Memperingati “Global Tiger Day”, kami merilis tulisan hasil investigasi terhadap perburuan dan perdagangan harimau sumatera. Tulisan terdiri dari 4 bagian.

Tumpukan potongan kayu kering berwarna cokelat dengan bintik hitam menggunung di ruang tamu Senen. Begitu pun di gudang depan rumahnya. Tak kurang dari lima karung gula pasir seberat 250 kilogram, sesak dengan potongan kayu.

“Ini sudah dua tahun gak bisa keluar. Nggak ada yang ambil karena dunia sedang Covid,” kata pria asli Jawa ini, sembari menunjukkan karung-karung berisi gaharu yang jumlahnya hampir mencapai satu ton di kediamannya.

Aroma kayu surga memang khas, apalagi kalau sudah dibakar. Senen berapa kali membakar kepingan kayu gaharu kecil selama kami di rumahnya. Ia pun berapa kali meminta kami mengibas-ngibaskan telapak tangan agar asapnya mengarah ke hidung kami. Dan benar, memang khas sekali aromanya.

“Kalau mas mau ambillah, sekilonya Rp2.000.000 saja,” kata Senen.

Senen, tinggal di Desa Lunang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Sudah belasan tahun ia keluar masuk hutan untuk berburu gaharu. “Saya menjualnya ke Riau. Sama orang Cina,” ujarnya.

Kami sengaja bersua Senen karena lelaki berusia lebih dari 55 tahun ini adalah rekan bisnis dari seorang pengepul kulit harimau sekaligus gaharu bernama Kar (65) di Kumbung, Nagari Utara. Awalnya, sebelum bersua Senen, kami sudah bertemu dengan Kar. Namun ia menolak berbicara mengenai bisnis sampingannya.

Dalihnya, ia tak pernah sekalipun berbisnis harimau terkecuali gaharu. Namun anehnya, ia mengenal banyak nama pengepul kulit harimau dan satwa langka lain di Sarolangun, Padang Aro, Kota Padang, bahkan Jambi, yang sebelumnya juga sempat kami temui.

“Saya cuma jual gaharu ke bos Cina di Riau. Tidak tahu saya soal harimau-harimau,” kata Kar di rumahnya. Ia pun mendesak kami memperlihatkan kartu identitas dan tanda pengenal jurnalis. Rautnya penuh curiga dan irit sekali bicara.

Dan tak perlu waktu lama, ia lalu berdalih ada urusan ke desa lain dan meminta kami untuk pergi. Dalam hati kami cukup kesal juga, menuju tempatnya saja, kami butuh waktu hampir dua hari.

Sosok Kar, menurut data investigator dan cerita para pengepul lain yang kami temui, adalah pengepul tua. Ia terhubung ke penampung kulit harimau di Riau, Batam, dan Jakarta. Yang membuat beda Kar dengan pengepul lain adalah, ia bisa membantu modal kepada para pemburu untuk mencari harimau sekaligus gaharu di hutan.

“Orang ini pemain gaharu besar pada masanya, sekaligus juga penampung kulit. Mainnya rapi,” kata seorang sumber yang tak bisa kami tuliskan namanya.

Lewat Senen juga, klaim Kar justru ikut terbantahkan. Semua cerita tentang Kar faktanya persis informasi awal yang kami pungut sebelumnya. Hanya saja, kata Senen, sudah hampir tiga tahun ini Kar tidak lagi menjalankan bisnis kulit. Musababnya, pandemi Covid-19 memutus permintaan dari luar. Termasuk pula gaharu.

Kar pun kini lebih menikmati berbisnis sawit dan menghabiskan hari tuanya bersama keluarga. “Sudah tua juga, gaharu saja sudah tidak main lagi,” jelas Senen.

Senen memang mengandalkan hidupnya dari gaharu. Meski ada sesekali menjual trenggiling. Namun itu sekadar tambahan saja. Katanya, ia takut risiko hukumnya jauh lebih buruk ketimbang uangnya. Meski begitu, Senen mengaku masih kerap dihubungi oleh para pengepul kulit, mulai dari Sumatera Barat, Jambi, hingga Riau. Tapi ia selalu menolak untuk menyediakannya.

“Ada si Peri (Jambi), lalu Mamad (Padang Aro) dan anaknya Nof pernah kontak saya tanya barang (trenggiling dan harimau). Ya saya jawab saja, kosong,” kata Senen.

Kelindan gaharu dan harimau

Sementara itu, Iswadi dari lembaga Lingkar Inisiatif yang selama ini juga fokus dengan konservasi harimau sumatera menyebutkan, dari pengalaman mereka investigasi sejak 2009, memang ada indikasi keterkaitan antara pebisnis gaharu dengan harimau.

