Aruna memiliki misi untuk memerangi kurangnya transparansi yang terjadi di industri perikanan tradisional dengan membangun platform digital yang langsung menghubungkan nelayan dengan pelanggan.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi sumber daya perikanan laut mencapai 12,54 juta ton per tahun yang meliputi 37 persen dari spesies ikan di dunia. Sayangnya, potensi perairan dan kelautan Nusantara justru tidak tercermin pada kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir. Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat 50 persen klaster perikanan nelayan berada dalam status kemiskinan pada 2019. Akibatnya, jumlah nelayan semakin menurun dari tahun ke tahun.

Selain hasil tangkapan nelayan dibeli dengan harga murah, spesies perikanan yang penting secara komersial semakin berkurang sebagai salah satu dampak dari krisis iklim. Permasalahan yang dihadapi nelayan coba diatasi dengan pendekatan teknologi oleh startup Aruna Indonesia, yang berdiri sejak 2016.

Berawal dari kegelisahan atas kondisi nelayan, aplikasi Aruna Indonesia hadir untuk membantu mendistribusikan dan memasarkan hasil tangkapan nelayan. Inovasi ini berhasil menempatkan ketiga pendiri Aruna –Utari Octavianty, Farid Naufal Aslam, dan Indraka Fadhillah– dalam deretan Forbes 30 Under 30 pada 2020 lalu.

Untuk mengetahui  peran Aruna Indonesia dalam meningkatkan kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir, The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) melakukan wawancara dengan Utari Octavianty pada Kamis, 7 April 2022.

Bagaimana awal mula Anda tertarik pada perikanan di Indonesia?

Indonesia merupakan produsen perikanan terbesar kedua di dunia. Sektor ini menciptakan sekitar $4,1 miliar pendapatan ekspor tahunan dan mendukung lebih dari 7 juta pekerjaan, tetapi ada beberapa masalah utama yang menahan sektor ini untuk tumbuh. Menurut Aruna adalah rantai pasokan yang tidak efisien, data yang buruk, dan kontrol kualitas yang buruk. Dengan demikian, 2,7 juta nelayan (25%) di Nusantara hidup di bawah garis kemiskinan. Hal inilah yang kemudian mendorong saya untuk memahami sektor ini secara lebih mendalam, bersama dengan kedua Co-Founder saya.

Apa saja masalah-masalah perikanan Indonesia?

Paman saya adalah seorang nelayan dan orang tua saya menjual alat tangkap untuk nelayan. Terlahir dari keluarga yang pekerjaannya memancing serta dibesarkan di daerah pesisir, desa kecil di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang sebagian besar mata pencaharian penduduknya menjadi nelayan, membuat saya tidak asing dengan industri ini.

Dengan keseharian tersebut, saya makin menyadari bagaimana praktik-praktik tidak efisien yang telah berlangsung selama bertahun-tahun sebenarnya dapat ditingkatkan dan diperbaiki oleh teknologi. Selain itu juga kualitas hasil tangkapan yang tidak baik sering dijumpai di lapangan.

Oleh karena itu, saya dan dua pendiri Aruna yang lain memiliki misi untuk memerangi kurangnya transparansi yang terjadi di industri perikanan tradisional dengan membangun platform digital yang secara langsung menghubungkan nelayan dan hasil tangkapan mereka dengan pelanggan. Pada akhirnya, untuk membuat laut menjadi mata pencaharian yang lebih baik bagi semua orang.

Bagaimana kondisi nelayan Indonesia saat ini?

Kondisi nelayan Indonesia saat ini kurang sejahtera, angka kemiskinan Indonesia sebagian berasal dari nelayan. Aruna tidak hanya mengutamakan profit, tapi juga membantu para nelayan mendapatkan hidup sejahtera.

Selain persoalan kesejahteraan hidup, nelayan juga menghadapi ancaman krisis iklim yang berdampak pada hasil tangkapan. Bagaimana tanggapan Anda?

Ini merupakan salah satu masalah yang kami temukan di lapangan, tidak adanya transparansi membuat mereka dirugikan. Transparansi ini meliputi banyak hal seperti kepastian harga, jumlah hasil tangkapan dan juga pencatatan yang tidak tersistematis sehingga nelayan dirugikan dengan kondisi ini.

Faktanya memang saat ini dampak perubahan iklim sangat dirasakan oleh nelayan. Kondisi ini memicu musim ikan yang tidak menentu sehingga membuat hasil tangkapan menurun drastis. Nelayan harus bisa beradaptasi dengan kondisi ini. Kami akan terus mengedukasi dan mendampingi mereka menghadapi situasi ini dan pastinya kami akan selalu mengedepankan konsep keberlanjutan perikanan dan kelautan.

Bagaimana startup Aruna.id pertama kali dikembangkan?

Kompetisi bisnis yang dulu pernah kami ikuti (Hackathon 2016) membantu kami untuk bertemu dengan sejumlah tokoh terkemuka yang mampu mengarahkan kami: apa yang harus kami lakukan, kemana harus kami tuju, dan lain sebagainya. Kemudian, dukungan lain juga kami dapatkan dari kemitraan yang kami bangun dengan berbagai pemangku kepentingan. Pada akhirnya, kemitraan ini bertujuan untuk memberikan akses bagi masyarakat pesisir terhadap berbagai fasilitas infrastruktur dan keuangan yang lebih memadai.

