Ekuatorial

Environmental News Syndication

Kopi Organik: Menggenjot Pasar atau Memperbaiki Lingkungan?

Erwin, salah satu petani kopi Kampung Palintang, Desa Panjalu, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, saat melihat kondisi kebun kopinya. Sumber: Mega Dwi Anggraeni  

Februari 06, 2020

Oleh Mega Dwi Anggraeni

Sudut bibir Sapri terangkat merangkai senyum, ketika melihat air mulai jatuh dari langit. Kepada saya, warga Kampung Adat Baduy Dalam itu mengaku senang melihat hujan. Dengan begitu, padinya di huma atau ladang, bisa mendapat air secara alami dan akan tumbuh sampai panen datang. 

Bagi warga Baduy, menanam dan memanen padi adalah bentuk ibadah sesuai kepercayaan Sunda Wiwitan yang mereka anut. Biasanya, menanam dilakukan pada awal musim penghujan atau bulan Oktober dan dipanen di bulan Maret. Tapi belakangan, musim menjadi tidak menentu. Kadang kemarau berlangsung terlalu lama, sehingga padi terlambat tumbuh.  Padahal, Sapri masih mempertahankan pengolahan ladang secara alami seperti yang sudah dilakukan nenek moyangnya secara turun temurun.

Salah satu tradisi bercocok tanam secara alami ini adalah “ngaleuweungkeun” yang berarti menghutankan kembali. Proses tersebut dilakukan selama lima sampai tujuh tahun dengan tujuan mengembalikan unsur hara pada tanah. Sambil menunggu, mereka bercocok tanam di lahan baru.

Selain itu, mereka juga menggunakan pupuk alami dengan bahan dasar cuka aren. Orang Baduy biasa menyimpan air nira aren dalam tabung bambu untuk diminum. Namun, jika disimpan terlalu lama, nira akan berubah menjadi cuka. Untuk mengubahnya menjadi pupuk, mereka biasa mencampur cuka dengan daun mengkudu atau kulit jeruk yang sudah dihaluskan. 

“Selain berfungsi sebagai pupuk, larutan itu juga untuk menangkal hama,” ucapnya.

Sapri, salah satu suku Baduy Dalam berjalan keluar untuk berladang. Sumber: Mega Dwi Anggraeni.

 

Peningkatan suhu bumi

Warga Kampung Adat Baduy hanya segelintir penduduk bumi yang sudah merasakan dampak  menghangatnya suhu bumi.  Perubahan iklim yang menurut penelitian panjang Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, sudah diketahui terjadi sejak tahun 1880 ini juga mempengaruhi hasil pertanian dan perkebunan lainnya diseluruh dunia.

Para ilmuwan NASA yang tergabung di Goddard Institute for Space Studies (GISS) juga mencatat, suhu global di bumi terus meningkat sekitar 0.8° celcius sejak 1880. Dengan laju pemanasan kira-kira 0.15° hingga 0.20° celcius per dekade.

Sementara Lembaga Pemerintah Amerika Serikat lainnya, The National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), mencatat, angka kenaikan suhu global mencapai 1.2° celsius lebih tinggi daripada rata-rata suhu bumi sepanjang abad ke-20.

Menurut lembaga yang mengamati kondisi laut dan atmosfer ini, perubahan iklim akan berdampak pada sumber air dan pangan karena kekeringan dan musim yang tidak menentu. Selain itu, gelombang panas di daratan Eropa dan Amerika semakin sering terjadi. 

Indonesia tidak terkecualikan dari perubahan iklim, dengan kenaikan suhu di tertera jelas dalam peta Anomali Suhu Udara Terhadap Normal pada laman resmi BMKG. Dalam keterangannya, BMKG mencatat 2016 sebagai tahun terpanas secara global. Bulan Maret di tahun itu juga sudah dinyatakan sebagai bulan terpanas selama 137 tahun terakhir ini.

Anomali suhu udara di tahun 2018 terhadap normal. Sumber: Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika.

 

Data tersebut merupakan hasil observasi dari setiap stasiun BMKG di semua provinsi. Kemudian dirata-ratakan sebagai nilai anomali suhu provinsi masing-masing, bila diperbandingkan dengan periode normal pada rentang waktu 1981 hingga 2010, maka tahun 2016 muncul sebagai tahun terpanas. Tahun terpanas kedua terjadi pada 2019, sementara tahun terpanas ketiga terjadi pada 2015.

 

Bergantung pada alam

Dampak perubahan iklim ini juga dirasakan para pekebun kopi. Paling tidak itu yang diakui oleh Erwin, seorang  petani kopi dari Kampung Palintang, Desa Panjalu di Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. Erwin merupakan salah satu dari banyak petani kopi yang mengalami gagal panen massal pada tahun 2017 lalu.

Akibat cuaca ekstrem di tahun 2016, ribuan bakal buah kopinya berguguran diterjang hujan deras berhari-hari. Hasilnya, alih alih mendapatkan satu ton buah kopi merah dari 1.400 batang pohon kopinya  seperti biasanya, Erwin hanya mendapatkan  80 kilogram saja.

Seperti ratusan petani kopi di Jawa Barat, Erwin memilih merawat kebunnya secara sederhana. Sejak mulai menggarap kebun kopinya pada 2014 lalu, dia hanya memanfaatkan pupuk kandang dari peternakan kerabat dan saudaranya. 

“Sisanya hanya menggantungkan harapan pada kebaikan alam,” imbuhnya. 

Menurut Erwin, alam juga yang membuat hasil panennya tidak pernah stabil setiap tahun. Meski begitu, dia tidak berniat mengubah pola perawatannya, demi meningkatkan dan menstabilkan hasil kebunnya. Erwin mengaku, tidak mampu jika harus menghabiskan sebagian besar waktunya di kebun. Selain bertani dia juga membuka jasa roasting untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sampai saat ini Erwin juga sudah memiliki pasar sendiri, meski tidak dalam jumlah besar.

Berdasarkan data yang dikeluarkan BPS Provinsi Jawa Barat pada 2018 lalu, luas lahan perkebunan kopi rakyat mencapai lebih dari 33 ribu hektar, tersebar di 18 kabupaten dan sembilan kota. Dengan total jumlah produksi  mencapai sekitar 17 ribu ton. Tetapi, jika menilik laman resmi Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, jumlah tersebut belum mencapai target yang diharapkan.

Program pertanian organik

Pada 2017 lalu, Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) menyebutkan hingga 10 tahun mendatang, produksi kopi di Indonesia ditargetkan mencapai 900 ribu ton hingga 1,2 juta ton per tahun. Hal tersebut sejalan dengan meningkatnya permintaan pasar nasional maupun internasional.

Untuk mendukung kondisi tersebut, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI mencanangkan Program ‘Pengembangan 1.000 Desa Pertanian Organik’ pada tahun 2015 lalu. Salah satu target dari program tersebut adalah mengorganikan tanaman perkebunan kopi di beberapa provinsi, termasuk Jawa Barat. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan mutu kopi, memperbaiki lahan kritis, serta meningkatkan kesejahteraan petani.

Koordinator Fungsional Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dan Pendamping Desa Organik, UPTD-Balai Perlindungan Perkebunan, Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Maria Wulan Purwiji Putri mengatakan, ada delapan kelompok tani dari delapan desa di enam kabupaten yang tercatat sebagai peserta program.

Selama empat tahun sejak 2016 lalu, para peserta mendapatkan berbagai pelatihan. Mulai dari bagaiman menyiapkan dokumen sistimutu hingga pendampingan untuk sertifikasi organik. Menurut Wulan, hasil dari pelatihan itu sudah berbuah manis. Dia bahkan mengklaim pohon kopi dari desa organik bisa lebih tahan terhadap perubahan iklim. Apalagi buah yang dihasilkan pun sehat, jumlahnya lebih banyak, dan juga bertambah setiap tahun.

Data jumlah kopi dari delapan peserta program Desa Pertanian Organik sepanjang 2019. Sumber: Balai Perlindungan Perkebunan, Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat.

 

Berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, di tahun 2019 jumlah produksi kopi organik dari delapan kabupaten di Jawa Barat mencapai angka lebih dari 47 ton, meningkat berlipat ganda dari tahun 2017.  Wulan memprediksi jumlah tersebut bahkan akan meningkat lagi di tahun berikutnya, lantaran, para peserta berencana memperluas perawatan secara organik. Apalagi, lanjutnya, pemerintah juga berencana menambah jumlah peserta program di tahun 2020.

“Sekarang satu pohon sudah bisa menghasilkan 5 kg kopi, lho. Karena kita sudah membuat ekosistemnya stabil,” terang Wulan.

Dengan adanya peningkatan jumlah, ditambah sertifikasi organik SNI dan EU dari Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) PT I-skol Agridaya Internasional, Wulan melanjutkan, pembeli pun mulai berdatangan. Terutama dari pasar Eropa dan Asia, salah satunya Korea. Tahun 2019, pembeli dari negeri Ginseng itu memborong tiga ton kopi Gunung Halu dari salah satu peserta di Kabupaten Bandung Barat, yaitu Kelompok Tani KSM Preanger Specialty. Hanya saja, belum semuanya kopi organik karena masih terbatasnya lahan.

Salah satu syarat yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan untuk pengembangan desa organik berbasis komoditas perkebunan tersebut adalah, peserta harus memiliki hamparan pohon kopi di lahan seluas 15 hektar. Namun, sebagai langkah awal pengembangan dilakukan di lahan seluas dua hektar atau sekitar 2.000 pohon kopi.

“Kelompok tani ini juga sudah mendapat pesanan 10 ton kopi organik untuk dikirim ke Eropa tahun 2020. Jadi untuk sementara tidak bisa memenuhi pasar lokal,” kata Wulan.

Penggunaan pupuk alami

Jauh hari sebelum adanya Program ‘Pengembangan 1.000 Desa Organik’, salah satu petani mandiri dari Desa Sukajaya, Lembang, Yoseph Kusniyanto, sudah berupaya menjaga kestabilan lingkungan di Jayagiri, Komando, dan Sukajaya, ketiga kebun kopi garapannya. Dia menggunakan pupuk cair hasil fermentasi kotoran sapi, serta darah ayam untuk merawat sekitar 20 ribu pohon kopinya di lahan seluas 30 hektar.

Pupuk cair tersebut merupakan merupakan hasil eksperimen dari beberapa teman lelaki yang kerap dipanggil Abah Yoseph ini. Selanjutnya, dia hanya memperbanyaknya di rumah. Menurutnya, pupuk tersebut cukup efektif untuk membuat pohon kopinya hidup sehat, meski ditanam di tanah dengan kandungan sulfur tinggi. Ketiga area kebun kopi Yoseph, terletak di ketinggan 1.200 mdpl hingga 1.700 mdpl, cukup dekat dengan Kawasan Gunung Tangkuban Parahu.

Ada lebih dari lima drum plastik di kebun rumahnya. Satu drum digunakan untuk memfermentasi kotoran sapi. Sementara drum lainnya berisi hasil fermentasi dengan campuran beberapa tumbuhan dan rempah, sesuai kebutuhan. 

Untuk pengisian buah pohon kopi yang membutuhkan pupuk berkalium tinggi, Yoseph menggunakan fermentasi dicampur dengan potongan batang pohon pisang. Sementara untuk menambahkan asupan fosfor bagi pohon kopinya, dia memanfaatkan campuran darah ayam dengan kotoran dari usus ayam. Menurutnya, selain memiliki kandungan fosfor tinggi, larutan itu juga memiliki microba pengurai yang baik. 

Selain untuk merawat pohon kopinya, cairan itu juga kerap dia siramkan di hutan tempat pohon kopinya tumbuh, serta di lingkungan tempat tinggalnya.

“Keseimbangan itu harus kita jaga baik-baik karena kita selalu mengambil massa yang banyak dari hutan,” katanya.

Yoseph, memeriksa larutan pupuk fermentasinya. Sumber: Mega Dwi Anggaeni.

 

Yoseph sudah memulai usahanya sejak belajar jadi petani kopi pada 2006 silam. Dia mendapat beberapa bibit kopi dan menanamnya di depan rumah. Dari beberapa varietas, ia hanya mengembangkan Typica yang tahan tahan terhadap karat daun, tetapi tidak tahan nematoda atau cacing kecil yang bisa merusak fisik tanaman kopi. Dan Caturra, varietas yang tidak tahan karat daun tetapi tahan nematoda.

Meski merawat kebunnya tanpa zat kimia, Yoseph tidak pernah mengakui pola perawatannya merupakan organik. Baginya, organik hanya istilah yang digunakan untuk menaikkan harga di pasar. Namun, pola perawatannya itu sudah menarik sejumlah pembeli dari berbagai negara, seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Abu Dhabi. Ada juga pembeli  dari Bandung, Jakarta, Jogjakarta, dan Surabaya.

Yoseph mengaku belum mau mengambil risiko meningkatkan pemasarannya, khawatir, tidak bisa menjaga kualitas kopinya jika pembeli bertambah. Apalagi, sampai sekarang hanya 10 orang yang membantunya merawat kebun, memproses kopi, hingga memilah kopi sebelum dilempar ke pasar.

“Untuk memenuhi permintaan mereka pun saya sudah kewalahan,” akunya. 

Haru Prianka, Co-Founder Satu Pintu Coffee, di Bandung merupakan salah satu pelanggan Yoseph. Sejak satu tahun lalu, dia menjadikan Typica dan Caturra Lembang sebagai prodak tetap di coffeeshopnya. Haru mengatakan, masing-masing memiliki penggemar sendiri. Tapi, Caturra yang paling cepat habis karena jumlahnya terbatas. 

“Biasanya Caturra selalu ada setelah panen. Tapi dalam sebulan bisa habis, kami juga tidak punya stock,” katanya.

Proses pengeringan kopi yang dilakukan Yoseph di halaman belakang rumahnya. Sumber: Mega Dwi Anggraeni.

 

Organik vs Kimia?

Menurut Pengamat Kopi, Adi Taroepratjeka, pada umumnya mayoritas petani kopi di Indonesia menggunakan pupuk alami untuk kebun kopinya. Hal tersebut dilakukan lantaran, mereka tidak memiliki akses untuk mendapat pupuk di pasaran. Harga pupuk terlalu tinggi, hingga mereka memanfaatkan kotoran ternak.

Adi juga mengatakan, sebenarnya penggunaan pupuk kimia tidak akan banyak berpengaruh pada pohon kopi. Apalagi, pupuk perlu rutin dilakukan untuk membuat pohon tetap berbuah. Baik dengan pupuk alami atau pupuk kimia. Menurutnya yang perlu diperhatikan adalah takaran.

“Lagi pula sebenarnya apa definisi organik? Kalau tanpa kimia, semua yang ada di dunia ini kimia. Kalau mengacu pada pupuk buatan dan alami, kan kotoran ternak sebelum jadi pupuk pun dibuat, diolah juga untuk jadi pupuk,” katanya.

Adi melanjutkan, meski memanfaatkan bahan alami, namun sampai sekarang petani kopi tidak bisa menyebutkan kopinya organik atau tidak. Karena sebenarnya organik hanya sebuah proses sertifikasi dengan biaya tinggi. Apalagi, imbuhnya, sertifikasi itu harus diperbaharui setiap tahun. 

“Jangankan melakukan sertifikasi, membeli pupuk aja masih sulit,” imbuhnya.

Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Peneliti Budidaya Kopi dari Institut Perkebunan (INSTIPER) DIY Yogyakarta, Tri Nugraha. Menurutnya, penggunaan pupuk kimia tidak akan merusak lingkungan dengan catatan harus diselingi dengan pupuk alami supaya tanah tetap gembur.

“Toh, akar itu kan sebenarnya tidak bisa memilih mana pupuk alami dan mana pupuk kimia. Yang diserap akar kan ion yang dihasilkan oleh pupuk organik maupun inorganik,” katanya.

Merawat kopi dengan cara organik pun, menurutnya bukan solusi untuk menghadapi perubahan iklim. Apalagi, sampai saat ini Tri mengaku belum pernah menemukan literatur yang menyebutkan kopi organik lebih tahan terhadap perubahan iklim ketimbang kopi unorganik. Katanya, yang perlu diperhatikan dalam perubahan iklim adalah penyakit tanaman kopi. Beberapa jamur bisa berkembang biak dengan cepat ketika suhu semakin menghangat ditambah kelembapan udara tinggi. Salah satunya adalah jamur Hemileia vastatrix, penyebab penyakit karat daun.

Dalam sejarahnya, karat daun pernah membunuh pohon kopi arabika yang ditanam Belanda di dataran rendah di Indonesia. Ketika itu, kata Tri, hanya pohon kopi arabika di ketinggian lebih dari 1.000 mdpl yang masih dapat bertahan. Hingga akhirnya, Belanda mengganti kopi di dataran rendah dengan menanam Robusta yang lebih tahan.

Namun kata Tri, kondisi tersebut sebenarnya dapat diminimalisir dengan rutin memangkas daun dan ranting pohon, sebagai antisipasi penyebaran penyakit. Daun yang sudah terdeteksi terkena penyakit, harus dipangkas dan dibakar untuk mematikan sporanya. 

“Atau petani juga bisa menanam kopi yang varietasnya bisa bertahan terhadap hama dan penyakit sekaligus suhu dan kelembapan udara,” ucapnya.

Menanam varietas kopi yang bisa bertahan terhadap hama, penyakit, suhu, dan kelembapan udara bisa menjadi solusi untuk para petani kopi baru. Sementara petani kopi yang sudah bertahun-tahun menggarap kebun seperti Erwin, bisa mengikuti pola yang sudah dilakukan Abah Yoseph. Erwin pun mengaku senang jika mendapatkan solusi lain untuk merawat dan menjaga ekosistem kebun kopinya. 

“Kalau ada cara lain ya, saya mau aja. Apalagi kalau dapat bantuan tenaga kerja untuk merawat kebun menjadi lebih baik,” tutur Erwin. Ekuatorial.

  

×

Find the location

Find

Result:

Latitude:
Longitude:

Perbesar:

Selesai geocoding

×

Kirim tulisan

Ingin berbagi tentang Indonesia? Mari berkontribusi dalam pemetaan ini dengan mengirimkan tulisan Anda. Bantu lebarkan pemahaman dunia tentang peranan global dari kawasan penting ini.

Cari lokasi dalam peta

Cari lokasi dalam peta