilmuwan sejak tahun 1821. Saat ini, luas kawasan konservasi itu mencakup Kabupaten Cianjur, Bogor, dan Sukabumi. Luasnya mencapai 24.270,80 hektare.
Kepala Balai Besar TNGGP, Sadtata Noor Adirahmanta mengungkapkan, temuan ekspedisi itu masih harus ditindaklanjuti untuk bioprospeksi serta strategi pengelolaan kawasan di masa yang akan datang.
Bioprospeksi adalah eksplorasi, ektraksi, dan penapisan sumber daya alam hayati untuk pemanfaatan secara komersial sumber daya genetik, spesies, dan atau biokimia serta turunannya.
Temuan ekspedisi yang jumlahnya cukup banyak itu berasal dari area ekspedisi seluas 8 kilometer persegi atau sekitar 3,3 persen dari keseluruhan TNGGP. Tim membuka pos pada ketinggian 1.100 dan 1.700 meter di atas permukaan laut (mdpl). Ilmuwan yang terlibat ber
Alex Sumadijaya, tim flora dari Pusat Riset Biosistematika (PRBE) BRIN menyatakan, data ilmiah biodiversitas, khususnya dari Kawah Purba Gunung Pangrago, relatif masih sangat sedikit bila dibandingkan data-data dari Cibodas, Situ Gunung, Bodogol, dan Selabintana.
Kegiatan ekspedisi dari tim Pteridophyta (paku-pakuan), yang dipimpin oleh Titien Ng. Praptosuwiryo, menghasilkan 83 nomor koleksi yang tercakup 25 genus dan 75 spesies, beberapa di antaranya berpotensi sebagai temuan spesies baru dan jarang (terancam punah), 25 spesies diantaranya merupakan penanda hutan primer.
Sedangkan dalam hal prospek pangan, tim jamur menjumpai beberapa jenis jamur yang bisa dimakan dan sudah diuji coba dikonsumsi pada saat ekspedisi. “Keberagaman jamur sangat tinggi. Jalur yang kami lalui dari ketinggian 900-1800 mdpl. Semua di jalur ekspedisi camp 1 dan camp 2 dan masing-masing punya keragaman jenis yang berbeda,” kata Natasya Adelia Harun, tim peneliti jamur dari BRIN seperti pada rilis yang Ekuatorial dapatkan.
Tim peneliti mamalia dari BRIN, Gresya Munda mengungkapkan, temuan 6 spesies mamalia secara langsung seperti owa jawa (Hylobates moloch), kancil (Tragulus), dan lutung jawa (Trachypithecus auratus). “Lainnya berupa perjumpaan tapak dan feses macan yang masih fresh,” kata Gresya.
Sementara tim aves melaporkan adanya perjumpaan sekitar 80 jenis burung selama empat hari pengamatan. Perjumpaan flock (kawanan burung) sampai 6–8 kali, hal ini menandakan potensi ekowisata birdwatching kawasan ini cukup tinggi. Apalagi terdapat warga lokal yang menemani tim peneliti dan sudah ahli dalam pengamatan dan identifikasi jenis burung meski masih dalam bahasa lokal.
Dari pengamatan yang dilakukan pada malam hari, tim herpetofauna berhasil mencatat 16 jenis katak/kodok dan reptil, salah satunya kodok merah (Leptophryne cruentata) yang sebarannya endemik Jawa Barat di atas ketinggian 1100 mdpl. Kodok ini termasuk IUCN Red List (terancam punah). Beberapa jenis kadal juga termasuk penemuan kembali setelah lama tidak dijumpai bahkan dugaan spesies baru juga dijumpai untuk diuji lebih lanjut.

Anggota tim serangga, Akbar Alfarisyi dari BRIN menenemukan 8 jenis kupu-kupu endemik Jawa Barat. “Kami juga menjumpai 1 jenis kunang-kunang yang hanya kami temukan di Kawah Purba dan 7 lainnya di luar Kawah Purba. Dengan demikian, kami bisa sampaikan bahwa kondisi ekosistem di sini masih sangat bagus,” kata Akbar.
Kegiatan ekspedisi ini, ungkap Sadtata, tidak semata menghimpun daftar spesies. Upaya pencatatan dan pendataan keanekaragaman hayati ini dapat menjadi landasan guna memahami kondisi ekosistem. Termasuk mengenali potensi ancaman hingga penyusunan langkah pengelolaan kawasan konservasi yang lebih tepat. Makanya ekspedisi ini juga melibatkan masyarakat lokal yang memiliki pengetahuan serta pengalaman di kawasan tersebut.
“Kawasan hutan Indonesia masih banyak yang blank spot data. Sejauh ini, Ditjen KSDAE sudah memasukkan ekspedisi dalam program prioritasnya. Saya harap ke depan, bisa menjadi kebijakan yang ditetapkan dengan kebijakan di level yang lebih tinggi,” kata Sadtata.
Ditjen KSDAE hingga saat ini sudah melaksanakan 15 ekspedisi serupa, antara lain, Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Maluku Utara. Ekspedisi Kawah Purba Gunung Pangrango ini hampir bersamaan waktunya dengan Ekspedisi Kayan Mentarang. Masih ada 4 tim ekspedisi lain yang menunggu untuk diberangkatkan.

Untuk ekspedisi yang melibatkan berbagai disiplin ilmu ini, Ditjen KSDAE mendapatkan dukungan dari BRIN, Cikananga Wildlife Center, FOKSI (Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia), Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara, Baraka Bumi, Nusantara Climate Initiative, WWF dan didukung oleh Arei Outdoor Gear, PT. Eigerindo Multi Produk Industri (EMPI), PT. Fontis Aquam Vivam (FAV), PT. Asuransi Jiwa Syariah KitaBisa, PT. Daya Mas Geopatra Pangrango (DMGP), PT. Bumi Paseban Alami (BPA), Bank Syariah Indonesia (BSI) Cipanas, PT. Super Wahana Techno, dan PT. Pertamina EP Tambun.
“Pembiayaan dilakukan cross cutting, tidak hanya satu direktorat saja yang melakukan,” kata Nurman Hakim dari Direktorat Perencanaan Konservasi Ditjen KSDAE.
- Ekspedisi Kawah Purba Pangrango Temukan Potensi Spesies Baru
![Tim melintasi sungai yang berada pada zona inti TNGGP, hulu sungai yang menjadi sumber air di sekitar kawasan. [Dok: Tim Ekspedisi Kawah Purba Pangrango 2026]](https://www.ekuatorial.com/wp-content/uploads/2026/11/Pengamatan-Herpetofauna-150x150.avif)
- Sumatera Darurat Karhutla, Orang Muda Desak Pemerintah Hentikan Warisan Asap

- Restorasi Lahan Berbasis Sains dan Penguatan Tata Kelola di Balik Kabut Asap

- Bara di Suaka Terakhir

- Di Balik Hancurnya Kejayaan Rumput Laut Tinanggea

- Pendanaan Semakin Seret, Konservasi Keanekaragaman Hayati di Ujung Tanduk

![Tim melintasi sungai yang berada pada zona inti TNGGP, hulu sungai yang menjadi sumber air di sekitar kawasan. [Dok: Tim Ekspedisi Kawah Purba Pangrango 2026]](https://www.ekuatorial.com/wp-content/uploads/2026/11/Pengamatan-Herpetofauna.avif)



