Kemarau berkepanjangan selama tiga bulan terakhir yang melanda Kalimantan mengakibatkan krisis air bersih serta kebakaran hutan serta lahan (karhutla).
Dampak ganda dari bencana kemarau dan kabut asap tebal ini turut dirasakan langsung oleh Komunitas Masyarakat Adat Binua Sunge Samak, anggota Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) di Kalimantan Barat.
Kondisi kekeringan dan kabut asap di wilayah Kalimantan Barat hingga September 2026 masih dalam perhatian serius.
Berdasarkan pemantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebaran ribuan titik panas (hotspot) di sejumlah kabupaten di Kalimantan Barat, seperti Ketapang, Kayong Utara, dan Kubu Raya, yang memicu kepulan asap pekat dan membatasi jarak pandang.
Sementara itu, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas area karhutla di Kalimantan Barat telah mencapai puluhan ribu hektare.
Di tengah situasi lingkungan yang memburuk, Masyarakat Adat Binua Sunge Samak menghadapi gangguan serius terhadap pemenuhan kebutuhan dasar dan mata pencaharian harian untuk bertahan hidup.
Krisis Air Berkepanjangan
Krisis air bersih berkepanjangan di wilayah adat Binua Sunge Samak, menggerakkan pengurus AMAN Kalimantan Barat untuk menyalurkan bantuan darurat berupa air bersih, alat penyemprot (sprayer), dan masker.
Bantuan air bersih tersebut diprioritaskan dan disalurkan ke dua lokasi utama, yaitu Kampung Tapah dan Kampung Sangku. Kedua titik ini dipilih menjadi pusat pembagian karena mengalami keterbatasan sumber air bersih yang sangat serius.
Guna memenuhi kebutuhan pasokan air bersih yang memadai bagi warga, pengurus AMAN Kalimantan Barat harus mengambil air dari luar wilayah Kabupaten Kubu Raya, yakni di kawasan perbatasan antara Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Sanggau.
”Kawasan tersebut masih memiliki cadangan air bersih yang dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan Masyarakat Adat terdampak,” kata Ketua AMAN Kalimantan Barat, Tono.
Selain pasokan air bersih, AMAN Kalimantan Barat juga membagikan masker jenis KN95 dan KF94 kepada warga.
Pembagian masker juga menjadi krusial, mengingat di wilayah adat Binua Sunge Samak Simpang Sakayuk terdapat sejumlah titik kebakaran lahan gambut yang memicu kabut asap cukup tebal.
Salah seorang pemuda adat Binua Sunge Samak, Alexius, mengatakan penyaluran bantuan air bersih dari AMAN dapat membantu kehidupan masyarakat setempat.
“Tanpa air bersih, keberlangsungan hidup Masyarakat Adat dapat terganggu, terutama untuk memasak, minum, dan mencuci,” katanya.
Sulit Memenuhi Kebutuhan Dasar
Dampak kemarau dan karhutla tidak hanya menyulitkan pemenuhan kebutuhan dasar domestik, tetapi juga memukul sektor perekonomian dan lingkungan hidup Masyarakat Adat Binua Sunge Samak.
Tokoh Masyarakat Adat Binua Sunge Samak, Petrus Muntai, menegaskan ketersediaan sumber air bersih merupakan hal yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan hidup komunitas mereka.
Petrus menjelaskan, krisis air bersih yang dipicu oleh musim kemarau panjang telah mengganggu sumber pendapatan utama warga. Banyak masyarakat adat setempat yang menggantungkan hidup sehari-hari dari aktivitas menangkap ikan di sungai.
Akibat kekeringan, aliran sungai sekarang sudah mulai mengering sehingga mata pencaharian warga menjadi terhenti.
Situasi kian mendesak karena kobaran api karhutla dilaporkan telah merambat ke wilayah sungai Ambawang. Selain itu, perambatan api juga telah mencapai lahan perkebunan, area peternakan, hingga lingkungan pemukiman sekitar rumah warga adat.
”Kondisi ini menjadi peringatan bagi semua pihak mengenai pentingnya penanganan kebakaran hutan dan lahan, khususnya di wilayah adat Binua Sunge Samak,” tandasnya.
Kebutuhan Ekonomi serta Melindungi Wilayah
Menghadapi kompleksitas masalah lingkungan ini, penanganan karhutla dinilai tidak cukup hanya bertumpu pada upaya pemadaman api semata.
Petrus menambahkan, langkah penanganan yang menyeluruh harus mencakup perlindungan terhadap sumber-sumber air bersih, jaminan keselamatan warga, serta keberlanjutan hidup masyarakat adat.
Ketika kondisi masyarakat terpuruk akibat kombinasi kabut asap dan kekeringan, perhatian terhadap pemulihan ekonomi warga terdampak karhutla menjadi prioritas yang mendesak.
Petrus menekankan perlunya keterlibatan para pemangku kepentingan, termasuk Pemerintah Daerah, dalam memulihkan kondisi ekonomi kawasan tersebut.
”Dukungan terhadap pemulihan mata pencaharian, perlindungan sumber daya alam, dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat sangat penting agar komunitas adat dapat kembali menjalankan kehidupannya secara aman, mandiri, dan berkelanjutan,” tutupnya.




