Gagasan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menggunakan bahan
baku tak biasa—tepung ubi—tengah menjadi perbincangan hangat. Isu ini mencuat
dan menarik perhatian banyak pihak setelah dipresentasikan dalam rapat penanganan
karhutla di Posko Utama Satgas Sumatera Selatan, Palembang, pada Senin, 24 Agustus lalu.
Lantas, apakah ini benar-benar solusi masa depan atau sekadar eksperimen yang belum
teruji?
Dalam forum tersebut, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyoroti potensi racikan
berbahan dasar tepung ubi ini sebagai alternatif water bombing yang dinilai bisa lebih
efisien. Presiden Prabowo Subianto yang turut memantau perkembangan penanganan
karhutla pun sempat memberikan perhatian khusus pada inovasi yang kini populer
dengan julukan Ubi Bombing.
Bukan Sekadar Menabur Tepung
Di balik ramainya perbincangan publik, terdapat miskonsepsi yang perlu diluruskan. Klaim
bahwa Ubi Bombing hanyalah proses menaburkan tepung singkong mentah dari udara ke
titik api adalah keliru besar. Berdasarkan penelitian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional
(BRIN), bahan yang digunakan merupakan ekstrak pati singkong yang telah melalui proses
pengolahan khusus.
Pati singkong tersebut diformulasikan dengan campuran bahan kimia pendukung, seperti
ammonium polyphosphate dan agen pembasah (wetting agent). Oleh karena itu, istilah yang
lebih tepat secara saintifik adalah bahan pemadam berbasis pati. Formulasi dan metode
pencampuran ini adalah kunci utama; tanpa takaran yang presisi, bahan ini tidak akan
berfungsi, atau lebih buruk lagi, dapat membahayakan petugas di lapangan.
Menariknya, pemanfaatan bahan organik berbasis pati untuk memadamkan si jago merah
bukanlah hal yang sepenuhnya baru di dunia akademis Indonesia. Jauh sebelum “Ubi
Bombing” viral, Guru Besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr.
Bambang Hero Saharjo, telah memelopori pengujian serupa.
Bambang menguji penggunaan bahan alami berbasis tepung jagung yang diracik menjadi
gel pemadam api. “Produk ini digunakan dengan cara direndam dalam air dengan dosis
tertentu,” jelas Bambang.
Namun, ia mengingatkan tantangan teknisnya. “Harus ekstra hati-hati. Kalau campurannya terlalu kental, aliran air di dalam selang pemadam justru akan terhambat dan macet total.”
Namun, jika takarannya pas, gel berbasis pati ini menawarkan keunggulan yang tidak dimiliki air biasa. Saat disemprotkan, gel tersebut akan melapisi dan menutup pori-pori tanah gambut. Efek “segel” ini membuat bara api yang tersembunyi di bawah permukaan gambut menjadi kekurangan oksigen dan lebih sulit untuk kembali menyala.
Selain itu, campuran pati membuat massa air menjadi lebih berat, sehingga semprotan dari selang maupun udara menjadi lebih stabil dan tidak mudah tercerai-berai tertiup angin.
Meski menyambut baik rencana pengembangan pemadam berbasis pati singkong, Bambang memberikan peringatan tegas: inovasi ini tidak boleh langsung diproduksi apalagi digunakan secara massal di lapangan tanpa melalui serangkaian uji coba komprehensif.
Menurutnya, pengujian ketat sangat krusial untuk menentukan dosis yang paling presisi terhadap berbagai jenis “bahan bakar” alami di hutan, mulai dari serasah kering, dedaunan, ranting, semak belukar, hingga bongkahan kayu. Karakteristik lahan pun sangat memengaruhi kinerja bahan pemadam ini.
Efektivitas di lahan mineral tentu akan berbeda drastis dibandingkan saat diterapkan di lahan gambut yang memiliki cadangan bahan bakar di bawah tanah. Lebih jauh lagi, keberhasilan sebuah teknologi pemadam tidak hanya diukur dari seberapa cepat ia mematikan nyala api. Ada indikator lain yang tak kalah penting:
- Seberapa signifikan bahan tersebut mampu menekan laju emisi gas buang dari
kebakaran? - Apakah residu kimia dari bahan pemadam tersebut aman bagi petugas di lapangan,
flora, fauna, dan ekosistem tanah di kemudian hari?
Intinya, mematikan api di permukaan belumlah cukup jika bara di dalam tanah masih
membara, atau jika solusi yang diberikan justru melahirkan masalah lingkungan baru
akibat residu bahan kimia.
Pencegahan Lebih Penting
Di tengah euforia dan harapan terhadap inovasi teknologi pemadaman, satu hal mendasar
tidak boleh dilupakan: pencegahan. Teknologi mutakhir apa pun, baik itu bom air
berteknologi tinggi maupun “Ubi Bombing”, tidak boleh membuat kita lengah dalam upaya
mitigasi.
Khusus di ekosistem gambut, ketika api sudah menjalar ke lapisan bawah tanah, situasinya
akan menjadi sangat rumit dan nyaris mustahil untuk dipadamkan sepenuhnya hanya
dengan intervensi dari permukaan. Oleh karena itu, upaya pengendalian dan patroli tidak
boleh hanya bersifat reaktif saat musim kemarau panjang atau badai El Niño menerjang.
“Jangan pernah menunggu. Upaya pemadaman dan pencegahan kebakaran secara serius
tidak boleh hanya dilakukan saat El Niño saja,” tegas Bambang, mengingatkan pentingnya
sistem peringatan dini dan manajemen lahan yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, “Ubi Bombing” memiliki potensi besar untuk menjadi senjata tambahan dalam gudang persenjataan kita melawan karhutla. Namun, jalan menuju aplikasi praktis masih panjang. Pembuktian empiris melalui riset dan pengujian yang ketat adalah satu-satunya cara agar inovasi ini tidak sekadar berakhir sebagai wacana reaktif di musim kemarau, melainkan benar-benar menjadi solusi yang berkelanjutan.
- Ubi Bombing untuk Atasi Karhutla, Inovasi atau Wacana?

- Asap Karhutla Tak Mengenal Batas Negara

- KLH Buru 42 Perusahaan Terduga Pembakar Hutan Kalimantan dan Sumatera

- Sampurna, Orangutan yang Tercekik Asap Karhutla Ketapang

- Kala Kemarau Membakar Sukabumi dan Menguras Sumber Air

- Krisis Iklim Kian Parah, Revisi RUEN Rentan Hanya Mengulang Belenggu Fosil





