Skip to content Skip to navigation Skip to footer

Tambang Emas Skala Kecil Jadi Sumber Utama Emisi Merkuri di Indonesia

Penambangan emas skala kecil dan tradisional kembali menjadi perhatian serius dalam isu pencemaran lingkungan di Indonesia. Penelitian terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan, sektor ini merupakan penyumbang emisi merkuri terbesar di Indonesia, terutama melalui proses amalgamasi emas yang masih banyak digunakan.

Penemuan ini disampaikan oleh Perekayasa Ahli Pertama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih (PRTLTB) BRIN, Tia Agustiani, dalam kegiatan diseminasi bertajuk “Melindungi Masa Depan Kita untuk Generasi Selanjutnya – Polusi Merkuri dan Inisiatif Prefektur Kumamoto”, di Gedung 720 Kawasan Sains dan Teknologi BJ Habibie Serpong, baru-baru ini.

Tia menekankan sumber utama emisi merkuri berasal dari Penambangan Emas Skala Kecil (PESK) dan pertambangan tradisional, yang menggunakan proses amalgamasi emas sebagai sumber antropogenik terbesar.

Penelitian dilakukan dengan membandingkan beberapa titik lokasi. Di Gunung Pongkor, pengambilan sampel dilakukan di area hulu, tengah, dan hilir. Sementara di Waluran Sukabumi, penelitian mencakup area PESK serta area rujukan yang tidak memiliki aktivitas pertambangan.

“Lokasi penelitian di Gunung Pongkor ada di hulu, tengah, dan hilir sebagai area PESK, dan yang lebih banyak terjadi di area hulu. Sedangkan wilayah studi di Waluran Sukabumi terdiri dari dua area yaitu area PESK, dan area rujukan di Mekarmukti yang tidak memiliki PESK,” kata Tia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas PESK menjadi sumber utama pencemaran merkuri. Konsentrasi merkuri ditemukan pada tanah, sedimen, ikan, dan daun singkong. Temuan ini berpotensi menimbulkan risiko kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak.

“Di area hulu Gunung Pongkor, sumber paparan merkuri ditemukan pada daun singkong sebanyak 46 diikuti oleh ikan sebesar 29%. Sedangkan di Waluran sukabumi, di area PESK kontributor utama paparan merkuri berasal dari ikan sebesar 39%, diikuti oleh daun singkong sebesar 35%. Pola ini menunjukkan bahwa rantai makanan meningkatkan merupakan jalur utama paparan merkuri bagi masyarakat setempat,” jelas Tia.

Merkuri di TPA

Selain paparan dari sektor pertambangan, BRIN juga menyoroti keberadaan merkuri pada lindi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah domestik. Perekayasa Ahli pertama PRTLTB BRIN, Fuzi Suciati Sastraatmaja, memaparkan hasil penelitiannya yang dilakukan di beberapa TPA.

“Sampel diambil dari TPA Cipeucang, TPA Galuga, TPA Bantar Gebang dan TPA Rawa Kucing. Sedangkan untuk proses analisis merkuri pada sedimen menggunakan USEPA Method 7473,” ungkap Fuzi.

Penelitian ini juga menawarkan pendekatan ekonomi sirkular dengan memanfaatkan fly ash, bottom ash, dan limbah biomassa sebagai green aggregate untuk mengadsorpsi merkuri.

“Dari hasil penelitian, Merkuri ditemukan di dalam air lindi TPA sampah domestik akan tetapi konsentrasi air tidak melebihi dari baku mutu sedangkan untuk materi adsorben atau green aggregate didominasi oleh silikon, aluminium, kalsium dan besi,” ungkapnya.

Upaya Pemulihan Lahan Tercemar

Peneliti ahli muda PRTLTB BRIN, Fitri Yola Amandita, memaparkan pemulihan lahan tercemar merkuri menggunakan pendekatan teknologi yang mencakup teknik fisikokimia, serta metode ramah lingkungan seperti bioremediasi dan fitoremediasi.

“Kami melakukan penelitian bioremediasi merkuri dengan pengambilan sampel tanah di Sukabumi dan berhasil mengisolasi sekitar 27 isolat bakteri yang resisten terhadap merkuri. Dari jumlah tersebut diperoleh lima isolat bakteri yang menunjukkan tingkat resistensi tinggi, bahkan mampu bertahan pada paparan HgCl₂ dengan konsentrasi hingga 100 ppm,” terangnya.

Dalam penelitian lanjutan, Fitri memanfaatkan sekam padi yang ditambahkan dengan inokulasi bakteri pada tanaman padi untuk meminimalkan akumulasi merkuri pada bulir padi.

“Sekam padi dengan tambahan bakteri berhasil mengurangi serapan merkuri ke bulir padi. Merkuri lebih banyak terserap oleh bagian akar, sehingga meskipun merkurinya masih terdeteksi pada bulir padi. Namun kadarnya lebih rendah dibandingkan tanaman padi tanpa perlakuan sekam padi dan bakteri,” tutur Fitri.

Fitir menekankan, tantangan terbesar saat ini adalah mendorong penerapan teknologi dari skala laboratorium ke skala lapangan yang lebih aplikatif dan terjangkau. Ke depan, Fitri berharap akan terbangun kolaborasi riset yang kuat antara BRIN, industri, dan pemerintah daerah agar hasil riset dapat diimplementasikan secara nyata di lapangan 

“Saya berharap ke depan dapat terjalin kolaborasi antara lembaga riset, industri, dan pemerintah. Sehingga, hasil riset diharapkan mampu menghasilkan solusi yang murah, aplikatif, dan mudah diterapkan oleh masyarakat,” ungkap Fitri.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses