Skip to content Skip to navigation Skip to footer

Savana Nusa Tenggara Jadi Episentrum Baru Kebakaran Lahan Indonesia

Selama bertahun-tahun, memori kolektif masyarakat tentang Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Indonesia selalu tertuju pada kepulan asap pekat dari lahan gambut di Sumatera atau deforestasi di pedalaman Kalimantan. Narasi ini begitu melekat, hingga kerap membuat kita luput memandang ke arah timur Nusantara.

Namun, pada paruh pertama tahun 2026, sebuah pergeseran tren yang masif terekam dari luar angkasa: episentrum api tak lagi didominasi oleh hutan basah di barat, melainkan merambat ke wilayah savana di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Berdasarkan analisis dari MapBiomas Fire, NTT tercatat sebagai provinsi dengan total area terbakar paling luas secara keseluruhan di Indonesia sepanjang periode Januari hingga Juni 2026. Fenomena ini menjadi sebuah anomali sekaligus peringatan bahwa krisis iklim dan kebakaran lahan telah merambah bentang alam yang sering kali luput dari prioritas pemantauan utama.

Bergesernya Peta Api Nasional

Sepanjang semester pertama tahun 2026, MapBiomas Fire secara keseluruhan mencatat ada 178.232 hektare area terbakar di seluruh Indonesia. Dari hamparan tersebut, NTT menyumbang porsi tertinggi dengan luas area terbakar mencapai 26.591 hektare.

Angka kebakaran di NTT tersebut sedikit lebih tinggi dari Kalimantan Barat yang luasannya mencapai 25.629 hektare. Temuan krusial ini menunjukkan fakta bahwa pada semester pertama 2026, kebakaran hutan dan lahan tidak hanya terkonsentrasi di wilayah Sumatera dan Kalimantan yang selama ini selalu menjadi sorotan utama penanganan.

Jika kita melihat wilayah regional bagian timur secara kolektif, gabungan area Bali dan Nusa Tenggara menyumbang luasan terbakar sebesar 33.338 hektare. Jumlah ini mewakili sekitar 18,7 persen dari total area terbakar di skala nasional. Kontribusi kebakaran di wilayah tersebut bahkan angkanya mulai mendekati total sumbangan Pulau Kalimantan yang berada di kisaran 21,13 persen.

Di Balik Lensa Satelit

Satu hal yang menjadi sorotan dalam temuan tahun 2026 ini adalah adanya disparitas data pemantauan. Di saat MapBiomas Fire mencatat total 178.232 hektare luasan lahan yang terbakar, data milik Kementerian Kehutanan melalui Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) mencatat angka yang jauh lebih rendah, yakni 107.465,47 hektare pada periode yang sama.

Perbedaan angka ini terutama berkaitan erat dengan perbedaan metode pemantauan yang digunakan. Dalam mendeteksi karhutla, MapBiomas Fire mengandalkan citra satelit Sentinel-2 serta memanfaatkan model deep learning. Penggunaan satelit ini membuat sistem mampu mengidentifikasi area yang terbakar di atas berbagai jenis tutupan lahan.

Di sisi lain, kebakaran tidak hanya memakan lahan kering alami. Laporan MapBiomas Fire turut mencatat setidaknya ada 25.053 hektare lahan pasca-deforestasi di Indonesia yang terbakar di sepanjang bulan Januari hingga Juni 2026. Untuk kategori area pasca-deforestasi ini, Kalimantan Barat dan Riau menduduki posisi sebagai dua provinsi dengan luasan area terbakar yang paling besar.

Karakteristik Lanskap dan Titik Buta Ekologis

Mengapa luasan terbakar di NTT bisa menyalip lahan-lahan di Sumatera dan Kalimantan? Jawabannya terletak pada karakteristik alamnya yang unik. NTT merupakan provinsi yang memiliki banyak lanskap savana serta tutupan vegetasi non-hutan.

Melalui klasifikasi dari citra satelit, MapBiomas Fire mampu mendeteksi secara lebih jeli area yang terbakar pada banyak kelas tutupan lahan yang beragam, yang mana itu termasuk lahan pertanian non-sawah, semak, hingga hamparan savana.

Kondisi karakteristik bentang alam seperti ini pada akhirnya menuntut sebuah pendekatan pemantauan kebakaran yang tidak lagi sekadar terfokus kaku pada area berstatus kawasan hutan.

Lonjakan sebaran api di timur Indonesia ini rupanya bukan sekadar masalah soal seberapa luas hamparan lahan yang menghitam pascakebakaran. Di luar angka-angka tersebut, kebakaran di semester pertama 2026 ternyata juga turut menjalar dan menyentuh sejumlah kawasan dengan peran serta fungsi ekologis yang penting.

Membuka Mata ke Arah Timur

Rentetan data temuan di paruh pertama 2026 ini dengan gamblang menyiratkan bahwa kewaspadaan dan perhatian terhadap kasus karhutla kini harus mengarah ke dalam peta wilayah yang lebih meluas. Kita tidak bisa lagi memandang titik api semata-mata sebagai “penyakit bawaan” dari tanah gambut atau hutan hujan tropis.

Pemantauan dan mitigasi kebakaran di Indonesia sudah waktunya melibatkan pendekatan yang jauh lebih holistik—menyadari sepenuhnya bahwa hamparan rumput savana di Timur sama rentannya dan sama berharganya untuk diselamatkan.


Jurnalisme lingkungan Indonesia butuh dukungan Anda. Bantu Ekuatorial.com terus menyajikan laporan krusial tentang alam dan isu iklim.


Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses