Oleh Palce Amalo
Wisata menonton mamalia raksasa di Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu. Barangkali itulah yang bakal terwujud.
Potensi wisata ini dicetuskan sejak empat tahun lalu. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ingin memanfaatkan migrasi paus di Laut Sawu sebagai destinasi wisata bahari baru untuk menambah pundi-pundi daerah. Namun, harus bersabar karena prosesnya sampai kini masih berlangsung.
“Kita masih tunggu ahli untuk diskusi sehingga belum lanjut,” tutur Kepala Dinas Pariwisata NTT, Wayan Darmawa.
Kajian awal mengenai kelayakan wisata menonton mamalia laut ini sudah berjalan dilakukan oleh Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang dan Yayasan Perkumpulan Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Konservasi Alam (Yapeka) melalui program Coral Reef Rehabilitation and Management Program-Coral Triangle Initiative (Coremap-CTI), serta pemerintah, akademisi, dan masyarakat.
Sejak dulu, perairan NTT memang menjadi kawasan pelintasan mamalia laut (ordo cetacea) yang meliputi 14 jenis paus, termasuk paus biru (Balaenoptera musculus) dan paus sperma (Physeter macrocephalus), yang merupakan jenis langka.

Adapula tujuh jenis lumba-lumba, seperti lumba-lumba totol, pemintal dan fraser; kemudian dugong, hiu paus, pari manta, dan enam jenis penyu. Pemantauan yang dilakukan BKKPN menemukan mamalia laut tersebut muncul dua kali dalam sehari, yaitu pukul 05.00-09.00 dan pukul 15.00-18.00 WITA.
Biasanya kemunculan mereka dalam satu kelompok yang beranggotakan antara 10-40 ekor untuk lumba-lumba dan 2-6 ekor untuk paus, tetapi kadang dapat ditemui paus dan lumba-lumba berada dalam satu kelompok.
Peneliti juga memantau tingkah laku mamalia laut ini mulai feeding (saat makan), aerials (penampakan dari atas permukaan laut), travelling (perjalanan), sphyhoping (muncul ke permukaan dengan tubuh tegak lurus), logging (diam di dekat permukaan air), bowriding (mengempaskan punggung ke permukaan), dan avoidance (menghindar). Selain itu, lokasi kemunculan (koordinat), jarak kemunculan dengan kapal, dan sudut absolut juga dicatat.
Mereka juga meneliti potensi pengembangan wisata berkelanjutan berbasis konservasi di taman nasional perairan tersebut. Hasil pemantauan inilah yang kemudian menjadi bahan bagi pemerintah mempersiapkan wisata menonton paus.
Sebenarnya, pengamatan terhadap migrasi paus di perairan NTT sudah ada sejak 1999 yang dilakukan Direktur APEX Environmental, Benjamin Kahn. Ia meneliti migrasi paus di perairan Pulau Komodo, Alor, dan Lembata.
Mamalia ini diketahui bermigrasi hampir sepanjang tahun, kecuali Februari dan Maret, menempuh ratusan mil dari perairan Australia menuju Laut Sawu melalui lima jalur.

Sumber: The Nature Conservancy/Dinas Kelautan dan Perikanan NTT/KKP
Asisten Deputi Pengelolaan Perikanan Tangkap Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Ikram Sangadji, menyebutkan bahwa Laut Sawu seluas 3,35 juta hektare memang dikenal sebagai distribution and rest area bagi mamalia laut dan megafauna lainnya. Kawasan itu juga merupakan salah satu perairan penting untuk menyokong potensi sumber daya ikan bagi Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP).
Tingginya produktivitas primer yg dihasilkan ekosistem terumbu karang yang didukung ekosistem mangrove dan lamun ikut memberikan kontribusi kesuburan perairan Laut Sawu.
Ikram menyebutkan hampir sebagian besar Laut Sawu, khususnya sekitar daerah slope, merupakan lokasi spawning aggregation site (SPAGs) ikan ekonomis penting. Terdapat 30 famili larva ikan ekonomis penting dalam Laut Sawu, yang menjadi penyokong utama sumber daya ikan, yaitu spill over dan ekspor larva ke wilayah pengelolaan perikanan.
Dengan potensi yang sangat besar, pengawasan dan pemantauan harus terus dilakukan terhadap kebiasaan penangkapan ikan dengan cara-cara merusak dan illegal fishing demi menjaga keberlanjutan ekosistem dan sumber daya perikanan. Namun, melihat data kondisi terumbu karang sekarang, mau tidak mau sosialisasi dan kampanye penyadaran masyarakat tidak boleh kendur dan tentu pelibatan masyarakat adat dalam pengelolaan kawasan perairan tidak boleh diabaikan.
*Liputan ini merupakan hasil dari serial kelas belajar “Journalist Fellowsea: Menjaga Laut dengan Jurnalisme Data”, yang didukung oleh The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) dan Yayasan EcoNusa.
Liputan ini telah terbit di harian Media Indonesia pada tanggal 2 Juni 2021 dengan judul “Impian Menonton Mamalia Raksasa di Laut Sawu”.
- Dua Dekade Lumpur Lapindo, Luka Ekologis yang Tak Pernah Benar-Benar Sembuh
Tragedi Lumpur Lapindo masih berdetak sebagai luka ekologis dan sosial yang belum benar-benar sembuh. - Aktivitas Pertambangan Merusak Karst dan Memadamkan Senja di Pantai Kartika
Megahnya tebing-tebing karst dari Formasi Laonti yang berbatasan langsung dengan Selat Wawonii, kawasan ini pernah menyajikan panorama memukau layaknya Raja Ampat versi mini. - Kerusakan Lingkungan Membuka Gerbang Wabah Malaria Zoonosis di Indonesia
Sepanjang tahun 2025, kasus malaria di Indonesia melonjak hingga mencapai 706.297 kasus, mengalami peningkatan sebesar 30 persen jika dibandingkan dengan tahun 2024 yang mencatatkan 543.965 kasus. - Jejak Kotor dan Luka Ekologis di Atas Narasi Hijau Proyek Geothermal Mataloko
Konflik panas bumi di Mataloko menjadi simbol kegagalan teknokratis yang dipaksakan. Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko, kini diposisikan sebagai pilar utama agenda Flores Geothermal Island. - Bantargebang Go Internasional, Dapat Predikat Penyumbang Metana Terbesar Kedua di Dunia
Berkat laju emisi mencapai 6,3 ton metana per jam, Bantargebang hanya berada satu tingkat di bawah TPA Campo de Mayo di Buenos Aires, Argentina, dengan pelepasan emisi 7,6 ton per jam. - Sengkarut Perdagangan Karbon yang Mengancam Iklim Indonesia
Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Tata Cara Perdagangan Karbon melalui Offset Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Sektor Kehutanan, dinilai justru mereduksi fungsi hakiki hutan menjadi sekadar angka-angka karbon yang bisa diperjualbelikan.