Aruna membawa perubahan yang signifikan bagi nelayan. Pendapatan mereka meningkat drastis dari sebelumnya karena adanya platform digital yang kami kembangkan, Semua history hasil tangkap mereka dan dibeli dengan harga berapa, semuanya telah tercatat pada big data Aruna. Kami juga membantu memfasilitasi nelayan dalam banyak hal seperti akses permodalan dan akses kesehatan (BPJS & asuransi). Kami juga terus mengedukasi mereka tentang keberlanjutan ekosistem kelautan seperti tata cara menangkap ikan yang benar dengan menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan dan lainnya.

Apa saja tantangan yang dihadapi untuk mengembangkan industri perikanan berbasis digital?

Kami sadar, hampir semua nelayan kita berlatar belakang pendidikan yang rendah, bahkan ada di antara mereka yang tidak bisa baca tulis. Sedangkan bisnis kami bergerak di bidang teknologi, pasti ada kendala antara nelayan dengan teknologi yang diusung oleh Aruna. Namun, kami menempatkan tim yang senantiasa selalu mendampingi dan membina para nelayan agar semakin mahir dan terbiasa dengan teknologi yang kami sediakan.

Aruna terus membangun hubungan yang kuat dengan nelayan dan secara berkala mengecek dampak langsung yang dihasilkan oleh platform Aruna terhadap komunitas lokal. Kami berkomitmen untuk terus memberikan dukungan bagi masyarakat pesisir.

Sedikit kilas balik, pada tahun 2020 hingga 2021, ketika pandemi menyerang banyak industri dan komunitas, Aruna berhasil bertahan. Bahkan bertumbuh 86 kali lipat. Per 2022, dengan kehadiran Aruna, lebih dari 26 ribu nelayan terbantu dan menciptakan lebih dari 5 ribu pekerjaan baru di daerah pedesaan di seluruh negeri. Pendapatan nelayan meningkat 3 sampai 12 kali lipat atau bahkan lebih.

Bagaimana menjangkau nelayan di daerah pesisir yang sulit mendistribusikan hasil tangkapnya?

Kami memiliki Aruna Hub, yang merupakan tempat penampungan hasil tangkapan sementara para nelayan sebelum didistribusikan. Aruna juga siap berkolaborasi dengan nelayan dan industri lainnya.

Bagaimana ketiga pendiri Aruna berhasil masuk dalam deretan Forbes 30 Under 30 pada 2020 lalu?

Kami dinilai berhasil membangun Aruna dengan misi bersama untuk ‘menjadikan laut sebagai sumber penghidupan yang lebih baik untuk semua’. Penghargaan ini menjadi penyemangat bagi kami dan segenap Nakama Aruna untuk bergerak bersama nelayan dan masyarakat pesisir guna memajukan kesejahteraan mereka. Hal ini dilakukan dengan secara konsisten dengan mengedepankan sistem perdagangan yang adil dan transparan, terutama di sektor perikanan dan kelautan Indonesia.

Saat itu, Aruna terpilih dari 3.500 kandidat yang telah diseleksi. Beberapa alumni #ForbesUnder30 ini antara lain Palmer Luckey dari Oculus, Evan Spiegel dan Bobby Murphy dari Snapchat, Ritesh Agarwal dari Oyo, Melanie Perkins dari Canva, and K-pop band BTS.

Kami ingin para nelayan dapat hidup sejahtera, memperoleh hasil tangkapan berlimpah dan menikmati hasil tangkapan dengan harga bersaing. Selain itu, Aruna juga ingin memastikan hasil tangkapan nelayan tetap terjaga kualitasnya dan tetap dalam kondisi segar ketika diterima oleh konsumen.

Bagaimana mendorong anak muda untuk berpartipasi dalam menjaga laut dan ikut memperjuangkan nasib nelayan?

Mensejahterakan nelayan tidak mesti harus menjadi nelayan, turut terlibat menjaga kebersihan pesisir pantai juga salah satu contoh dalam mensejahterakan nelayan. Selain itu, menghargai tangkapan mereka dengan mengkonsumsi ikan karena sumber protein terbaik ada pada ikan.

Laut Indonesia ini kaya, kita berada di wilayah yang sangat strategis dengan sumber komoditas hasil laut yang berlimpah. Jadilah penggerak untuk sesama, misalnya aktif dan terlibat dalam kegiatan penghijauan di pesisir pantai, turut serta melakukan kegiatan bersih-bersih pantai serta hal kecil lainnya yang dapat dilakukan.

Mimpi Aruna adalah menjadi pelopor pertama yang merevolusi ekosistem kelautan dan perikanan yang berkelanjutan melalui teknologi. Tidak menomor-satukan profit bisnis semata, tapi bagaimana nelayan juga tumbuh sejahtera seiring sejalan dengan profit bisnis kami.

About the writer

Abdus Somad

Abdus Somad, born in Karangasem, Bali, 27 years ago. He plunged into journalism by joining Axis Student Press at Ahmad Dahlan University, Yogyakarta. After graduating from college in 2018, he worked as...

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.