Kenaikan permukaan laut, kondisi tanah, eksploitasi air tanah dalam, dan pertumbuhan penduduk jadi faktor krisis air bersih belum juga dapat diatasi.

Di Semarang, krisis air bersih pernah memicu perang lima hari antara pemuda Semarang dengan tentara Jepang pada 1945. Penyebabnya karena rebutan air antara tentara Jepang dengan pemuda Semarang. Saksi bisunya reservoir Siranda yang masih ada sampai sekarang.

Reservoir Siranda yang berada Gajahmungkur merupakan tempat penampungan air yang berasal dari “Brongeboue Moedal”— mata air di Gunung Pati, Sumurrejo, Kota Semarang. Dalam bahasa Jawa, “moedal” artinya melimpah. Nama ini pula yang dipakai sebagai nama Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Tirta Moedal Semarang.

Di Gunung Pati, mata air tersebut bisa ditandai dengan adanya bangunan 10 x1 5 meter berhias batu kali yang berdiri pada 1911. Di dalamnya ada pipa-pipa berdiameter 0,5 hingga 1 meter yang mengalirkan air ke penampungan-penampungan air sebelum didistribusikan ke penjuru kota Semarang. “Hingga saat ini, Reservoir Siranda masih menjadi salah satu penampung air untuk Kota Semarang,” kata humas PDAM Tirta Moedal, Joko Purwanto.

Pertempuran berawal dari ketegangan antara pasukan Kidō Butai dan Pemuda Semarang. Ketegangan memanas usai beredarnya desas desus bahwa reservoir Siranda di Candilama diracuni tantara Jepang. Kabar burung itu beredar setelah Kidō Butai melucuti senjata dan menyiksa delapan anggota polisi istimewa yang sedang menjaga reservoir itu.

Pada 14 Oktober 1945, Karyadi, seorang dokter sekaligus Kepala Laboratorium Rumah Sakit Pusat Rumah Sakit Rakyat (Purusara) bergegas menuju Siranda untuk mengecek kebenaran desas desus itu. Meski dilarang oleh istrinya, pak dokter tetap berangkat. Sebelum Karyadi mencapai Siranda, dia tewas tertembak. Ketegangan makin memuncak sehingga pecah perang.

Sejarah itu menunjukkan betapa sulit dan pentingnya air bersih bagi penduduk Semarang. Ironisnya, sulitnya air bersih ini dibarengi dengan kondisi bahwa Semarang sejak dulu sering banjir dan air sungainya tercemar. Namun, menurut Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi—kini Kepala Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP)—sejak pembangunan 17 embung di 7 subdrainase dan nomalisasi Kanal Banjir Timur pada 2012 hingga 2020, titik-titik banjir berkurang. 

Masjid Layur, cagar budaya di Kelurahan Dadapsari—yang dalam foto yang diambil 1910 masih berdiri dua lantai dan tergenang air di halaman belakangnya, kini pada 2022, sudah tak pernah kebanjiran. Walaupun, masjid yang berdiri di kawasan kampung arab itu kini tinggal satu lantai. 

Lantai di bawahnya telah lama tenggelam seiring penurunan tanah di pesisir Semarang.

Penelitian Pei-Chin Wu, Meng Wei, dan Steven D’Hondt (2022) menyebutkan bahwa Semarang merupakan kota dengan laju penurunan tanah tertinggi kedua di dunia dengan penurunan rata-rata sebesar 3,96 sentimeter per tahun. 

Penyebabnya tanah aluvial di sebagian Semarang mudah terkikis air, beban bangunan, dan penggunaan air tanah dalam. Faktor tanah dan beban bangunan agak sulit dicari solusinya, tetapi pengendalian penggunaan air tanah lebih mudah dilakukan dengan beralih menggunakan air PDAM. 

Menurut Hendrar, Semarang kesulitan memperoleh suplai air bersih sejak dulu. Pasalnya dari sekian banyak air permukaan dari sungai dan embung, hanya sedikit yang bisa diolah menjadi air minum sesuai standar Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Jika air permukaan tercemar berat, biaya untuk mengolahnya menjadi air bersih akan sangat tinggi sehingga tidak ideal untuk dijadikan air baku.

Pertumbuhan penduduk di Semarang yang terjadi dengan cepat tidak diiringi dengan ketersediaan suplai air yang cukup. Fadjri Alihar dari LIPI menyebutkan hal ini dalam Jurnal Kependudukan Indonesia 2018. Dalam jurnal itu, dia menulis bahwa penduduk miskin dan tidak terdidik cenderung kesulitan mendapatkan akses air bersih.

Sebagai akibatnya, banyak di antara mereka yang memanfaatkan air tanah dan air sungai untuk kebutuhan minum rumah tangganya. BPS menyebutkan jumlah penduduk miskin di kota ini pada 2015 mencapai hampir 21% dari jumlah penduduk keseluruhan.

Direktur PDAM Tirta Moedal Yudi Indardo menjelaskan bahwa cakupan pelayanan air minum di Semarang dibagi menjadi empat wilayah. Sebelum waduk Jatibarang dan Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM) Semarang Barat beroperasi pada Mei 2021, suplai air untuk wilayah barat dari air baku dari Kali Garang. Untuk suplai wilayah timur dari Kali Babon dan Saluran Klambu-Kudu. 

Di selatan ada mata air yang sudah ada sejak zaman Belanda dan beberapa sumur air artesis yang memasok suplai untuk wilayah barat dan timur. Sumur artesis di selatan berada di tanah yang tersusun oleh batu pasir, konglomerat, dan breksi vulkanik, bukan di tanah aluvial seperti di kawasan pesisir. Sementara di utara dan tengah dipasok dari wilayah barat dan timur. Empat wilayah itu memliki instalasi pengolahan airnya masing-masing.

