Skip to content Skip to navigation Skip to footer

Bara di Balik Gunungan Sampah TPA Cikundul Kota Sukabumi

Langit di atas Kampung Saluyu, Kelurahan Situmekar, mulai menggelap pada Sabtu malam (26/9/2026), ketika asap tebal dan pekat membumbung tinggi dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cikundul, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi.

Dari kejauhan, pendar merah menyala di antara tumpukan sampah yang menggunung. Bagi warga setempat, pemandangan ini bukan sekadar insiden biasa, melainkan sebuah teror berulang yang membangkitkan trauma.

“Api sudah terlihat dari siang tadi, makin malam makin membesar apinya,” ujar seorang warga setempat, suaranya menyiratkan kecemasan. Ia teringat kejadian pada tahun-tahun sebelumnya ketika TPA Cikundul terbakar.

Pengendalian api tidak pernah mudah; butuh waktu berhari-hari karena titik api tidak hanya berkobar di permukaan, melainkan merayap masuk ke lapisan terdalam gunungan sampah. “Semoga ini bisa dipadamkan cepat. Kalau kejadian-kejadian sebelumnya, susah madamin api kebakaran TPA.”

Laporan resmi yang diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi sekitar pukul 19.15 WIB mengonfirmasi ketakutan warga. Kalak BPBD Kota Sukabumi, Yoseph Sabaruddin, seperti dilansir SukabumiUpdate, menyatakan bahwa sekitar 500 meter persegi area yang terdiri dari material sampah, vegetasi, dan lahan kering telah dilalap si jago merah.

Dugaan sementara mengarah pada kelalaian manusia. Seseorang disinyalir membakar sampah dan meninggalkannya tanpa memastikan api benar-benar padam. Di tengah musim kemarau dengan kondisi material yang kering kerontang, sisa bara dengan cepat merambat, diperburuk oleh tiupan angin.

Sehari sebelumnya, pada Jumat (25/9), kebakaran juga telah menghanguskan sekitar 3,8 hektare lahan kosong dan perkebunan warga di Kampung Pasir Babi yang lokasinya tak jauh dari sana. Rangkaian peristiwa ini seolah menjadi bom waktu ekologis di kawasan tersebut.

Jeda yang Menipu dan Ancaman Metana

Menjelang tengah malam, tepatnya pukul 23.40 WIB, setelah perjuangan panjang, api akhirnya berhasil dipadamkan. Petugas melakukan pendinginan. Kelegaan sempat mampir. Pada Minggu pagi (27/9), pukul 05.40 WIB, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi bahkan sempat mengirim pesan singkat kepada Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana, melaporkan bahwa kondisi sudah “aman terkendali”.

Namun, TPA adalah ekosistem buatan manusia yang menyimpan bahayanya sendiri. Di bawah timbunan sampah yang basah dan membusuk, terperangkap gas metana—senyawa yang sangat mudah terbakar dan kerap memicu bara ketika terpapar panas ekstrem pasca-kebakaran.

Jeda damai itu rupanya hanya tipuan. Pukul 09.40 WIB, sejumlah titik api kecil kembali terdeteksi di area dekat peternakan, yang merupakan lahan TPA nonaktif. Satu unit alat berat bergegas dikerahkan untuk menguruk dan memadamkan api.

Kondisi memburuk dengan cepat. Menjelang pukul 11.00 WIB, kepanikan baru meletus. Kali ini, api tidak muncul di lahan nonaktif, melainkan meloncat ke zona aktif TPA—tempat harian di mana dump truck menurunkan muatan sampah kota. Tiga titik api teridentifikasi membakar bagian depan, tengah, dan pojok area bongkar muat.

“Cukup jauh jaraknya dari lahan nonaktif yang semalam terbakar. Sementara ini ada di lahan TPA yang aktif,” lapor Bobby Maulana saat turun langsung ke lapangan bersama Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki. Penyebab munculnya api di tiga titik terpisah ini masih menjadi misteri, memunculkan spekulasi apakah bara terbawa angin atau dipicu oleh letupan gas metana dari bawah.

Antrean Truk dan Pertolongan Hujan

Dampak langsung dari terbakarnya zona aktif ini segera melumpuhkan sistem sirkulasi kebersihan kota. Pada Minggu siang, sedikitnya empat dump truck tertahan, berbaris rapi mengantre di luar gerbang TPA Cikundul. Mereka dilarang masuk karena area pembongkaran tertutup kepungan asap dan manuver alat berat yang sedang berjibaku memutus jalur api agar tak meluas. Pemerintah kota harus meminta maaf atas terganggunya rantai pengangkutan sampah ke rumah-rumah warga.

Di tengah situasi yang semakin kritis, alam akhirnya memberikan intervensinya. Sekitar pukul 15.00 WIB, hujan mengguyur Kota Sukabumi. Titik-titik air itu menjadi penyelamat yang sangat dinantikan, membantu petugas mendinginkan suhu ekstrem dan memadamkan sisa-sisa bara, meski proses penggalian dan penyiraman tetap harus dilanjutkan hingga sore hari.

Insiden TPA Cikundul ini memberikan peringatan keras. Manajemen sampah yang mengandalkan penumpukan open dumping di era anomali cuaca selalu menyimpan risiko besar. Api mungkin bisa padam oleh hujan, namun tanpa mitigasi dan perbaikan sistem yang mendasar, gas metana dan kelalaian kecil akan selalu siap menyalakan bara di kemudian hari.


Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses