Dari kedalaman hutan hujan Kalimantan Barat, suara keteguhan masyarakat adat Dayak Iban Sungai Utik bergema hingga ke ruang-ruang diplomasi iklim dunia. Di tengah ancaman alih fungsi lahan dan deforestasi yang meluas, keberhasilan masyarakat Sungai Utik menjaga benteng hijau terakhir mereka bermula dari kepemimpinan lokal yang berakar kuat pada tradisi: Herkulanus Sutomo Manna.
Atas dedikasinya menghidupkan kembali tata kelola adat dan melindungi hutan leluhur secara mandiri, Herkulanus dinobatkan sebagai salah satu dari enam Duta Adat untuk Hutan Primer (Indigenous Peoples Ambassadors for Primary Forests) pertama di dunia oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Pengumuman bersejarah ini disampaikan dalam Konferensi Para Pihak Ke-17 Keanekaragaman Hayati (CBD COP17) di Yerevan, Armenia.
Herkulanus terpilih bersama lima pemimpin adat lain dari Amerika Latin, Afrika, dan Asia setelah melalui proses seleksi ketat terhadap 73 nominasi dari 69 organisasi internasional. Kepemimpinannya dinilai menjadi contoh nyata bagaimana penegakan hak adat dan keberlanjutan ekosistem dapat berjalan seiring.
Keteguhan Tata Kelola Adat Sungai Utik
Di Wilayah Adat Sungai Utik, Herkulanus Sutomo Manna menggerakkan pemulihan sistem tata kelola tradisional yang memadukan kearifan lokal dengan instrumen tata ruang modern. Masyarakat Dayak Iban membagi wilayah mereka dalam aturan zonasi adat yang ketat—memisahkan hutan lindung adat yang pantang diganggu dari wilayah pemanfaatan, pemukiman, dan ladang.
Pendekatan ini diperkuat dengan penerapan hukum adat terkait aturan berburu, patroli wilayah berkala oleh warga, serta pemetaan partisipatif untuk memperjelas batas-batas wilayah adat mereka. Di saat yang sama, praktik pertanian berkelanjutan terus dijalankan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mengorbankan tutupan pohon. Melalui mekanisme mandiri ini, Sungai Utik berhasil mempertahankan kelestarian hutan sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya dan mata pencaharian warga.

Pengakuan Internasional di CBD COP17
Inisiatif Duta Hutan Primer ini didanai oleh Global Environment Facility (GEF) dan diimplementasikan oleh IUCN bekerja sama dengan Forum Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hutan (UNFF). Program ini bertujuan memperkuat suara masyarakat adat di panggung kebijakan global serta mendorong dukungan yang lebih luas terhadap konservasi berbasis hak adat.
Direktur Jenderal IUCN, Dr. Grethel Aguilar, menegaskan bahwa penghormatan terhadap pengetahuan tradisional dan hak atas tanah masyarakat adat merupakan cara paling efektif untuk melindungi hutan primer. Menurutnya, pengakuan ini bukan sekadar pencapaian konservasi lingkungan, melainkan bentuk penegakan hak, martabat, dan keadilan bagi masyarakat adat yang kerap bertaruh keselamatan demi menjaga rimba.
Senada dengan hal tersebut, CEO dan Chairperson GEF, Diego Mesa Puyo, menyatakan bahwa kepemimpinan para tokoh adat memberikan pelajaran berharga bagi tata kelola lingkungan global. GEF berkomitmen memperbesar dukungan finansial dan kebijakan bagi konservasi yang dipimpin oleh masyarakat adat melalui alokasi dana GEF-9.
Solidaritas Para Penjaga Rimba Dunia
Dalam peran barunya sebagai duta global, Herkulanus bersanding dengan lima tokoh adat dunia lainnya yang memiliki rekam jejak serupa dalam mempertahankan wilayah kelola adat mereka:
Maimuna Jawara dari Suku Manding (Gambia dan Uganda) yang merevitalisasi pengetahuan ekologi tradisional terkait hutan keramat, tanaman obat, dan kawasan mangrove; Joseph Itongwa Miukumo, pemimpin Bambuti Mabuluko dari Republik Demokratik Kongo yang memperjuangkan pengakuan wilayah konservasi adat dalam kebijakan nasional; Julio Cusurichi Palacios, tokoh Shipibo-Conibo dari Amazon Peru yang mengintegrasikan advokasi hukum untuk melindungi masyarakat adat yang terisolasi; Puyr dos Santos Tembé dari Amazon Brasil yang fokus pada pemulihan hutan melalui perbenihan lokal dan agroforestri; serta Pirawan Wongnithisathaporn, perempuan adat Karen dari Thailand yang memperjuangkan kepemimpinan perempuan dan hak-hak masyarakat adat di tingkat regional Asia.
Benteng Terakhir Ekosistem Bumi
Hutan primer yang tersisa di dunia saat ini mencakup sekitar 1,18 miliar hektar dan menyimpan 30 hingga 70 persen lebih banyak karbon dibandingkan jenis hutan lainnya. Keberadaannya sangat krusial dalam menstabilkan iklim, menyaring air, serta melindungi pemukiman dari banjir dan kekeringan.
Meskipun fungsi ekologisnya tidak tergantikan, sekitar 30 persen hutan primer dunia telah hilang akibat deforestasi dan ekstraksi sumber daya. Setelah rusak, struktur ekosistem kompleks yang terbentuk selama berabad-abad tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh pemulihan hutan sekunder. Studi global secara konsisten menunjukkan bahwa kawasan hutan yang dikelola oleh masyarakat adat mengalami tingkat deforestasi yang jauh lebih rendah.
Penobatan Herkulanus Sutomo Manna dan para duta hutan primer ini menjadi penanda penting bagi diplomasi lingkungan global: bahwa masa depan hutan primer dunia berada di tangan masyarakat adat yang selama ini setia merawatnya.
- Herkulanus Sutomo Manna Dinobatkan Sebagai Duta Hutan Primer Global

- Karhutla Era Prabowo: Narasi Ulah Manusia yang Justru Didukung oleh Negara

- Dua Tahun Prabowo-Gibran: Biaya Ekologis di Balik Ambisi Pembangunan

- Biodiversity Credit Tak Selesaikan Masalah Kerusakan Keanekaragaman Hayati

- Diplomasi Basa-Basi Penanganan Kabut Asap dan Kebakaran Hutan Indonesia

- Mengawal Napas Panjang Transisi Energi dengan Ambisi 100 GWp PLTS




