Tanah persawahan yang dulunya subur mengalirkan pasokan gizi kini berubah menjadi permukaan keras yang terbelah-belah. Gemericik air irigasi di kawasan Banten Kidul, Rendangan Kasepuhan Gelar Alam, telah berganti dengan kesunyian musim kering.
Batang-batang padi yang seharusnya mulai berisi kini menguning layu, merana di bawah terik matahari yang menyengat.
Minimnya curah hujan belakangan ini mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat di Banten Kidul. Anomali cuaca ekstrem memaksa para petani memanen padi lebih awal dari seharusnya, demi menyelamatkan sisa-sisa tanaman sebelum benar-benar mati membusuk di lahan kering.
“Kalau cuacanya terus begini, suhu udara naik dan curah hujan minim maka dapat dipastikan Masyarakat Adat akan mengalami gagal panen akibat dampak dari kekeringan ekstrem yang terjadi saat ini,” ujar Karyati kepada Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), seorang perempuan adat dari Rendangan Kasepuhan Gelar Alam, saat meninjau petak sawahnya yang mengering.
Pergeseran Musim
Bertani merupakan bagian dari tatanan hidup yang menyatu dengan membaca tanda-tanda alam, serta telah dilakukan sejak lama oleh masyarakat adat di Banten Kidul.
Kemudian krisis iklim global yang ditandai dengan peningkatan emisi gas rumah kaca datang, lalu mengacak-acak siklus hidrologi bumi. Perubahan iklim semakin sporadis, tak bisa lagi dilihat sebagai pergantian musim hujan ke kemarau yang wajar.
Akibat pergeseran musim ini, kalender pertanian adat yang selama ini diwariskan turun-temurun secara akurat semakin sulit dijadikan patokan.
Area pertanian warga umumnya berada di dua titik ekstrem yang berlawanan, yakni terpapar kekeringan berkepanjangan atau dihantam curah hujan berintensitas sangat tinggi dalam waktu singkat.
Menurut analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), akumulasi lonjakan suhu dan penguatan anomali suhu permukaan laut (seperti fenomena El Niño), memperluas wilayah kekeringan meteorologis dan memperpanjang durasi kemarau di berbagai area Jawa dan sekitarnya.
Di tingkat biologi tanaman, suhu udara yang melonjak tinggi memicu kerusakan fisiologis pada padi.
Kekeringan ekstrem menurunkan tekanan turgor sel tanaman, kemudian menghentikan proses fotosintesis secara permanen sebelum tanaman memasuki fase generatif.
Kondisi tersebut diperparah oleh ledakan populasi hama dan penyakit. Kenaikan suhu bumi mempercepat siklus reproduksi serangga pengganggu sekaligus memperluas jangkauan penyebaran patogen pertanian.
Tanaman padi yang sedang mengalami stres air menjadi target empuk serangan hama, mempercepat kerusakan vegetasi di atas tanah yang tandus.
Tergerusnya Cadangan Lumbung
Dampak kekeringan turut menghantam sendi sosial-ekonomi warga adat. Kegagalan panen memicu penurunan hasil produksi secara drastis yang berujung pada merosotnya pendapatan harian dan ketahanan pangan keluarga.
Kondisi ini menimbulkan beban finansial yang berat bagi para petani yang telah menginvestasikan sebagian besar biayanya sejak awal pengolahan lahan.
Martubi, seorang warga Masyarakat Adat Banten Kidul, menumpahkan rasa frustrasinya atas kegagalan panen yang ia alami musim ini.
“Gagal panen akibat iklim tidak hanya merugikan secara fisik, tetapi juga merusak tatanan sosial ekonomi Masyarakat Adat terutama kerugian finansial atas kehilangan modal kerja yang telah dikeluarkan,” tutur Martubi.
Lebih lanjut, Martubi memaparkan, banyak warga adat yang telah mengeluarkan biaya besar sejak awal perataan tanah, bahkan menyewa tenaga kerja tambahan untuk mengolah sawah.
Celakanya, setelah bibit ditanam, kemarau panjang justru datang menghantam.
Sistem pertanian campuran yang biasa menjadi jaring pengaman ekonomi warga ikut lumpuh. Pola tumpangsari biasanya menjadi sumber penghasilan tambahan sekaligus penopang gizi harian saat menunggu padi matang. Tetapi nasibnya sama sulit untuk panen.
“Biasanya ketika menanam padi, kami suka barengi dengan tanaman tumpeng sari lainnya. Kalau di sawah biasanya, di setiap pematangnya ditanami sayuran seperti kacang dan lain-lain. Tapi kali ini, jangankan tanaman tumpeng sari, tanaman pokok saja (padi) terancam tidak bisa dipanen karena kekeringan,” lanjut Martubi.
Meskipun Masyarakat Adat Banten Kidul memiliki tradisi menyimpan hasil panen di lumbung padi (leuit), pasokan yang ada saat ini tidak melimpah. Warga bertahan menggunakan sisa cadangan pangan dari sisa panen periode sebelumnya.
“Kalau kemarau masih terus berlanjut seperti ini, tanaman padi yang masih tumbuh pun akan ikut mati. Ini yang kami khawatirkan sebab tidak semua masyarakat adat memiliki cadangan pangan yang cukup,” kata Karyati, menegaskan kekhawatirannya.
Ketimpangan Penanganan Krisis
Di saat masyarakat adat berjuang sendirian menghadapi gagal panen, kebijakan penanganan bencana iklim dari pemerintah sering kali terfokus pada bantuan darurat jangka pendek di wilayah perkotaan atau pusat sentra beras komersial semata.
Skema jaminan gagal panen, perbaikan saluran irigasi tradisional, maupun perlindungan hukum terhadap wilayah kelola adat dari ancaman alih fungsi lahan masih minim diwujudkan secara menyeluruh.



