Di bawah terik matahari pertengahan Juni, sebuah transformasi diam-diam tengah berlangsung di balik dinding-dinding ruang belajar. Cahaya matahari yang biasanya hanya menjadi penanda pergantian hari, kini ditangkap, disimpan, dan diubah menjadi pijar-pijar harapan bagi generasi baru.
Melalui sebuah kolaborasi multipihak—Perkumpulan Lentera Hijau Indonesia, Program 1000 Cahaya Muhammadiyah, Kitabisa.com, Lazismu, PP Aisyiyah, serta dukungan teknis dari Universitas Gadjah Mada (UGM)—panel surya kini resmi menempati atap-atap sarana pendidikan. Bukan sekadar instalasi perangkat keras, inisiatif ini adalah ruang kelas yang hidup; sebuah kurikulum nyata tentang bagaimana merawat bumi sejak usia dini.
Menyiram Benih di Bandung dengan Tenaga Matahari
Langkah pertama dari perjalanan energi bersih ini dimulai di Aisyiyah Boarding School (ABS) Bandung pada Rabu, 10 Juni 2026. Di pesantren yang berdiri di atas lahan seluas 18.000 meter persegi ini, alam dan agama diajarkan dalam satu tarikan napas.
Hari itu, tiga unit panel surya—masing-masing berkapasitas 650 watt peak (Wp)—berhasil dipasang. Di ABS Bandung, listrik dari matahari ini memiliki misi khusus: memompa air. Aliran air tersebut kemudian membasahi lahan-lahan pertanian produktif yang dikelola langsung oleh para santri, menciptakan sebuah ekosistem pendidikan sirkular yang mandiri.
“Solar panel ini akan membantu menghidupkan alat siram otomatis untuk lahan pertanian yang kami kelola. Harapannya, ekosistem penghijauan dan energi terbarukan dapat berjalan beriringan di lingkungan pesantren,” kata Teguh Mulyadi, Wakil Mudir ABS Bandung
Pemasangan ini mempertegas identitas ABS Bandung yang selama ini memang telah mengusung konsep ramah lingkungan sebagai fondasi pembelajarannya.
Perjalanan Seratus Kilometer Menuju Sukabumi
Sehari berselang, pada 11 Juni 2026, tim ekspedisi energi bersih ini bergerak ke barat. Menempuh jarak sekitar 100 kilometer selama hampir empat jam perjalanan darat, rombongan tiba di SMP Aisyiyah Kota Sukabumi.
Berbeda dengan ABS Bandung yang telah memiliki rekam jejak panjang, sekolah ini adalah sebuah lembaran baru. Baru didirikan pada tahun 2025, SMP Aisyiyah langsung menancapkan visi sebagai Islamic Green School. Saat ini, angkatan pertamanya berisi 11 siswa perintis yang seluruhnya mengenyam pendidikan lewat jalur beasiswa penuh.
Bagi sekolah yang sedang tumbuh ini, kehadiran panel surya adalah sebuah injeksi semangat sekaligus alat peraga yang tak ternilai harganya.
“Manfaatnya sangat besar, bukan hanya sebagai sumber energi alternatif untuk kegiatan belajar mengajar dan penerangan sekolah, tetapi juga menjadi media pembelajaran bagi siswa tentang energi ramah lingkungan. Harapan kami, panel surya ini bisa menginspirasi sekolah-sekolah lain. Anak-anak perlu memahami bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama,” papar Siti Sundus Awaliyah, Kepala SMP Aisyiyah Kota Sukabumi
Membumikan Teologi Lingkungan
Di balik kerja-kerja teknis pemasangan panel surya, ada sebuah gagasan besar yang sedang diusung: Ekoteologi.
Direktur Program 1000 Cahaya Muhammadiyah yang juga menjabat sebagai Ketua Perkumpulan Lentera Hijau Indonesia, Hening Parlan, menegaskan bahwa gerakan ini adalah manifestasi dari nilai-nilai keagamaan dalam merespons krisis iklim.
“Ini bukan sekadar proyek pemasangan panel surya. Ini adalah bagian dari ikhtiar Islam Berkemajuan. Kita ingin menunjukkan bahwa amanah sebagai khalifah di bumi diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk dalam cara kita mengelola energi,” tutur Hening.
Hening memiliki pandangan yang puitis sekaligus pragmatis tentang energi surya. Ia menyebutnya sebagai “Energi Surga”—sebuah anugerah yang bersih, tanpa polusi, dan ditujukan untuk kemaslahatan umat.
Pemilihan institusi pendidikan sebagai titik mula gerakan ini bukanlah kebetulan. Pesantren dan sekolah adalah inkubator karakter. Harapannya sederhana namun kuat: saat budaya hemat energi dan kesadaran ekologis telah mengakar di benak para santri dan siswa, mereka akan membawanya pulang.
Pengetahuan itu akan diceritakan di meja makan keluarga, dipraktikkan di lingkungan rumah, dan pada akhirnya, bermutasi menjadi sebuah gerakan sosial yang masif. Transisi energi, pada hakikatnya, tidak pernah hanya berbicara tentang kabel dan voltase, melainkan tentang perubahan perilaku dan cara pandang manusia terhadap rumah satu-satunya: Bumi.
- Menyemai Energi Surya di Pesantren

- Setahun Tragedi Hutan Maba Sangaji

- Aksi Lintas Negara Menyelamatkan Tahura SSH Riau dari Degradasi

- Jerat Polusi Udara pada Jiwa dan Raga Warga Tangsel

- Ekspedisi Kolaboratif Pulihkan Terumbu Karang di Pulau Buru

- Menimbang Nuklir di Pusaran Arus Transisi Energi Indonesia



