Erupsi gunung berapi kerap mendatangkan bahaya dan ancaman keselamatan bagi kehidupan manusia, sekaligus membawa dampak serius terhadap kelangsungan hidup satwa liar serta keseimbangan ekosistem secara menyeluruh.
Semburan lahar panas, paparan abu vulkanik, hingga rusaknya ketersediaan sumber pakan dan air, menjadi pemicu utama penurunan populasi satwa, terutama di wilayah-wilayah kawasan konservasi yang terletak dekat dengan gunung api aktif.
Bencana alam yang dinamis ini menciptakan rantai gangguan ekologis yang berpotensi memutus keberlanjutan spesies rentan dan mengancam keanekaragaman hayati kawasan.
Kerusakan Fisik yang Menurunkan Populasi Satwa
Secara umum, letusan gunung berapi menimbulkan paparan fisik langsung yang sangat fatal bagi kelangsungan hidup fauna di habitatnya. Sapuan lahar panas dan material abu vulkanik bersuhu tinggi dapat secara cepat memusnahkan organisme di area lintasan erupsi.
Pakar satwa liar sekaligus dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, Dr. Abdul Haris Mustari, menjelaskan erupsi merupakan peristiwa alamiah yang tidak dapat dihindari serta memberi dampak mendasar bagi komponen ekosistem.
“Saat erupsi terjadi, banyak satwa yang mati terkena langsung lahar panas dan debu vulkanik yang menyebabkan populasi menurun signifikan,” kata Dr. Abdul Haris Mustari.
Lebih lanjut, Mustari menegaskan, ancaman tersebut tidak berhenti di sekitar area kawah saja, lahar panas dan debu vulkanik juga sanggup menjangkau kawasan-kawasan konservasi penting yang selama ini berfungsi sebagai kantong habitat alami satwa liar.
Beberapa kawasan yang berpotensi terdampak antara lain Taman Nasional Ujung Kulon, Cagar Alam Gunung Krakatau, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Taman Nasional Way Kambas, serta sejumlah kawasan hutan konservasi di Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan.
Rantai Makanan yang Terganggu
Dampak erupsi berlanjut pasca-letusan melalui gangguan rantai pakan. Endapan abu vulkanik yang tebal dapat menutupi permukaan vegetasi, seperti rumput, dedaunan, dan buah-buahan yang menjadi tumpuan utama pakan satwa herbivor.
Di saat bersamaan, sumber air penting seperti sungai, danau, rawa, serta mata air alami ikut terkena dampak pencemaran abu vulkanik, sehingga tidak dapat dikonsumsi secara aman.
Kondisi tercemarnya pakan dan air ini menciptakan tekanan ekologis bagi seluruh strata fauna, mulai dari kelompok herbivor, karnivor, omnivor, hingga komunitas serangga.
Satwa langka dan dilindungi seperti banteng, badak jawa, badak sumatera, tapir, harimau sumatera, macan tutul, owa jawa, dan lutung jawa termasuk kelompok yang dapat terdampak.
Terganggunya populasi herbivor secara langsung menciptakan dampak berantai (domino effect) terhadap keberadaan satwa karnivor.
Saat populasi satwa mangsa seperti rusa, kijang, sambar, dan babi hutan berkurang drastis akibat kekurangan pakan atau terpapar dampak erupsi, predator puncak turut kehilangan penopang hidup utamanya.
Mustari mencontohkan, punahnya populasi banteng di lokasi tersebut salah satunya dipicu oleh imbas erupsi Gunung Galunggung pada tahun 1982 yang menutupi padang rumput sebagai sumber pakan utama banteng.
Mitigasi Konflik Demi Pemulihan Ekosistem
Di tengah potensi ancaman tersebut, sebagian satwa liar memiliki respons alami untuk menyelamatkan diri dengan berpindah lokasi menuju habitat baru yang lebih aman.
Oleh sebab itu, keberadaan kawasan hutan yang tidak terdampak menjadi krusial untuk terus dipertahankan sebagai area perlindungan sementara.
Pentingnya keberadaan koridor ekologis khususnya wilayah hutan riparian (area tepi sungai) serta kawasan di sekitar sumber air, menjadi sarana utama pendukung alur pergerakan dan perpindahan satwa dari lokasi terdampak erupsi.
Meski begitu, perpindahan satwa juga membawa tantangan baru bagi lingkungan sekitar pemukiman warga.
“Masyarakat perlu waspada terhadap kemungkinan keluarnya satwa dari kawasan hutan ke pemukiman yang dapat memicu konflik manusia dan satwa liar,” papar Mustari.
Meskipun kerusakan ekosistem pasca-erupsi tergolong berat, alam memiliki mekanisme pemulihan secara bertahap.
Proses perbaikan vegetasi dimulai dengan tumbuhnya organisme perintis seperti lumut, yang kemudian disusul oleh perintisan rumput, semak belukar, hingga berkembang menjadi vegetasi hutan sekunder.
Tetapi yang perlu diingat, proses suksesi dan pemulihan lingkungan membutuhkan rentang waktu sekitar 25 hingga 30 tahun sampai kawasan ekosistem tersebut mampu kembali mendukung daya tampung komunitas satwa yang lebih beragam.



