Selama bertahun-tahun, lanskap Kecamatan Pomalaa di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, bernapas melalui ritme yang sederhana namun abadi. Harmoni antara lautan yang kaya, aliran sungai yang menghidupi, dan petak-petak sawah yang menguning di musim panen. Namun, pemandangan itu kini tengah berada di ambang transformasi besar.
Deru mesin dan debu tanah yang tersibak perlahan menggantikan keheningan alamnya, seiring berdirinya PT Indonesia Pomalaa Industry Park (IPIP). Kawasan yang dulunya merupakan ruang hidup tradisional masyarakat kini tengah bersalin rupa menjadi industrial park raksasa—sebuah Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diproyeksikan menjadi pusat industri baterai litium berstandar global.
Transisi lanskap dan ruang hidup ini memantik perenungan mendalam dalam forum “Refleksi Praktik Industri di Kabupaten Kolaka” yang digagas oleh Satya Bumi bersama Puspaham Sultra di Claro Hotel Kendari, Selasa (29/9/2026). Di ruangan tersebut, realita menyusutnya ruang ekologis masyarakat dibedah, berhadapan langsung dengan janji manis kemajuan industri.
Menghadapi sorotan tersebut, pihak IPIP tidak menampik adanya alih fungsi ruang hidup masyarakat yang masif akibat kehadiran perusahaan. Namun, mereka menegaskan bahwa perusahaan tidak menutup mata.
Abdul Galib, Supervisor Environmental, Social, and Governance (ESG) IPIP, yang hadir siang itu, menjabarkan sederet upaya pertanggungjawaban perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai bentuk kompensasi atas perubahan ekologis yang terjadi.
Salah satu urat nadi ekologis yang paling terdampak di Pomalaa adalah Sungai Oko-oko. Ketika curah hujan meninggi, sungai ini kerap meluap dan mengancam ruang-ruang pertanian warga.
“Sebagai respons cepat untuk penanganan pascabanjir, saat ini IPIP sedang membangun tanggul di empat titik area persawahan Desa Lamendai. Ini bertujuan untuk mengurangi luapan air ke lahan pertanian masyarakat,” ungkap Galib di sela-sela forum.
Bagi perusahaan, Sungai Oko-oko membutuhkan penanganan ekstra. Galib memaparkan bahwa IPIP telah mengambil inisiatif untuk menanggung 41 persen beban penanganan sungai yang sesungguhnya menjadi tanggung jawab kolektif delapan perusahaan di wilayah tersebut. Sayangnya, inisiatif mitigasi bencana ini masih tertahan.
“Saat ini proyek belum berlanjut karena perusahaan lain belum menyetujui rencana yang diajukan DPRD Kabupaten Kolaka,” tambahnya dengan nada getir.

Mengendalikan Debu, Mengganti Ruang yang Hilang
Kehadiran industri berat tidak pernah lepas dari bayang-bayang polusi. Untuk meredam dampak debu dari aktivitas konstruksi dan operasional harian, IPIP mengerahkan armada besar: 17 kendaraan penyiram air dan 7 unit kendaraan penyapu jalan. Kendaraan-kendaraan ini membasahi jalanan kawasan industri setiap harinya. Perusahaan juga mengklaim bahwa kualitas udara di sekitar kawasan terus dipantau secara rutin setiap enam bulan dan, hingga saat ini, masih memenuhi baku mutu lingkungan.
Lebih jauh, intervensi perusahaan juga menyentuh infrastruktur dan sendi ekonomi agraris yang tersisa. Galib menguraikan bahwa mereka telah memperbaiki saluran irigasi sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer dan membangun akses jalan di sekitar kawasan. Ada pula pemberian bantuan traktor bagi petani lokal.
Ketika lahan warga harus menyusut demi berdirinya pabrik, kompensasi ekonomi menjadi jalan keluar yang ditempuh. Perusahaan tercatat telah menggelontorkan santunan senilai Rp618,4 juta untuk 291,41 hektare area sawah yang terdampak, ditambah dengan distribusi bantuan sembako dan sapi kurban untuk delapan desa di sekitar ring kawasan.
Di sektor tenaga kerja, sebuah nota komitmen telah ditandatangani antara IPIP dan Pemerintah Kabupaten Kolaka, mengikat perusahaan untuk menyerap 70 persen tenaga kerja dari warga lokal—sebuah harapan agar masyarakat tidak sekadar menjadi penonton di tanah mereka sendiri.
Sebagai langkah pelipur lara ekologis, IPIP juga mencoba menghijaukan kembali area yang tergerus melalui penanaman 100 pohon endemik di Kebun Raya Kolaka pada Mei 2026 lalu. Upaya ini dibarengi dengan penanaman mangrove, aksi bersih-bersih pantai, hingga donasi peralatan pengolahan sampah kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kolaka.
Kini, Pomalaa berdiri di persimpangan sejarah. Di satu sisi, ia memikul beban sebagai salah satu rahim transisi energi hijau dunia melalui nikel dan baterai litium. Di sisi lain, ada masyarakat lokal dan alam yang tengah berjuang beradaptasi. Upaya-upaya mitigasi dari perusahaan seperti IPIP diharapkan bukan sekadar pemadam kebakaran sesaat, melainkan komitmen jangka panjang untuk memastikan bahwa ruang hidup masyarakat Pomalaa tidak benar-benar tenggelam di bawah bayang-bayang cerobong industri.
- Ancaman Baru di Teluk Buli demi Ambisi Kendaraan Listrik Global

- Menjaga Denyut Ruang Hidup di Tengah Kepungan Raksasa Industri Nikel

- Megaproyek Nikel Meredupkan Nadi Kehidupan di Jantung Kolaka

- Meredupnya Kemandirian Perempuan di Balik Debu Bauksit Kalimantan Barat

- Megaproyek Pangan dan Tangis Tanah Merauke

- Perempuan dan Adat: Benteng Lamun di Tengah Tekanan Pesisir