Kelindan bisnis ini mulai marak dan tercium kuat pada tahun 2015. Di lapangan mereka menemukan sebagian pemburu gaharu yang bertemu muka di hutan rupanya juga menjadi pencari harimau, atau setidaknya jadi mata-mata yang bisa menjual informasi keberadaan harimau di hutan tersebut.

“Satu informasi, entah itu berupa sekadar lisan atau foto jejak, cakar, kotoran, bisa mereka tukar dengan uang ke pemburu,” kata Iswadi.

Bahkan, dari temuan lapangan dan data-data investigasi yang terkumpul, jika ada pencari gaharu, maka ia cenderung terhubung dengan penampung dan pembeli kulit harimau. Sementara pemburu trenggiling cenderung terhubung dengan penampung atau pembeli taring dan tulang harimau, termasuk pula gading.

Dan jika diselusur lebih dalam lagi, pembeli gaharu adalah orang-orang yang gemar wewangian lantaran dianggap sebagai kayu surga. Maka pembeli tulang, taring atau trenggiling adalah kelompok yang memanfaatkannya untuk kebutuhan medis, yakni pembeli dari Cina, Vietnam, Korea, atau Thailand.

“Jadi kulit cenderung larinya ke domestik (dalam negeri). Barangnya untuk dibuat karpet, hiasan, atau juga kerajinan,” kata Iswadi.

Bos besar di Jakarta

Seorang kawan yang juga lama berkecimpung dalam profesi investigator di Balai Besar TNKS pun membenarkan informasi ini. Malah, ia menyebut nama seorang pebisnis besar yang berdomisili di Jakarta yang sudah hampir lima tahun ini dalam pantauan mereka.

Kepada kami, ia meminta untuk tidak menuliskan nama target itu. Namun ia memastikan jika orang ini adalah pengepul gaharu yang menjajakan bisnisnya hingga ke luar negeri. Sekali waktu, orang ini kerap menghubungi para penampung di Sumatera untuk menanyakan barang lain seperti kulit harimau, taringnya atau tulang.

Siapa para penampung itu, sebagian besarnya tak lain adalah Sam, Kar, Mamad, Nof, atau juga Peri dan Manda. Dan mungkin juga nama lain yang baru memulai bisnis serupa. “Gaharu bisnis utama. Kalo saya tidak salah, orang ini sampai ekspor. Tapi di lain hal, ada enggang, kulit harimau, taring, dan tulang, yang ia jadikan bonus tambahan jualan,” kata sumber ini.

Gaharu memang cukup melimpah di dalam jantung hutan yang juga rumahnya para harimau. Beberapa pencari kayu surga ini adalah orang-orang yang paham betul bagaimana hutan dan segala isinya.

Mereka piawai menyeberang dari hutan ke hutan. Tahu di mana satwa melintas dan mengenal baik medan rimba. Karena itu, tidak sedikit pengepul barang haram yang kerap memanfaatkan keahlian mereka. Sekurangnya, sebatas informasi lokasi keberadaan harimau. Atau kalau mereka bersedia, maka mereka akan dimodali alat berupa senjata api dan sling untuk memasang jerat di hutan.

Pengalaman bertahun-tahun di hutan selama berburu gaharu membuat orang-orang ini khatam bagaimana perilaku harimau. Mereka tahu betul kalau harimau tidak akan pernah melewati lereng atau lembah dan cuma mau berjalan mengikuti lintasan mangsanya, seperti rusa sambar, napu, atau kijang.

Jalur jelajahnya pun jelas tak serupa dengan gajah dan badak yang suka menerabas apa pun kalau mencari makan. Sekali saja tahu di mana lintasan ini, maka bisa sepikul jerat bertebaran di tempat ini.

Tamat sudah riwayat harimau yang menguasai kawasan itu. Gaharu dapat, harimau jadi bonus. Daging jadi lauk, kulit, taring, dan tulang jadi uang.

(Bersambung ke bagian 4)

*Liputan investigasi ini merupakan hasil kolaborasi dalam program “Bela Satwa Project” yang diinisiasi oleh Garda Animalia dan Auriga Nusantara.

*Diterbitkan di Ekuatorial.com dan betahita.id sebagai liputan kolaborasi.

Baca juga:

About the writer
Harry Siswoyo

Harry Siswoyo

Born and raised in Bengkulu City, Harry Siswoyo has been working as a journalist since 2009. He started his career at a daily newspaper in Bengkulu, then working part time for Kartini Magazine and viva.co.id....

Betty Herlina

Betty Herlina

Betty Herlina started her career at the Rakyat Bengkulu from August 2008 to May 31, 2021. Currently she's active as a correspondent for DW Indonesia. Passionate about women's issues and the environment....

There are no comments yet. Leave a comment!

Your email address will not be published.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.