Penyalahgunaan anggaran pakan satwa di lembaga konservasi merupakan ancaman langsung yang berisiko menggagalkan tujuan utama perlindungan keanekaragaman hayati. Konservasi ex-situ didirikan dengan semangat untuk menyelamatkan, merawat, dan membiakkan populasi satwa terancam punah demi menjaga keberlanjutan genetik serta mendukung upaya reintroduksi ke habitat alami.
Masalah besar muncul ketika anggaran pakan dipangkas, diselewengkan, hingga dikorupsi seperti yang terjadi baru-baru ini di Kebun Binatang Surabaya. Kejahatan tak bermoral ini justru akan memutus rantai nutrisi satwa dan mengerdilkan cita-cita konservasi.
Penurunan mutu dan volume pakan berakibat mendasar pada degradasi kesehatan fisik dan psikologis satwa, serta secara terang-terangan mematahkan fungsi utama lembaga konservasi sebagai benteng perlindungan spesies.
Upaya konservasi tidak dapat dipisahkan dari pemenuhan kebutuhan dasar metabolisme tubuh satwa. Saat pakan yang diberikan tidak sesuai dengan standar kebutuhan nutrisi tiap spesies, tujuan jangka panjang seperti pengembangbiakan (breeding) dan pemulihan kesehatan satwa menjadi mustahil dicapai.
“Penyalahgunaan anggaran pakan satwa bukan sekadar persoalan administrasi, melainkan persoalan moral. Satwa juga merasakan lapar, haus, dan stres. Karena itu, lembaga konservasi harus memiliki pendanaan yang cukup dan berkelanjutan agar kesejahteraan satwa tetap terjamin,” kata dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, Dr Abdul Haris Mustari.
Ketimpangan Nutrisi Mengancaman Keberlanjutan Populasi
Pakan pada lembaga konservasi bukan sekadar pemenuhan rasa lapar. Terdapat instrumen biologis yang dirancang khusus untuk mereplikasi asupan gizi satwa di alam liar.
Penyelidikan terhadap dampak penyalahgunaan anggaran pakan menunjukkan manifestasi klinis yang kompleks, mulai dari defisiensi mikro-nutrisi, gangguan organ dalam, hingga kegagalan reproduksi.
“Jika anggaran pakan bermasalah, maka kualitas maupun kuantitas makanan akan semakin menurun,” imbuh Haris.
Satwa karnivora yang kekurangan pakan daging berkualitas, akan mengalami penurunan massa otot dan penyakit tulang metabolik.
Sementara pada satwa herbivora dan frugivora yang diberi pakan murah berorientasi karbohidrat tinggi, sering kali mengalami gangguan pencernaan akut (bloat) serta penurunan sistem kekebalan tubuh.
Dampak yang paling merusak terhadap misi konservasi adalah penurunan kesuburan (fertility rate) dan kegagalan reproduksi.
Satwa betina yang mengalami malnutrisi kronis secara biologis akan menghentikan siklus reproduksinya sebagai mekanisme pertahanan tubuh.
Jika terjadi kehamilan, risiko cacat lahir, kematian bayi saat persalinan, atau ketidakmampuan induk menyusui meningkat secara signifikan.
Data pengelolaan satwa menunjukkan, biaya pemeliharaan pakan mencakup 40 hingga 60 persen dari total operasional harian lembaga konservasi.
Saat terjadi pemangkasan tidak sah pada porsi anggaran, ketidakseimbangan gizi langsung berdampak pada peningkatan angka kesakitan (morbidity) hingga 30 persen di dalam fasilitas penangkaran.
Tekanan Fisiologis Pengaruhi Perilaku Satwa di Lembaga Konservasi
Kehidupan satwa dalam fasilitas kurungan seperti kebun binatang sudah memiliki keterbatasan ruang dan ruang gerak alami. Keterbatasan tersebut seharusnya selaras dengan pemenuhan standar kesejahteraan satwa (animal welfare) yang sangat ketat, khususnya prinsip bebas dari rasa lapar dan haus serta bebas dari stres.
Namun, pengurangan kualitas pakan memperberat beban fisiologis dan memicu peningkatan level hormon kortisol yang menandakan stres berat pada satwa.
Dalam kondisi kekurangan pakan atau pakan yang tidak bervariasi, satwa kerap memperlihatkan perilaku stereotipik (stereotypic behavior), yaitu tindakan berulang yang tidak memiliki tujuan jelas, seperti berjalan bolak-balik tanpa henti (pacing), menggigit jeruji kandang, hingga melukai diri sendiri (self-mutilation).
Pada spesies sosial atau predator, kekurangan alokasi pakan menimbulkan peningkatan agresi antar-individu di dalam satu kurungan. Persaingan memperebutkan makanan yang terbatas berujung pada cedera fisik berat bahkan kanibalisme.
Satwa yang hidup dalam tekanan nutrisi jangka panjang kehilangan sifat-sifat alamiahnya. Kondisi fisik yang lemah, gangguan metabolisme, dan kebiasaan bergantung pada pakan kualitas rendah membuat peluang satwa untuk dilepasliarkan (reintroduction) ke alam bebas menjadi tertutup.
Hewan yang berhasil bertahan hidup di lembaga konservasi dengan kondisi malnutrisi tidak akan mampu bersaing, berburu, atau bertahan dari ancaman predator saat dikembalikan ke habitat aslinya.
Maka dari itu, investasi dana dan waktu yang telah dikeluarkan untuk penyelamatan awal satwa malah menjadi sia-sia.
“Satwa hasil penangkaran umumnya juga menghadapi tantangan besar apabila akan dilepasliarkan ke habitat aslinya. Ketergantungan terhadap manusia dalam memperoleh makanan membuat kemampuan beradaptasi dan bersaing dengan satwa liar menjadi rendah,” tandas Haris.
- Penyelewengan Pakan Satwa Mengerdilkan Cita-cita Konservasi

- Guru Besar ITS Kembangkan Material Ramah Lingkungan Pengurai Limbah Beracun

- Mampukah Rencana Tiga Dekade Menyelamatkan Mangrove Indonesia?

- Kebakaran di Kasepuhan Ciptamulya Hanguskan Leuit dan Puluhan Rumah

- Perhutanan Sosial Menyatu dengan Denyut Ekonomi Pesisir

- 26 Juli Harus Lebih Dari Sekadar Seremonial Hari Mangrove