Masalahnya, air baku dari Kali Garang dan Kali Babon acap kali terkendala kontinuitas dan kualitas. Persoalan ini terjadi karena hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Garang berada Kabupaten Semarang dan hulu kali Babon ada di perbatasan Semarang-Demak. Ketika kondisi hulu rusak karena perubahan tata guna lahan. Daerah hulu tidak lagi hijau, maka suplai air akan berkurang. Sementara persoalan hulu di luar kewenangan pemerintah Kota Semarang.

Sementara saluran Klambu-Kudu yang mengambil air baku dari waduk Kedung Ombo, Grobogan, memiliki masalah kebocoran yang tinggi sehingga debit yang sering kali tak sesuai perencanaan. Seharusnya sumber air baku dari saluran Klambu-Kudu mencapai 1.200 liter/detik, tetapi realisasinya hanya 900 liter/detik.

Di selatan Semarang, kualitas sumur artesis juga semakin menurun. “Kualitas sejumlah mata air tidak bagus. Mengandung besi dan mangaan. Kami berikan chemical, sampai warga juga masih kurang bagus,” kata Yudi.

Sita Krisnandy, penduduk Bukit Kencana Jaya, Kecamatan Metaseh, mengeluhkan layanan PDAM ketika dihubungi akhir September lalu. “Air hanya mengalir dua hari sekali,” kata perempuan 40 tahun ini. Untuk mensiasatinya dia membangun dua tandon air untuk menampung air PDAM ketika sedang mengalir untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Yudi menjelaskan pada beberapa wilayah memang layanan PDAM masih bergilir. Biasanya ini terjadi ketika suplai sumber air baku di wilayah tersebut berkurang. “Bukit Kencana Jaya itu seharusnya di-cover dari timur. Tapi mungkin karena suplai terbatas, akhirnya menggunakan suplai dari barat. Karena posisinya yang paling jauh dari barat, kawasan itu mengalami pelayanan bergilir,” kata Yudi. 

Yudi optimistis bahwa dengan beroperasinya waduk Jatibarang dan Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM) Semarang Barat, pelayanan PDAM Tirta Moedal akan lebih prima. “Sudah waktunya PDAM bisa diandalkan,” kata dia. 

Waduk Jatibarang kini menjadi sumber air utama Semarang yang mengalirkan air baku dengan kapasitas 1.000 liter per detik. Pemerintah menargetkan kapasitas baru tercapai pada 2031. Kini ada percepatan peningkatan kapasitas untuk mencapai 800 liter per detik dalam lima tahun pertama. Saat ini kapasitasnya di 400 liter per detik.

“Berkat waduk Jatibarang, kami bisa mengalihkan suplai dari Kali Garang untuk Semarang Utara dan Tengah. Sementara suplai dari timur yaitu saluran Klambu-Kudu bisa juga untuk mendukung selatan yang mengandalkan instalasi pengolahan air Pudak Payung,” kata Yudi. 

Topografi Semarang yang unik, berbukit-bukit di Selatan menjadi tantangan ketika mengalihkan suplai air. Menurut Yudi, untuk mengalirkan air dari mata air di selatan tidak bisa hanya mengandalkan daya gravitasi. Setelah air yang melalui pipa dialirkan ke bawah ia mesti didorong naik ke bukit lalu ditarik lagi menuruninya. Jika pompa-pompa itu tak memiliki tekanan cukup, pasokan air akan terganggu.

Mata air di Semarang selatan saat ini juga banyak yang surut. “Turun 30-50% itu realita. Sulit karena tata guna lahan sekitarnya sudah berubah dan ini kewenangan pemerintah provinsi,” kata Yudi.

Ketika musim kering suplai pasti menurun. Bahkan ketika hujan, suplai tak bisa langsung naik, karena aliran air “mengisi” tanah sebelum normal. Hujan deras dengan curah tinggi sekalipun tidak serta merta menambah suplai air, karena tingkat kekeruhan yang tinggi menyulitkan pengolahan air permukaan. 

Kendala suplai maupun distribusi coba diatasi dengan mendorong penduduk beralih dari sumber air tanah dalam ke air permukaan. Sebab, penggunaan air tanah dalam secara berlebihan berdampak pada penurunan tanah di kawasan pesisir. Ketika air tanah diambil secara berlebihan, akuifer akan tertekan dan bisa menyebabkan terjadinya penurunan muka tanah. 

Ketika tanah sudah turun, air asin bisa masuk melalui pori-pori tanah ke lapisan akuifer yang kosong sehingga air dalam tanah yang semula tawar menjAdi asin. “Intrusi air laut sudah sampai ke Simpang Lima, pipa dan baut cepat berkarat,” kata Yudi. 

Tantangan mengubah kebiasaan penduduk yang terbiasa menggunakan air tanah dalam untuk beralih ke PDAM bukan hal mudah. Perlu edukasi dan percepatan penyambungan jaringan PDAM ke rumah warga. Yang jelas, jika peralihan tak segera dilakukan sisi utara Semarang yang saat ini sudah turun bisa jadi berada di bawah permukaan laut di masa mendatang. Krisis air bersih pun menanti.

Liputan ini didukung oleh Internews’ Earth Journalism Network melalui program Story Grant 2022 Asia-Pasifik dan pertama kali terbit di Forest Digest dengan judul ‘Mengapa Krisis Air Bersih Acap Melanda Semarang?‘ edisi Juli-September 2022.

About the writer
Amandra M. Megarini

Amandra Megarani

Amandra Megarani started her journalistic career in 2007, after graduating from Bandung Institute of Technology. She became a reporter for Tempo covering various beats, from economics to lifestyle, and...

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.