Bagi Nuchrowi (56), malam itu seharusnya menjadi waktu untuk melepas penat. Warga Kelurahan Kedungpane, Kecamatan Mijen, Kota Semarang ini baru saja selesai menunaikan ibadah salat Magrib pada Jumat (18/9/2026) ketika ketenangan malamnya mendadak terusik. Sang keponakan yang baru pulang bekerja membawa kabar mengejutkan: kawasan luar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang terbakar.
Kabar dari mulut ke mulut itu merambat sama cepatnya dengan informasi di dalam grup percakapan WhatsApp warga. Tanpa membuang waktu, Nuchrowi bergegas menuju lokasi. Sesampainya di sana, ia disambut oleh gulita yang kontras dengan kobaran merah menyala yang melahap semak dan gunungan sampah.
“Gede. Saya ada videonya. Saya video sendiri langsung tadi,” kenang Nuchrowi menggambarkan besarnya kobaran api yang melahap TPA lama tersebut. Niat hati ingin melaporkan kejadian tersebut, ternyata pihak Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) sudah dibanjiri panggilan masuk.
Bagi warga sekitar, kedekatan dengan TPA Lama Jatibarang adalah rutinitas yang diwarnai aroma tak sedap. Namun, ketika api berkobar, ancamannya berubah wujud. Beruntung bagi Nuchrowi dan warga permukiman sekitar, posisi rumah mereka berada di dataran yang lebih rendah dibandingkan titik api yang berada di atas bukit, sehingga asap tebal cenderung membumbung ke atas, menjauhi rumah-rumah mereka. Meski demikian, bau gosong dan sesaknya udara tetap tak bisa dihindari.
Karakter Mematikan Kebakaran Sampah
Kebakaran mulai dilaporkan sekitar pukul 19.10 WIB. Titik api bukan berada di area aktif, melainkan di zona atas—sebuah lahan bekas TPA lama yang sejatinya sudah ditutup. Meski sudah tak beroperasi, area ini masih menyimpan berton-ton tumpukan sampah lama yang kering dan rentan menjadi bahan bakar.
Kasi Penyelamatan Damkar Kota Semarang, Listiyono, yang berada di garda depan malam itu, mencatat luasan area yang terdampak sangat masif, mencapai dua hingga tiga hektare. Menghadapi api di lahan sampah bukanlah pekerjaan memadamkan api biasa. Karakteristik tumpukan sampah membuat api dengan mudah merambat dan hidup secara diam-diam di bagian dasar timbunan.
“Kalau strategi kita untuk pemadaman sampah itu enggak bisa sistem menyerang. Jadi satu titik dimatikan, baru pindah-pindah,” jelas Listiyono menerangkan teknis pemadaman di lapangan. Ia menambahkan bahwa mereka tidak bisa asal menyiram secara membabi buta. Jika titik api di bagian bawah tidak benar-benar dipadamkan, api akan dengan mudah kembali menyala.
Sebanyak 10 armada Damkar Kota Semarang dikerahkan ke lokasi malam itu, dibantu oleh pasokan air dari mobil tangki PDAM Tirta Moedal serta dukungan dari Palang Merah Indonesia (PMI). Sirene membelah malam, sementara selang-selang air saling menyambung, menyisir titik demi titik di atas lahan seluas 3 hektare yang perlahan menghitam tersebut.
Pihak Damkar juga berpacu dengan waktu untuk melokalisir api agar jangan sampai merembet menuruni bukit dan menyentuh zona aktif pembuangan sampah.
Misteri Sang Pemantik Api
Sekitar pukul 21.10 WIB, api utama pada permukaan lahan akhirnya berhasil dikendalikan. Meski begitu, kepulan asap masih keluar dari sela-sela tumpukan sampah, meninggalkan bau gosong yang menyengat. Proses pendinginan terus berlangsung hingga nyaris dini hari.
Namun, satu pertanyaan besar masih menggantung di udara malam Jatibarang: Dari mana api berasal?
Hingga proses pendinginan dilakukan, petugas dan warga belum bisa menyimpulkan penyebab pasti kebakaran. Listiyono menilai bahwa kemungkinan api sengaja dibakar amatlah kecil. Namun, ia tidak menampik kemungkinan adanya faktor kelalaian aktivitas manusia. Di sisi barat TPA lama tersebut, lahan berbatasan langsung dengan area produktif yang digunakan warga untuk bertani dan berladang.
“Sebelahnya itu lahan produktif, pertanian. Jadi kemungkinan orang ke ladang atau bagaimana kita enggak tahu,” ujar Listiyono menyoroti potensi sumber api. Faktor cuaca, material sampah yang mengering, serta hembusan angin malam mempermudah percikan kecil menjelma menjadi bencana yang menghanguskan 3 hektare lahan.
Kebakaran di TPA Lama Jatibarang ini seolah menjadi alarm peringatan tahunan di tengah musim kemarau. Di balik gunungan sampah yang tampak pasif dan mati, selalu ada bom waktu ekologis yang menanti pemantik kecil. Dan bagi warga seperti Nuchrowi, selagi gunungan sampah itu masih membentang di belakang permukiman mereka, kewaspadaan adalah satu-satunya tameng yang mereka miliki saat malam kembali menjemput.
- Bara di Balik Tumpukan Sampah TPA Lama Jatibarang

- Bahaya Laten dalam Hitamnya Air Sungai Cileungsi

- Dahaga dalam Dekapan Asap yang Diderita Masyarakat Adat di Kalimantan

- Guru Besar IPB: Data dan Sains Pegang Peranan Penting untuk Konservasi Satwa Liar
![Guru Besar Biologi Konservasi pada Fakultas MIPA, Universitas Indonesia, Jatna Supriatna memaparkan konsep pengelolaan konservasi modern pada peserta Orientasi Wartawan Konservasi Satwa Liar (Owaka) di Taman Safari Indonesia, Bogor, Sabtu, 22 Agustus 2026. [Foto: Dokumentasi Foksi]](https://www.ekuatorial.com/wp-content/uploads/2026/09/Foto_Jatna5_OWAKA-150x150.avif)
- Erupsi Gunung Berapi juga Berimbas Besar Terhadap Kehidupan Satwa Liar

- Menagih Komitmen Hulu di Tengah Tumpukan Sampah Yogyakarta





