Bagaimana persiapan Indonesia menuju COP30 di Brazil?
Delegasi Indonesia pada CO30 di Brazil mempersiapkan kertas posisi nasional yang mencakup 20 kelompok kerja tematik dan diklastering jadi 13 agenda negosiasi utama.
Use arrow keys to navigate menu items
Arsip penulis
Bethriq Kindy Arrazy merupakan jurnalis lepas yang berbasis di Bogor. Sesekali nulis esai dan kolom di sejumlah media nasional. Sederet karya jurnalistiknya pernah dimuat di Majalah TEMPO, Warta Ekonomi dan apahabar.com. Di waktu senggangnya selain menulis untuk Ekuatorial.com, juga turut mengelola apakabar.co.id. Saat ini aktif berhimpun di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta dan berserikat di Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI) Jabodetabek.
Delegasi Indonesia pada CO30 di Brazil mempersiapkan kertas posisi nasional yang mencakup 20 kelompok kerja tematik dan diklastering jadi 13 agenda negosiasi utama.
Kebijakan dekarbonisasi mengalami sejumlah tantangan bahwa Indonesia terlena dan ketergantungan dengan sumber daya alam ekstraktif
Minimnya informasi dan sosialisasi ditengarai menjadi penyebab masih maraknya galon lanjut usia alias ganula digunakan oleh masyarakat.
Laporan Auriga Nusantara menunjukkan deforestasi di Indonesia meningkat pada tahun 2024, mencapai 261.575 hektar.
Ekspansi pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) tak terbendung. Penolakan di sejumlah daerah semakin meluas.
Sebagai negara kepulauan, dampak perubahan iklim di Indonesia dikhawatirkan lebih besar dibandingkan Australia yang terdampak cuaca terpanas.
Sistem politik di Indonesia berbiaya tinggi. Politisi yang kemudian terpilih menjadi pejabat akan menggantinya dengan konsesi lahan.
Transisi energi erat kaitannya dengan krisis iklim yang terjadi saat ini. Isu ini mesti didekati dengan kritis .