Sepintas, hamparan lahan di Desa Medan Mas, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, tampak seperti lanskap usai pertempuran. Vegetasi di permukaan tanah menghitam pekat, menyisakan ranting-ranting kering yang meranggas bak siluet di bawah langit Agustus. Asap tipis masih setia mengepul dari beberapa sudut, menari-nari ditiup angin kemarau.
Tidak ada kobaran api raksasa yang menyala di permukaan, namun bagi warga setempat, ketiadaan lidah api bukanlah pertanda aman. Di bawah permukaan tanah gambut yang mereka injak, “monster” merah itu masih hidup, memakan apa saja secara sembunyi-sembunyi, dan siap kembali mengamuk kapan saja matahari bersinar terik.
Sejak 9 Agustus 2026, ketenangan Desa Medan Mas direnggut oleh Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Titik api pertama kali terdeteksi di Dusun Medan Deli, tepatnya di kawasan Areal Penggunaan Lain (APL). Sebelas hari berselang, tepatnya pada 20 Agustus, petaka serupa merambat ke Dusun Sungai Masjid, menggerogoti kawasan APL dan Hutan Desa (HD).
Hingga penghujung Agustus, laju api telah melahap tak kurang dari 15 hektare lahan gambut dan mineral. Lokasi yang terbakar ini bukanlah lahan sembarangan; jaraknya berdekatan dengan benteng pesisir—kawasan pelindung mangrove. Jika tidak segera dibendung, api tak hanya merusak ekosistem gambut, tetapi juga mengancam sabuk hijau pesisir tersebut.
Pertarungan Melawan Bara yang Tak Terlihat
Bagi Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Medan Mas, Rusdianto, karhutla di wilayahnya adalah sebuah ujian ketahanan fisik dan mental. Bersama Tim Satgas Pengamanan dan Perlindungan Hutan, aparat desa, serta warga setempat, hari-hari dihabiskan untuk berjibaku menaklukkan suhu ekstrem dan kepulan asap.
“Belum padam total, karena ada api yang memakan tanah atau gambut. Api bisa timbul lagi ketika panas kuat memapar lokasi tersebut,” ungkap Rusdianto dengan nada lelah namun waspada.
Karakteristik gambut membuat pemadaman tak ubahnya bermain petak umpet dengan maut. Saat disiram, api di permukaan mungkin mati dan tanah terlihat basah. Namun, bara seringkali tertinggal di kedalaman. Ia menjalar lewat lorong-lorong akar kering di bawah tanah.
Upaya keras terus dilakukan. Pihak TNI dan Kepolisian pun turun gunung, bahu-membahu dengan warga. Beberapa rekaman visual dari lokasi menunjukkan betapa upaya pembasahan (rewetting) diupayakan sekuat tenaga di atas lahan-lahan yang telah menjadi arang, demi mengunci kelembapan agar sisa material kering tidak memicu api baru.
Ironi di Tengah Bencana
Memadamkan api gambut menuntut satu syarat mutlak: air dalam jumlah masif. Namun, di saat yang sama, kemarau panjang telah memicu ironi yang mencekik warga Desa Medan Mas. Mereka dikepung api, tetapi krisis air.
Kepala Desa Medan Mas, Dharma Wira, mengamini kenyataan pahit tersebut. “Tantangan terbesar kita saat ini adalah krisis air. Bukan hanya air untuk kepentingan pemadaman di lapangan, melainkan juga air bersih untuk konsumsi dan kebutuhan harian warga,” tuturnya kepada Kolase.
Di garis depan pemadaman, ketiadaan logistik yang mumpuni semakin memperberat langkah para pejuang lingkungan ini. Rusdianto menekankan bahwa pasokan air saja tidak cukup tanpa instrumen yang memadai. Warga sangat membutuhkan mesin pompa air berkapasitas besar dan mesin jinjing portabel dengan daya sedot tinggi yang bisa bermanuver di medan rawa gambut yang sulit. Lebih dari itu, minimnya sarana transportasi untuk mengangkut peralatan berat ke titik-titik api pedalaman membuat mobilitas tim menjadi sangat terbatas.
Ancaman Kabut Asap yang Mengintai
Apa yang terjadi di Desa Medan Mas bukan sekadar krisis lokal, melainkan potongan dari teka-teki besar ancaman kabut asap di Kalimantan Barat. Berbagai kawasan kini menghadapi lonjakan titik panas, dan kepulan asap dari lahan gambut yang terbakar diam-diam terus menyumbang polusi udara yang mencekik napas wilayah sekitarnya.
Bagi masyarakat di sekitar kawasan rawan, asap tipis yang menyembul dari tanah hangus adalah sinyal alarm yang tidak boleh diabaikan. Pemerintah desa bersama masyarakat dan berbagai elemen terkait kini dihadapkan pada tugas maraton: memantau, membasahi, dan menjaga agar bara di perut bumi Medan Mas tidak kembali terbangun.
Kini, warga Desa Medan Mas menanti uluran tangan—mulai dari mesin pompa air, logistik transportasi, hingga pasokan air bersih. Sebab, di atas hamparan gambut yang menghitam itu, memadamkan api tak sekadar mematikan bara, melainkan menyelamatkan denyut kehidupan ekosistem dan napas masyarakat setempat.
- Savana Nusa Tenggara Jadi Episentrum Baru Kebakaran Lahan Indonesia

- Pertarungan Tanpa Henti Melawan Api di Lahan Gambut

- Karhutla Memaksa Tutup Pintu Pendakian di Sejumlah Taman Nasional

- Ubi Bombing untuk Atasi Karhutla, Inovasi atau Wacana?

- Asap Karhutla Tak Mengenal Batas Negara

- KLH Buru 42 Perusahaan Terduga Pembakar Hutan Kalimantan dan Sumatera





